Senin, 03 Oktober 2016

Kebiasaan yang Bisa Mengurangi Kebocoran Keuangan Anda



Perhatikan aliran air pada selang yang digunakan untuk menyiram bunga atau mencuci mobil anda. Bila selang yang digunakan cukup baik, maka aliran air sampai dengan utuh ke ujung selang. Namun tidak demikian jika selang tersebut mengalami kebocoran. Air akan tercecer di sekitar selang sehingga membuat volume air yang sampai ke ujung selang tidak utuh seperti yang kita harapkan lagi.

Kita pasti sudah sering mendengar nasihat keuangan mengenai dua kiat meningkatkan arus kas (cash flow) yaitu meningkatkan pendapatan dan menekan biaya. Kali ini kita akan membidik kiat kedua yaitu yaitu menekan biaya.


Kita pasti sudah berusaha sedemikian rupa untuk mengefisienkan belanja kita. Namun tanpa pengelolaan keuangan yang baik selalu saja terjadi “kebocoran”. Analoginya sama dengan ilustrasi selang air pada paragraf pembuka artikel ini. Air adalah arus kas anda, ujung selang air adalah tujuan keuangan kita dan selang air adalah pengelolaan keuangannya. Seringkali ada pengeluaran-pengeluaran kecil (maupun besar) yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Namun karena ada stimulus dari luar seperti diskon besar, bujuk rayu sales dan kita tidak menyertakan analisis wants vs needs yang baik, secara spontan kita pun sukses membelanjakan uang.

Begitu barangnya sampai di rumah dan pikiran logis kita telah kembali kita baru mulai berpikir kita sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang tersebut. Tapi ada daya, uang sudah mengalir ke tangan penjual.

Sama seperti proses manajemen lainnya, dalam pengelolaan keuangan pun ada tahapan yang tidak boleh kita lewatkan yaitu perencanaan dan evaluasi.

Membuat Perencanaan Keuangan. Ini prinsip dasar dari semua aktivias pengelolaan keuangan. Kita mestinya memiliki planning alokasi pengeluaran setiap bulan sebelum benar-benar merealisasikan belanja dan pengeluaran. Berapa banyak pengeluaran yang akan dihabiskan untuk belanja rutin, transportasi, biaya pendidikan anak, membayar tagihan-tagihan dan pos pengeluaran lainnnya. Setelah itu alokasi besar ini di-breakdown lagi ke dalam perencanaan dan strategi yang sifatnya lebih taktis. Misalnya membuat daftar belanja, menyisihkan pendapatan untuk tagihan-tagihan dan lain-lain.

Mencatat Pengeluaran. Catatlah semua pengeluaran harian, besar maupun kecil ke dalam buku catatan khusus atau pada gadget anda. Pada waktu-waktu tertentu (mingguan atau bulanan) evaluasi kembali semua pengeluaran kita. Dengan pencatatan ini kita bisa menilai seberapa hemat atau borosnya kita mengelola keuangan. Kita juga bisa melihat trendpengeluaran anda dari waktu ke waktu, biaya-biaya apa saja yang banyak menguras pengeluaran kita dan seberapa kuat anda mematuhi perencanaan keuangan yang telah dibuat. Evaluasi ini berguna untuk membuat strategi mengefisienkan belanja pada waktu-waktu mendatang.

Pengelolaan keuangan tersebut harus didukung dengan perilaku kita terhadap uang yang kita miliki. Tanpa niat untuk action, pengelolaan keuangan tinggalah sebuah konsep yang tidak akan membawa banyak manfaat terhadap arus kas kita.

Mari membangun dan mengintensifkan kebiasaan-kebiasaan untuk mencegah “kebocoran” terus menggerus dompet kita. Kebiasaan-kebiasaan tersebut antara lain:

  1. Membuat daftar belanja. Sebelum masuk ke toko untuk berbelanja kita mestinya sudah memiliki daftar belanja dan alokasi budget untuk setiap item belanja. Setelah itu bila perlu gunakan jurus “kacamata kuda”. Dengan demikian, resiko untuk berbelanja di luar perencanaan juga semakin kecil. Jika ada item yang sedang menawarkan diskon dan item tersebut diluar daftar belanja kita, namun memang merupakan kebutuhan, tidak masalah menyesuaikan kembali kembali daftar belanja kita.
  2. Comparison Shopping. Jika akan mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk kebutuhan tertentu, kita mesti memiliki perbandingan harga serta kualitas dari beberapa toko atau vendor. Paling tidak ada perbandingan dua vendor, lebih banyak lebih bagus. Jangan lupa juga mencari fasilitas layanan yang lain seperti misalnya layanan purnajual. Tidak masalah membayar sedikit mahal untuk vendor yang memberi kualitas dan layanan purna jual yang baik.
  3. Membawa makanan dan minuman dari rumah. Tidak perlu segan membawa makanan dari rumah ke tempat kerja. Ini kiat sederhana namun dapat menekan biaya konsumsi bulanan anda. Selain lebih hemat, kita juga dapat memastikan makanan tersebut lebih sehat karena diolah dengan baik di rumah sendiri. Membawa makanan juga bisa menghemat waktu istirahat kita, dibandingkan harus keluar kantor untuk mencari tempat makan lain.
  4. Membuat rute perjalanan. Perencanaan yang baik pun dapat menghemat biaya BBM dan biaya parkir. Sebelum keluar rumah pikirkanlah rute mana yang akan anda lewati sampai ke tujuan. Strategi ini lebih efektif lagi jika anda memiliki beberapa tujuan. Dalam mengatur rute, perkirakan juga ruas jalan beresiko macet. Tidak apa mengambil rute sedikit panjang atau memutar namun lancar dibanding terjebak lama dalam kemacetan. Jika memungkinkan, carilah tempat berbelanja yang dapat menyediakan semua kebutuhan sehingga tidak perlu membayar biaya parkir berkali-kali.
  5. Mengurangi kebiasaan kurang baik. Bagi sebagian orang kebiasaan seperti merokok, konsumsi minuman beralkohol atau bahkan berjudi sudah jadi bagian dari kebutuhan hidupnya. Tidak masalah sebenarnya jika pengeluaran-pengeluaran untuk kebiasaan ini juga sudah dialokasikan khusus pada saat membuat perencanaan keuangan dan ada komitmen untuk tidak menghabiskan lebih dari yang sudah dianggarkan. Namun alangkah baiknya bertindak bijak terhadap arus kas kita dengan mengurangi kebiasaan-kebiasaan ini. Bisa mulai dengan membatasi budget yang akan dihabiskan untuk kebiasaan kurang baik secara kontinyu.
  6. Berolahraga. Mungkin anda akan bertanya apa hubungannya penghematan dan olahraga. Menggerakkan tubuh lewat olahraga secara rutin pun adalah salah satu investasi terhadap kesehatan jangka panjang kita. Seringkali kita menghabiskan biaya untuk membeli obat sakit kepala, obat darah tinggi atau obat maag atau mengganti pakaian yang sudah kekecilan. Pengeluaran-pengeluaran seperti ini sebenarnya bisa ditekan jika kita hidup lebih sehat dengan berolahraga rutin.

Membangun kebiasaan-kebiasaan ini memang tidak mudah. Namun seiring dengan komitmen dan niat untuk terus mencoba, maka lama kelamaan kebiasaan ini akan terbentuk dengan sendirinya. Kita akan semakin termotivasi saat melihat jumlah uang yang bisa anda selamatkan dari “kebocoran” tadi.
Jangan lupa mengalokasikan uang yang bisa dihemat ini ke dalam tabungan atau instrumen investasi yang lain untuk meningkatkan nilai aset anda. Dengan demikian kebiasaan-kebiasaan yang kita bangun ini memiliki nilai terhadap masa depan keuangan kita. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: money.usnews.com 

pertama kali ditayangkan di blog kompasiana.com

Senin, 26 September 2016

Periksa Rasio Keuangan Sebelum Berinvestasi



Dalam manajemen keuangan kita mungkin sudah sering mendengar nasihat “Jangan menciptakan uang, tapi ciptakan aset.” Memang arus kas yang positif bukan berarti segalanya. Sekalipun kita selalu mampu membelanjakan uang lebih sedikit dari pendapatan, tanpa upaya untuk membangun aset, kita tetap berada pada bayang-bayang kesulitan pada masa depan.

Makanya banyak orang yang bekerja keras dan menjalani hidup dengan baik merasa tidak menikmati hasil kerja kerasnya. Setelah arus kasnya ditelisik, rupanya semua pendapatannya hanya habis untuk membayar tagihan-tagihan dan belanja rutin saja. Kalaupun ada pendapatan yang ditabung itu hanya   menyelamatkan “uang sisa” saja tanpa perencanaan yang baik.


Oleh karena itu setiap orang yang memiliki pendapatan juga harus membangun investasi. Pada waktunya nanti investasi akan sangat mendukung kondisi keuangan kita. Manfaat dari investasi antara lain:

  1. Menjaga agar harta kita tidak segera tergerus inflasi. Misalnya dengan angka inflasi tahunan sekitar 8% maka semestinya kita memiliki instrumen investasi yang memberikan imbas hasil di atas 8% per tahun. Jika tidak maka nilai harta kita juga akan cenderung berkurang.
  2. Menambah Pendapatan. Investasi dapat menjadi alternatif pendapatan tambahan. Misalnya kita membeli satu unit rumah lalu mengontrakkannya pada penyewa. Atau dengan berinvestasi pada saham, setiap akhir tahun kita akan menerima tambahan pendapatan berupa deviden.
  3. Capital Gain. Investasi juga dapat berguna untuk menambah nilai harta kita. Misalnya kita membeli satu unit rumah lalu beberapa tahun kemudian rumah tersebut dijual kembali dengan harga lebih tinggi, maka selisih harga inilah yang akan menjadi capital gain bagi kita.


Namun sebelum memulai investasi apalagi yang membutuhkan dana besar, sebaiknya kita memeriksa kembali bagaimana posisi keuangan saat ini. Seperti item-item lain pada pos pengeluaran, investasi juga akan menguras arus kas kita. Jadi harus ada skala prioritas, kemudian mengetahui berapa besar arus kas yang akan kita gunakan untuk berinvestasi dan tipe investasi seperti apa yang sesuai dengan kemampuan kita mengelola resiko. Untuk investasi properti misalnya, dana yang dibutuhkan relatif lebih besar dibanding memulai dengan investasi yang lebih ringan seperti membeli surat berharga atau komoditas seperti logam mulia.

Hal-hal tersebut harus sudah diperhitungkan sebelumnya untuk memastikan setelah mengalokasikan pendapatan, masih ada arus kas yang tersedia untuk biaya hidup seperti biasanya. Jangan sampai karena investasi kita justru mengorbankan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih penting.
Dwita Ariani, seorang Financial Planner dalam bukunya Your Money Your Attitude menulis paling tidak ada tiga rasio keuangan yang harus kita ketahui sebelum memulai berinvestasi:

Rasio Utang
Rasio utang adalah jumlah pendapatan yang kita gunakan untuk membayar pokok pinjaman plus bunganya dibanding jumlah pendapatan kita. Menurut Dwita Ariani rasio utang mestinya tidak lebih besar dari 30%. Ada juga referensi lain yang menuliskan 40%. Artinya pendapatan yang digunakan untuk membayar utang idelanya berada pada kisaran 30%-40%. Sisa pendapatan sebesar 60%-70% digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari. Jika rasio utang kita melebihi rasio tersebut, kemungkinan besar kita akan keteteran jika arus kas kita terbebani dengan tambahan pengeluaran lain termasuk menambah investasi baru.

Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah perbandingan antara aset-aset kita yang bisa segera dilikuidasi seperti misalnya deposito jangka pendek, tabungan darurat dan tabungan lainnya, dibanding dengan pengeluaran selama sebulan. Rasio ini untuk menghitung berapa lama kita mampu membiayai hidup kita jika pendapatan tiba-tiba terhenti. Jika rasio likuiditas 6 misalnya, artinya aset kita masih bisa membiayai hidup kita selama selama enam bulan jika kita tidak memiliki pendapatan sama sekali. Menurut Dwita, idealnya rasio likuiditas ini berada pada angka 12 ke atas. Mayoritas masyarakat kita masih berada pada rasio 3-4 saat ini.

Rasio Pengeluaran dibanding Pendapatan
Sesuai judulnya, rasio ini membandingkan jumlah pengeluaran (khususnya untuk belanja dan membayar kewajiban) dan pendapatan dalam sebulan. Maksimal rasionya berada pada level 90%. Idealnya di kisaran 70%-80%. Artinya kita masih memiliki 20%-30% pendapatan yang bisa digunakan untuk berinvestasi. Semakin kecil rasionya artinya banyak pendapatan yang bisa dialokasikan untuk berinvestasi.

Nah, jika ketiga rasio keuangan di atas sudah berada kisaran yang ideal, artinya kita sudah dapat mengalokasikan sebagian pendapatan untuk membangun investasi. Namun hati-hati jika ada rasio keuangan yang belum ideal. Misalnya rasio utang masih berada di atas 40%. Artinya kita masih harus memprioritaskan pendapatan untuk menyelesaikan utang-utang kita.

Atau misalnya rasio pengeluaran dibanding pendapatan masih mendekati 100%, artinya kita masih harus mengefisienkan pengeluaran terlebih dahulu atau meningkatkan pendapatan dengan penghasilan tambahan. Dengan demikian kita tidak terjebak pada kesulitan mengelola arus kas gara-gara membangun investasi.

Penting juga untuk selalu meningkatkan rasio likuiditas agar jika sewaktu-waktu terjadi masalah sehingga pendapatan kita terganggu, kita masih memiliki dana cadangan untuk melanjutkan kehidupan sebelum pendapatan stabil kembali.

Namun bukan berarti kita mesti menunggu rasio-rasio keuangan tersebut ideal dahulu baru mulai membangun aset. Jika belum memungkinkan untuk berinvestasi, kita tetap bisa menyisihkan pendapatan ke dalam tabungan-tabungan sesuai dengan tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang kita. (PG) 

---

ilustrasi gambar dari: referenceforbusiness.com 
pertama kali ditayangkan di blog kompasiana.com

Jumat, 09 September 2016

Mario vs Ario, Siapa yang Menang?


Siang kemarin (9/9) pada program Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Mario Teguh memberi klarifikasi mengenai berita kurang sedap yang menghantam dirinya beberapa hari terakhir ini. Berita tersebut mencuat setelah Ario Kiswinar mengakui Mario Teguh sebagai ayahnya dan dirinya telah ditelantarkan selama ini. Pengakuan itu diekspos dalam program Hitam Putih Trans7 Rabu (7/9) lalu.
Ada beberapa hal yang bertentangan, jika kita mencoba membandingkan pernyataan Mario Teguh dan pernyataan Ario. Tapi tulisan ini bukan untuk menelisik statement versi siapa yang paling benar. Itu pekerjaan yang sulit.


Klarifikasi Mario Teguh menjadi menarik karena motivator yang terkenal dengan Salam Super itu kemudian memberi tantangan kepada Ario untuk melakukan tes DNA. Ini menjadi seperti statement kunci yang diharapkan bisa membuktikan kebenaran dan membuka mata pemirsa sekalian.

Menurut pengakuan Mario Teguh sebenarnya permintaan melakukan tes DNA sudah dilakukan oleh Mario Teguh kepada Aryani (mantan istrinya) saat Ario masih kecil. Namun Aryani tidak pernah mengizinkannya. Rupanya saat itu, ayah dan ibu ini sudah mengalami perbedaan pendapat mengenai status Ario. Ini indikasi sebuah skandal rumah tangga mungkin saja telah terjadi.

Saya berandai-andai, jika saja saat itu tes DNA benar-benar dilakukan, mungkin masalah ini tidak akan muncul ke permukaan. Namun situasi dan kondisi keduanya 30 tahun lalu tentu berbeda dengan saat ini. Memang Aryani-lah pemegang kunci lemari kebenarannya, tetapi permintaan seperti itu tentu sangat emosional bagi seorang wanita, entah Aryani berada di pihak yang salah atau benar.
Kita belum tahu apakah tantangan Mario Teguh ini akan disambut oleh Ario atau tidak. Tetapi mari kita melihat masalah ini dari perspektif yang lain.

Jika diamati, untuk kasus-kasus seperti ini media memiliki peran yang sangat strategis. Media telah menjadi semacam jembatan sekaligus pemisah antara manusia yang satu dan manusia yang lain. Jika saja program acara Hitam Putih Trans7 tidak mengekspos curhatan Ario, kita mungkin tidak akan pernah tahu masa lalu seorang Mario Teguh. Mungkin juga Mario Teguh tidak akan memberi perhatian khusus kepada Ario seperti saat ini.

Memang peradaban telah berubah. Kaum yang tidak mau mengikuti perkembangan akan tergerus dengan sendirinya. Kita hidup pada zaman dimana nilai-nilai silahturahmi telah beralih rupa sedemikian rupa. Jika dulu silahturahmi diaktualisasikan dengan kunjungan dan sapaan fisik, saat ini karena manusia semakin sibuk dan teknologi komunikasi telah berkembang, silahturahmi dapat dilakukan lewat gadget dan media sosial.

Dahulu, telepon kita hanya dapat mengantarkan suara tanpa ekspresi, kini teknologi kita dapat menghadirkan ekspresi dan emosi hampir sama dengan aslinya. Padahal di dunia nyata kita sedang terpisah ribuan kilometer jauhnya.

Tapi di sisi lain, hubungan interpersonal dengan model seperti ini, dimana teknologi menjadi media komunikasinya juga bisa membawa dampak lain bagi kita. Kita telah jatuh pada gaya hidup dimana nilai-nilai silahturahmi direduksi sedemikian rupa menjadi tidak lebih besar dari ukuran gadget atau pesawat televisi kita.

Sudah jamak kita lihat, dua pihak yang sedang berpolemik sahut menyahut lewat media. Padahal mungkin saja masalah mereka lebih cepat diselesaikan jika kedua pihak bertemu, jauh dari sorotan kamera dan intervensi pembawa acara. Pembicaraan akan lebih cair jika kedua pihak mampu berbicara dari hati ke hati. Sekalipun tidak terjadi titik temu antara keduanya, itu hanya akan jadi milik mereka.

Berbeda dengan sahut menyahut lewat media, dimana ada banyak kepentingan yang terlibat di dalamnya. Media tentu punya misi tambahan untuk menggaet audiens sebanyak-banyaknya. Dan pada zaman ini, audiens hanya akan melirik jika media menghadirkan sesuatu yang berbeda, emosional dan sensasional.

Jadi menurut saya kalaupun nantinya Ario menyambut tantangan Mario Teguh untuk melakukan tes DNA, masalah tidak akan serta merta selesai. Memang di satu sisi, tes DNA akan membuktikan bagaimana status hubungan biologis Mario Teguh dan Ario. Tapi itu hanya kebenaran pada satu sisi saja. Kebenaran-kebenaran lain yang telah tertelungkup 30 tahun yang lalu, hanya akan diketahui oleh Mario Teguh dan Aryani saja, bahkan mungkin masih ada yang disembunyikan satu sama lain.

Statement Mario Teguh dan Ario tiga hari ini, hanya kembali membuktikan satu hal. Media telah memainkan peranannya dengan baik. Jadi jika hendak diibaratkan seperti pertarungan, Mario Tegus Vs Ario Kiswinar, kita sama-sama tahu pemenangnya adalah… media. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: tribunnews.com
tulisan ini pertama kali ditayangkan di blog kompasiana.com

Kamis, 08 September 2016

Tips Mengurangi Kebiasaan Menunda Pekerjaan


Banyak orang yang tergolong dalam kaum “suka menunda pekerjaan”. Saya juga kadang-kadang dihinggapi “penyakit” yang satu ini. Padahal kita sama-sama tahu, penundaan demi penundaan seringkali jadi awal dari kekacauan manajemen pekerjaan baik di lingkungan kerja, di rumah atau di lingkungan kita yang lain.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, penyebab “suka menunda” ini bermacam-macam.
Bisa jadi karena terlalu banyak berpikir sebelum bekerja. Akhirnya energi terkuras untuk berpikir dan tidak ada lagi yang tersisa untuk memulai pekerjaan, tertunda-lah pekerjaan kita. Kemudian manajemen waktu yang kurang baik, sehingga pada satu waktu kita memiliki banyak waktu luang dan pada lain waktu kita keteteran karena banyak tugas yang harus diselesaikan dalam waktu hampir bersamaan. Akibatnya kita harus memilih salah satu tugas dengan menunda tugas yang lain.

Penyebab lainnya adalah keengganan untuk memulai pekerjaan karena malas, tidak suka dengan pekerjaan yang akan dilakukan, takut gagal atau takut mengacaukan pekerjaan itu.

Nah, setelah mengenali penyebab penundaan tersebut, mari kita lihat bagaimana tips-tips mengurangi kebiasaan ini.

Memulai
Ya, cara paling pertama mengurangi kebiasaan menunda adalah dengan memulai kebiasaan baru, yaitu langsung memulai. Buatlah action atau tindak lanjut segera begitu mendapat tugas baru. Segeralah menghubungi seseorang jika anda merasa dia adalah klien potensial, segera membuat janji ketemu jika klien merespon, segera selesaikan berkas-berkas pekerjaan anda sebelum jadi tumpukan yang sulit anda sentuh, segera kunjungi kolega atau kerabat saat memiliki waktu, segera bangun dari tempat tidur begitu weker berbunyi. Pokoknya, hindari sebisa mungkin alasan untuk menunda pekerjaan.

Membuat Perencanaan
Seringkali keengganan memulai pekerjaan juga disebabkan cara pandang kita terhadap pekerjaan tersebut. Seringkali pekerjaan dipandang sebagai sebuah tugas mahaberat yang sulit dan membutuhkan waktu panjang. Padahal pada dasarnya semua pekerjaan memang akan terasa berat jika kita tidak memiliki perencanaan yang baik untuk mengelolanya. Bagilah tugas besar itu menjadi tugas-tugas yang lebih kecil dan buatlah deadline, kapan tugas-tugas kecil tersebut harus diselesaikan. Jika bekerja dalam tim, anda bisa memanfaatkan teman-teman yang lain untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Misalnya untuk membuat proyeksi arus kas setahun ke depan, anda bisa memulai dengan mengamati trendarus kas tahun berjalan, kemudian membuat rencana belanja, target penjualan, menghitung penyusutan aktiva dan seterusnya. Melihat trend arus kas tahun berjalan pun pun bisa dibagi-bagi lagi menjadi tugas yang lebih kecil, seperti mengamati pendapatan dan biaya setiap bulan, melihat kapan bulan-bulan terjadinya lonjakan pembelian dan seterusnya.

Selesaikan setiap tugas yang lebih kecil secara tepat waktu. Jika memungkinkan bagilah tugas tersebut atau beri delegasi kepada tim kerja anda dan lihatlah, tanpa sadar tugas besar tadi perlahan-lahan akan terselesaikan.

Membuat Reminder
Tips berikut ini sangat membantu kelancaran tips-tips sebelumnya. Saya pun selalu menggunakan tips ini. Buatlah reminder sebanyak mungkin untuk membantu anda (terutama yang memiliki komplikasi penyakit “suka menunda” dan “suka lupa”) mengatur tugas-tugas anda. Catatlah semua janji, rencana kerja baik yang rutin maupun tidak rutin, rencana keluarga dan semua rencana lain yang membutuhkan perhatian anda. Gunakan media yang akrab dengan anda. Handphone, komputer, kalender meja, sticky note, buku agenda kerja dan media apapun yang memungkinkah anda mengingat semua rencana pekerjaan dengan mudah.

Untuk tugas-tugas khusus pasanglah alarm, timer  atau reminder lainnya yang membantu anda tidak melewatkan tugas tersebut. Pasang paling tidak sehari sebelumnya agar masih ada waktu jika tugas tersebut membutuhkan persiapan khusus.

Sebagai contoh, untuk tugas-tugas kantor saya biasa membuat agenda kerja mingguan lalu agenda mingguan ini di-breakdown lagi dalam agenda kerja harian agar bisa dipantau setiap hari.
Untuk tugas tambahan atau tugas mendadak yang tidak bisa langsung dicatat pada buku agenda, saya menggunakan HP untuk mencatatnya plus melengkapi note tersebut dengan alarm khusus. Cara-cara ini membantu mengingat dan memilah mana tugas yang harus segera dikerjakan dan mana tugas yang bisa dikerjakan kemudian. Jadi sekalipun ada penundaan, rencana pekerjaan kita tidak akan menjadi kacau balau.

Kemudian jika ada tugas yang terlewat dan masih memungkinkan untuk mengejar deadline-nya, pasang kembali pada reminder berikutnya.

Kerjakan yang Sulit Dahulu
Nah, tips yang satu ini cocok untuk mereka yang suka menunda karena enggan atau malas bekerja. Pada kesempatan pertama, segera lakukan tugas-tugas yang paling anda jauhi atau yang paling sulit. Dengan demikian pekerjaan selanjutnya tidak akan terlalu memberatkan lagi. Misalnya: Besok anda harus berjumpa dengan klien anda yang paling cerewet dan menjengkelkan. Nah, pada pagi hari saat energi dan fokus anda masih prima, mestinya klien inilah yang pertama kali harus anda temui. Klien-klien lain bisa ditemui belakangan karena relatif lebih mudah ditangani. Demikian pula untuk tugas atau pekerjaan yang lain.

Jangan Memulai Sesuatu yang Tidak bisa Diselesaikan
Maksud dari tips ini adalah apabila anda memiliki kesempatan untuk memilih proyek atau pekerjaan, pastikan yang anda pilih itu sesuai dengan kapasitas dan kompetensi anda. Jangan sampai memaksakan diri mengambil pekerjaan yang tidak bisa anda selesaikan hanya karena gengsi atau tergoda insentif yang besar. Dengan bekerja sesuai kemampuan anda meminimalkan resiko menunda-nunda pekerjaan yang ujung-ujungnya dapat merugikan diri sendiri. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: citylabs.com

Senin, 22 Agustus 2016

Jangan Lakukan Ini Saat Sedang Emosi


Saat amarah sedang membuncah di kepala, seseorang bisa saja jadi lupa diri sehingga meneriaki orang lain dengan kata-kata yang kurang pantas. Begitu pula saat sedang jatuh cinta, semua yang dilakukan oleh orang yang dicintai nampak begitu baik di depan mata.

Memang saat diri kita diliputi oleh emosi mendalam baik sedih, marah, takut, bahkan gembira, pikiran-pikiran kritis bisa kurang bekerja dengan baik.


Oleh karena itu sebaiknya hal-hal yang penting menyangkut kehidupan jangan diputuskan pada saat kita sedang diliputi emosi. Bisa jadi saat itu kita merasa keputusan tersebut sudah sesuai. Namun ternyata setelah pikiran bekerja lebih baik, barulah terlihat cacat cela pada keputusan-keputusan tersebut.

Berikut beberapa area kehidupan yang bisa jadi pemicu meluapnya emosi kita. Sebaiknya saat itu terjadi jangan mengambil keputusan tergesa-gesa.

Karir/usaha
Jika menjadi pimpinan, kita ikut menentukan nasib tim atau bawahan kita, atau bahkan nasib perusahaan. Oleh karena itu hindari mengambil keputusan pada saat sedang marah atau pikiran kalut akibat masalah di luar kantor dan di dalam kantor. Kadang ada karyawan yang menjengkelkan dan sering bikin naik pitam. Tapi saat karyawan ini hendak diberi punishmentatau bahkan PHK sekalipun, pastikan keputusan itu bukan diambil hanya karena emosi sesaat melainkan dalam keadaan pikiran yang jernih untuk menganalisa kinerja karyawan tersebut dikaitkan juga dengan peraturan atau policy perusahaan.

Jangan pernah mengambil keputusan penting yang mempertaruhkan usaha anda hanya karena emosi. Misalnya karena merasa gengsi tersaingi atau marah karena kompetitor berhasil menyabet proyek yang selama ini anda incar. Lalu setelah itu anda begitu saja memutuskan melakukan kredit besar-besaran untuk mengambil proyek lain tanpa analisa usaha yang baik.

Jika anda adalah karyawan, lain lagi masalahnya. Jika tidak sesuai lagi dengan passion atau kemampuan, anda bisa saja meminta resignatau pindah divisi, tetapi sebaiknya keputusan tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Misalnya karena berseteru dengan seorang rekan kerja atau tidak cocok dengan boss baru, langsung minta keluar dari perusahaan. Kalaupun harus resign, pastikan anda telah memikirkannya masak-masak dan siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, seperti pendapatan yang terhenti sementara atau kemampun kita mencari sumber pendapatan baru dan lain-lain.

Keuangan

Emosi yang dimaksud di sini bukan hanya amarah atau sedih. Perasaan gembira yang meluap-luap juga bisa menumpulkan logika berpikir kita.

Keputusan-keputusan besar dalam hidup seringkali terkait dengan keadaan keuangan kita. Mestinya segala keputusan keuangan yang kita ambil juga telah dipikirkan dengan baik. Tidak terlalu sulit sebenarnya karena uang terkait langsung dengan angka-angka dan segala hal menyangkut kuantitas biasanya ditempatkan di otak kiri, tempat pemrosesan rasio dan perhitungan.
Namun seringkali emosi karena kegembiraan atau harapan yang terlalu tinggi membuat kita melupakan hal tersebut. Misalnya penawaran investasi yang menggiurkan, membeli aset baru, memberi hadiah atau donasi, membuka asuransi baru dan lain sebagainya. Mungkin karena iming-iming dan rayuan pihak ketiga yang menarik membuat kita mengambil keputusan tanpa pikir panjang lagi.

Pada beberapa kasus penipuan online kita juga dapat dengan mudah menemukan orang yang begitu mudah mengucapkan sayonara terhadap rupiahnya hanya karena kasihan atau cinta buta kepada seseorang yang belum dikenal sepenuhnya. Memang mungkin juga ada faktor ketidakpahaman, tetapi penipu-penipu di luar sana cenderung menggunakan “emosi” calon korban sebagai modal utama kejahatan mereka.

Kehidupan Pribadi/Keluarga
Mungkin sebagian besar keputusan-keputusan salah karena emosi terjadi pada area ini. Selain karena sebagian besar waktu kita dihabiskan pada area ini, memang kehidupan pribadilah tempat dengan space paling luas untuk mengumbar emosi kita.

Bertengkar dengan pasangan hidup, orang tua yang memarahi anak-anaknya atau anak yang ngambekterhadap orang tuanya adalah hal-hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan. Namun bagaimanapun juga berhati-hatilah mengambil keputusan saat suasana genting itu sedang terjadi. Memutuskan untuk menceraikan pasangan hidup, mengirim anak mengambil pendidikan jauh di luar kota, meninggalkan orang tua karena tidak menyetujui pilihan karir kita, atau memutuskan tali persahabatan yang sudah terjalin lama adalah contoh keputusan-keputusan besar dalam hidup karena menyangkut orang-orang terdekat dalam hidup kita.

Kalaupun harus terjadi demikian, pastikan kita telah memikirkannya dengan tenang dan menggunakan seluruh akal sehat kita, bukan hanya karena emosi sesaat. Jangan mengirim anak jauh-jauh hanya karena kita tidak tahan dengan kenakalan anak dan menganggap itu sebagai satu-satunya  cara untuk membuatnya jera. Jangan berpisah dari pasangan jika komunikasi belum dibangun secara mendalam dan kedua belah pihak belum memikirkan dengan matang segala konsekuensi yang terjadi karena perpisahan tersebut.

Yang Harus Dilakukan
Memang tidak semua orang mampu mengendalikan diri dengan baik pada saat emosi terjadi. Ada orang yang saat sedang marah harus menyalurkan energi meluap-luap tersebut pada sasaran amarahnya. Kalau tidak, yang bersangkutan bisa sakit kepala. Itu wajar rasanya.

Yang penting adalah tidak membuat statement atau keputusan-keputusan besar pada saat itu terjadi.
Seiring waktu, setiap orang pasti kian memahami bagaimana kiat menyalurkan emosinya dengan baik agar tidak berlebihan dalam memberikan respon pada suatu keadaan. Saya sendiri sedikit terbantu dengan kepribadian phlegmatis yang cenderung kurang suka melakukan konfrontasi secara langsung dengan sumber masalah. Jadi jika sedang marah atau sedih saya lebih suka mencari kesibukan lain sambil menjernihkan pikiran agar mampu melihat masalah yang terjadi dengan lebih terang sebelum mengambil keputusan.

Beberapa orang lain mungkin butuh suasana baru, refreshing atau menyalurkan emosi kepada hobi dan aktivitas lainnya. Beberapa orang mungkin juga harus menarik diri dari rutinitas atau lingkungan yang memicu emosi beberapa saat sampai bisa berpikir dengan jernih.


Kalaupun kita merasa cukup sulit berpikir jernih pada saat emosi melanda, jangan pikirkan yang lain-lain dahulu. Ingatlah saja orang-orang tercinta di sekitar kita. Mereka adalah orang-orang pertama yang merasakan konsekuensi dari segala keputusan kita ambil. Mungkin itu bisa sedikit membantu. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: gambar dari: share.nanjing-school.com

pertama kali ditayangkan di blog kompasiana.com

Selasa, 02 Agustus 2016

Apa Warna Topi Berpikir Anda?



Beberapa waktu yang lalu saya bersama beberapa kawan kantor mengikuti pelatihan singkat mengentai Manajemen Konflik yang dibawakan oleh salah satu guru besar Universitas Hasanuddin, Prof. WIM Poli.  Pelatihan bertema Manajemen Konflik ini sebenarnya bukan pelatihan yang asing bagi kami, hanya saja kali ini pendekatannya sedikit berbeda karena dibawakan oleh seorang akademisi dan pakar manajemen.

Salah satu materi yang dipaparkan adalah bagaimana mengelola konflik yang terjadi pada suasana-suasana formal seperti misalnya pada forum pengambilan keputusan. Dalam suasana seperti itu perbedaan pendapat adalah suatu hal yang wajar karena setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda dalam menyikapi masalah dan pemecahannya. Namun dengan mengenali cara berpikir setiap orang, potensi konflik dapat diminimalkan dan peluang pemecahan masalah yang paling baik dapat dimaksimalkan.


Six Thinking Hatsatau Enam Topi Berpikir adalah salah satu teori yang menarik untuk kita simak. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Edward de Bono, seorang penulis buku dan pakar psikologi yang berasal dari Malta. Menurut Edward de Bono, ada enam topi berpikir yang biasa digunakan saat manusia menyikapi sebuah permasalahan dan pemecahannya. Setiap dari kita memiliki kecenderungan berpikir yang disimbolkan dengan warna pada topi-topi berpikir tersebut.
Enam topi berpikir ini paling mudah terlihat pada sebuah forum seperti rapat atau pertemuan yang membahas pencarian solusi terhadap masalah-masalah tertentu. Mari kita lihat satu per satu.

Topi Putih
Seperti kertas putih yang polos dan siap untuk menerima warna apapun yang diberikan kepadanya, pemilik topi putih adalah orang yang jeli terhadap informasi. Dalam sebuah forum, pemilik topi putih selalu bertanya dan menggali informasi dan data yang dibutuhkan untuk mengurai permasalahan. Tidak selalu harus berujung kepada kesimpulan atau analisis, tapi mereka cukup puas menerima informasi-informasi dari orang lain.

Topi Kuning                          
Pemilik topi kuning adalah orang-orang yang selalu optimis. Dalam memandang permasalahan dan solusi-solusi yang mungkin dihasilkan, mereka selalu menyorot sisi manfaat dan alasan-alasan mengapa solusi tersebut harus dilaksanakan.

Topi Hitam
Sebaliknya, pemilik topi hitam adalah mereka yang memandang solusi secara kritis malah cenderung negatif. Jika ada alternatif solusi yang dihasilkan mereka adalah orang pertama yang menemukan resiko atau peluang kegagalan dari kiat-kiat tersebut. Misalnya: biaya yang terlalu mahal, resiko yang terlalu besar, ada kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dan seterusnya.

Topi Merah
Jika ada orang yang senang menggunakan intuisi atau membuat pernyataan tanpa merujuk kepada data-data yang ada, hampir bisa dipastikan mereka adalah orang-orang bertopi merah. Pemilik topi ini cenderung menggunakan perasaan atau feeling. Jika mereka merasa klopdengan sebuah ide, mereka mendukung habis-habisan ide tersebut. Begitu pula sebaliknya. Memang, seringkali pernyataan-pernyataan intuitif lahir dari pengalaman. Tapi bagaimanapun juga, data adalah bagian penting dari pengambilan keputusan sebuah organisasi.

Topi Hijau
Pemilik topi hijau adalah orang-orang yang cenderung berpikir out of the box. Mereka enggan mengikuti jalur berpikir mainstream dan selalu mencari cara-cara berpikir atau bekerja yang baru. Orang-orang kreatif dalam sebuah tim kerja pada umumnya adalah pemilik topi hijau ini. Pernyataan mereka bisa jadi pendapat yang melawan arus atau ide yang selama ini belum pernah terpikirkan.

Topi Biru
Pemilik topi biru adalah mereka yang lebih tertarik kepada tahap-tahan kerja dan prosedur-prosedur dalam menghadapi masalah. Pada sebuah rapat mereka memberi perhatian kepada proses-proses pengambilan keputusan dan tindak lanjut dari keputusan-keputusan tersebut. Oleh karena itu pemilik topi biru cenderung reflektif dan mampu berpikir secara komprehensif, sehingga mereka sesuai untuk memimpin jalannya rapat.

Nah, setelah menyimak aneka warna topi berpikir ini, kita mulai dapat mengenali warna topi berpikir masing-masing. Bagaimana kecenderungan kita saat menyikapi sebuah permasalahan ketika berdiskusi atau rapat bersama kolega dan orang-orang di sekitar kita?

Cara berpikir dan sikap yang dominan muncul kemungkinan besar adalah warna topi berpikir kita. Tapi  mengganti-ganti topi berpikir sangat dimungkinkan.

Mengenali topi berpikir diri sendiri lalu mengenali topi berpikir orang lain penting untuk membantu kita dalam sebuah pengambilan keputusan. Saat rapat berjalan terlalu mulus dan kelihatan semua orang sedang sependapat pada suatu masalah, anda bisa saja mengganti topi berpikir menjadi topi merah untuk melihat resiko-resiko yang terjadi dan mengajak forum berpikir lebih kritis.
Atau jika rapat deadlock, anda bisa mengganti topi berpikir dengan topi kuning untuk membangkitkan mood peserta rapat atau topi hijau untuk mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang baru.

Jika anda didaulat menjadi pemimpin rapat, sebaiknya mengenakan topi biru untuk mengawal jalannya lalu lintas diskusi dan jangan lupa mengenali warna topi-topi peserta rapat agar anda dapat menyimpulkan pemikiran mereka dengan tepat. Dengan mengenali topi berpikir ini, perbedaan pendapat adalah sarana untuk menguji keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam pengambilan keputusan nantinya. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: floridacsi.com