Senin, 22 Agustus 2016

Jangan Lakukan Ini Saat Sedang Emosi


Saat amarah sedang membuncah di kepala, seseorang bisa saja jadi lupa diri sehingga meneriaki orang lain dengan kata-kata yang kurang pantas. Begitu pula saat sedang jatuh cinta, semua yang dilakukan oleh orang yang dicintai nampak begitu baik di depan mata.

Memang saat diri kita diliputi oleh emosi mendalam baik sedih, marah, takut, bahkan gembira, pikiran-pikiran kritis bisa kurang bekerja dengan baik.


Oleh karena itu sebaiknya hal-hal yang penting menyangkut kehidupan jangan diputuskan pada saat kita sedang diliputi emosi. Bisa jadi saat itu kita merasa keputusan tersebut sudah sesuai. Namun ternyata setelah pikiran bekerja lebih baik, barulah terlihat cacat cela pada keputusan-keputusan tersebut.

Berikut beberapa area kehidupan yang bisa jadi pemicu meluapnya emosi kita. Sebaiknya saat itu terjadi jangan mengambil keputusan tergesa-gesa.

Karir/usaha
Jika menjadi pimpinan, kita ikut menentukan nasib tim atau bawahan kita, atau bahkan nasib perusahaan. Oleh karena itu hindari mengambil keputusan pada saat sedang marah atau pikiran kalut akibat masalah di luar kantor dan di dalam kantor. Kadang ada karyawan yang menjengkelkan dan sering bikin naik pitam. Tapi saat karyawan ini hendak diberi punishmentatau bahkan PHK sekalipun, pastikan keputusan itu bukan diambil hanya karena emosi sesaat melainkan dalam keadaan pikiran yang jernih untuk menganalisa kinerja karyawan tersebut dikaitkan juga dengan peraturan atau policy perusahaan.

Jangan pernah mengambil keputusan penting yang mempertaruhkan usaha anda hanya karena emosi. Misalnya karena merasa gengsi tersaingi atau marah karena kompetitor berhasil menyabet proyek yang selama ini anda incar. Lalu setelah itu anda begitu saja memutuskan melakukan kredit besar-besaran untuk mengambil proyek lain tanpa analisa usaha yang baik.

Jika anda adalah karyawan, lain lagi masalahnya. Jika tidak sesuai lagi dengan passion atau kemampuan, anda bisa saja meminta resignatau pindah divisi, tetapi sebaiknya keputusan tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Misalnya karena berseteru dengan seorang rekan kerja atau tidak cocok dengan boss baru, langsung minta keluar dari perusahaan. Kalaupun harus resign, pastikan anda telah memikirkannya masak-masak dan siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, seperti pendapatan yang terhenti sementara atau kemampun kita mencari sumber pendapatan baru dan lain-lain.

Keuangan

Emosi yang dimaksud di sini bukan hanya amarah atau sedih. Perasaan gembira yang meluap-luap juga bisa menumpulkan logika berpikir kita.

Keputusan-keputusan besar dalam hidup seringkali terkait dengan keadaan keuangan kita. Mestinya segala keputusan keuangan yang kita ambil juga telah dipikirkan dengan baik. Tidak terlalu sulit sebenarnya karena uang terkait langsung dengan angka-angka dan segala hal menyangkut kuantitas biasanya ditempatkan di otak kiri, tempat pemrosesan rasio dan perhitungan.
Namun seringkali emosi karena kegembiraan atau harapan yang terlalu tinggi membuat kita melupakan hal tersebut. Misalnya penawaran investasi yang menggiurkan, membeli aset baru, memberi hadiah atau donasi, membuka asuransi baru dan lain sebagainya. Mungkin karena iming-iming dan rayuan pihak ketiga yang menarik membuat kita mengambil keputusan tanpa pikir panjang lagi.

Pada beberapa kasus penipuan online kita juga dapat dengan mudah menemukan orang yang begitu mudah mengucapkan sayonara terhadap rupiahnya hanya karena kasihan atau cinta buta kepada seseorang yang belum dikenal sepenuhnya. Memang mungkin juga ada faktor ketidakpahaman, tetapi penipu-penipu di luar sana cenderung menggunakan “emosi” calon korban sebagai modal utama kejahatan mereka.

Kehidupan Pribadi/Keluarga
Mungkin sebagian besar keputusan-keputusan salah karena emosi terjadi pada area ini. Selain karena sebagian besar waktu kita dihabiskan pada area ini, memang kehidupan pribadilah tempat dengan space paling luas untuk mengumbar emosi kita.

Bertengkar dengan pasangan hidup, orang tua yang memarahi anak-anaknya atau anak yang ngambekterhadap orang tuanya adalah hal-hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan. Namun bagaimanapun juga berhati-hatilah mengambil keputusan saat suasana genting itu sedang terjadi. Memutuskan untuk menceraikan pasangan hidup, mengirim anak mengambil pendidikan jauh di luar kota, meninggalkan orang tua karena tidak menyetujui pilihan karir kita, atau memutuskan tali persahabatan yang sudah terjalin lama adalah contoh keputusan-keputusan besar dalam hidup karena menyangkut orang-orang terdekat dalam hidup kita.

Kalaupun harus terjadi demikian, pastikan kita telah memikirkannya dengan tenang dan menggunakan seluruh akal sehat kita, bukan hanya karena emosi sesaat. Jangan mengirim anak jauh-jauh hanya karena kita tidak tahan dengan kenakalan anak dan menganggap itu sebagai satu-satunya  cara untuk membuatnya jera. Jangan berpisah dari pasangan jika komunikasi belum dibangun secara mendalam dan kedua belah pihak belum memikirkan dengan matang segala konsekuensi yang terjadi karena perpisahan tersebut.

Yang Harus Dilakukan
Memang tidak semua orang mampu mengendalikan diri dengan baik pada saat emosi terjadi. Ada orang yang saat sedang marah harus menyalurkan energi meluap-luap tersebut pada sasaran amarahnya. Kalau tidak, yang bersangkutan bisa sakit kepala. Itu wajar rasanya.

Yang penting adalah tidak membuat statement atau keputusan-keputusan besar pada saat itu terjadi.
Seiring waktu, setiap orang pasti kian memahami bagaimana kiat menyalurkan emosinya dengan baik agar tidak berlebihan dalam memberikan respon pada suatu keadaan. Saya sendiri sedikit terbantu dengan kepribadian phlegmatis yang cenderung kurang suka melakukan konfrontasi secara langsung dengan sumber masalah. Jadi jika sedang marah atau sedih saya lebih suka mencari kesibukan lain sambil menjernihkan pikiran agar mampu melihat masalah yang terjadi dengan lebih terang sebelum mengambil keputusan.

Beberapa orang lain mungkin butuh suasana baru, refreshing atau menyalurkan emosi kepada hobi dan aktivitas lainnya. Beberapa orang mungkin juga harus menarik diri dari rutinitas atau lingkungan yang memicu emosi beberapa saat sampai bisa berpikir dengan jernih.


Kalaupun kita merasa cukup sulit berpikir jernih pada saat emosi melanda, jangan pikirkan yang lain-lain dahulu. Ingatlah saja orang-orang tercinta di sekitar kita. Mereka adalah orang-orang pertama yang merasakan konsekuensi dari segala keputusan kita ambil. Mungkin itu bisa sedikit membantu. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: gambar dari: share.nanjing-school.com

pertama kali ditayangkan di blog kompasiana.com

Selasa, 02 Agustus 2016

Apa Warna Topi Berpikir Anda?



Beberapa waktu yang lalu saya bersama beberapa kawan kantor mengikuti pelatihan singkat mengentai Manajemen Konflik yang dibawakan oleh salah satu guru besar Universitas Hasanuddin, Prof. WIM Poli.  Pelatihan bertema Manajemen Konflik ini sebenarnya bukan pelatihan yang asing bagi kami, hanya saja kali ini pendekatannya sedikit berbeda karena dibawakan oleh seorang akademisi dan pakar manajemen.

Salah satu materi yang dipaparkan adalah bagaimana mengelola konflik yang terjadi pada suasana-suasana formal seperti misalnya pada forum pengambilan keputusan. Dalam suasana seperti itu perbedaan pendapat adalah suatu hal yang wajar karena setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda dalam menyikapi masalah dan pemecahannya. Namun dengan mengenali cara berpikir setiap orang, potensi konflik dapat diminimalkan dan peluang pemecahan masalah yang paling baik dapat dimaksimalkan.


Six Thinking Hatsatau Enam Topi Berpikir adalah salah satu teori yang menarik untuk kita simak. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Edward de Bono, seorang penulis buku dan pakar psikologi yang berasal dari Malta. Menurut Edward de Bono, ada enam topi berpikir yang biasa digunakan saat manusia menyikapi sebuah permasalahan dan pemecahannya. Setiap dari kita memiliki kecenderungan berpikir yang disimbolkan dengan warna pada topi-topi berpikir tersebut.
Enam topi berpikir ini paling mudah terlihat pada sebuah forum seperti rapat atau pertemuan yang membahas pencarian solusi terhadap masalah-masalah tertentu. Mari kita lihat satu per satu.

Topi Putih
Seperti kertas putih yang polos dan siap untuk menerima warna apapun yang diberikan kepadanya, pemilik topi putih adalah orang yang jeli terhadap informasi. Dalam sebuah forum, pemilik topi putih selalu bertanya dan menggali informasi dan data yang dibutuhkan untuk mengurai permasalahan. Tidak selalu harus berujung kepada kesimpulan atau analisis, tapi mereka cukup puas menerima informasi-informasi dari orang lain.

Topi Kuning                          
Pemilik topi kuning adalah orang-orang yang selalu optimis. Dalam memandang permasalahan dan solusi-solusi yang mungkin dihasilkan, mereka selalu menyorot sisi manfaat dan alasan-alasan mengapa solusi tersebut harus dilaksanakan.

Topi Hitam
Sebaliknya, pemilik topi hitam adalah mereka yang memandang solusi secara kritis malah cenderung negatif. Jika ada alternatif solusi yang dihasilkan mereka adalah orang pertama yang menemukan resiko atau peluang kegagalan dari kiat-kiat tersebut. Misalnya: biaya yang terlalu mahal, resiko yang terlalu besar, ada kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dan seterusnya.

Topi Merah
Jika ada orang yang senang menggunakan intuisi atau membuat pernyataan tanpa merujuk kepada data-data yang ada, hampir bisa dipastikan mereka adalah orang-orang bertopi merah. Pemilik topi ini cenderung menggunakan perasaan atau feeling. Jika mereka merasa klopdengan sebuah ide, mereka mendukung habis-habisan ide tersebut. Begitu pula sebaliknya. Memang, seringkali pernyataan-pernyataan intuitif lahir dari pengalaman. Tapi bagaimanapun juga, data adalah bagian penting dari pengambilan keputusan sebuah organisasi.

Topi Hijau
Pemilik topi hijau adalah orang-orang yang cenderung berpikir out of the box. Mereka enggan mengikuti jalur berpikir mainstream dan selalu mencari cara-cara berpikir atau bekerja yang baru. Orang-orang kreatif dalam sebuah tim kerja pada umumnya adalah pemilik topi hijau ini. Pernyataan mereka bisa jadi pendapat yang melawan arus atau ide yang selama ini belum pernah terpikirkan.

Topi Biru
Pemilik topi biru adalah mereka yang lebih tertarik kepada tahap-tahan kerja dan prosedur-prosedur dalam menghadapi masalah. Pada sebuah rapat mereka memberi perhatian kepada proses-proses pengambilan keputusan dan tindak lanjut dari keputusan-keputusan tersebut. Oleh karena itu pemilik topi biru cenderung reflektif dan mampu berpikir secara komprehensif, sehingga mereka sesuai untuk memimpin jalannya rapat.

Nah, setelah menyimak aneka warna topi berpikir ini, kita mulai dapat mengenali warna topi berpikir masing-masing. Bagaimana kecenderungan kita saat menyikapi sebuah permasalahan ketika berdiskusi atau rapat bersama kolega dan orang-orang di sekitar kita?

Cara berpikir dan sikap yang dominan muncul kemungkinan besar adalah warna topi berpikir kita. Tapi  mengganti-ganti topi berpikir sangat dimungkinkan.

Mengenali topi berpikir diri sendiri lalu mengenali topi berpikir orang lain penting untuk membantu kita dalam sebuah pengambilan keputusan. Saat rapat berjalan terlalu mulus dan kelihatan semua orang sedang sependapat pada suatu masalah, anda bisa saja mengganti topi berpikir menjadi topi merah untuk melihat resiko-resiko yang terjadi dan mengajak forum berpikir lebih kritis.
Atau jika rapat deadlock, anda bisa mengganti topi berpikir dengan topi kuning untuk membangkitkan mood peserta rapat atau topi hijau untuk mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang baru.

Jika anda didaulat menjadi pemimpin rapat, sebaiknya mengenakan topi biru untuk mengawal jalannya lalu lintas diskusi dan jangan lupa mengenali warna topi-topi peserta rapat agar anda dapat menyimpulkan pemikiran mereka dengan tepat. Dengan mengenali topi berpikir ini, perbedaan pendapat adalah sarana untuk menguji keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam pengambilan keputusan nantinya. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: floridacsi.com