Sabtu, 28 November 2015

Mengapa Masyarakat Masih Tertipu Investasi Bodong?



Beberapa hari lalu, kasus investasi bodong yang menyeret pesohor Sandy Tumiwa kembali mencuat ke permukaan. Awalnya, Sandy dan rekannya Astriana mengajak sejumlah orang menjadi investor untuk  menggelontorkan dana pada perusahaan dengan nama PT. CSM Bintang Indonesia yang bergerak pada usaha forex trading.

Para investor diiming-imingi keuntungan 40% per bulan dari nilai investasinya. Keuntungan ini akan bertambah jika para investor menggaet calon investor yang lain untuk ikut serta. Sepertinya cukup banyak masyarakat yang tertarik dan menjadi investor. Setelah berjalan beberapa lama, keuntungan yang dijanjikan pun tidak kunjung datang. Malah dana para investor pada akhirnya tidak bisa dikembalikan.

Dikabarkan dana dari investor yang menguap mencapai 7 miliar rupiah. Ini bukan jumlah yang sedikit. Sandy dan Astriana pun ditetapkan menjadi tersangka yang dijerat dengan pasal penipuan.  Saat ini kasusnya tengah ditangani Polda Metro Jaya.

Kita tidak akan mengupas kronologi kasus ini. Di balik kronologi kasusnya, ada fenomena menarik  yang bisa kita potret dan dijadikan bahan refleksi bersama.

Inilah salah satu dampak dari pertumbuhan masyarakat kelas menengah dan pertumbuhan ekonomi tanpa didukung oleh peningkatan kapasitas pemahaman serta pengelolaan keuangan. Masyarakat menjadi rentan terhadap penipuan berkedok keuangan.

Pertanyaan kritis misalnya, darimana sumber dana perusahaan untuk mendatangkan imbas hasil fantastis sebesar 40% per bulan atau 480% per tahun untuk investornya. Kita boleh menduga-duga bagaimana kira-kira kerja keras mesin uang perusahaan untuk memutar dana investor dan mengembalikannya hampir lima kali lipat dalam satu tahun fiskal.

Ini hampir mustahil, apalagi investasi forex memiliki unsur-unsur fluktuatif dan resiko. Kita bisa melirik instrumen-instrumen investasi lain sebagai bahan perbandingan. Misalnya saya memiliki ilustrasi dari asuransi x (salah satu asuransi top tanah air) untuk instrumen unit link. Setelah dihitung-hitung nilai tunainya, imbas hasil asuransi unit link tersebut dengan tingkat pendapatan (dan resiko) yang paling tinggi hanya mencapai 55% per tahun. Itu pun dengan catatan baru bisa diterima setelah membayar premi selama 5 tahun dan menahan dana investasi kita selama 30 tahun berturut-turut. 
Kemudian kita bisa lihat reksadana. Saya tidak memiliki investasi reksadana, namun dari hasil googling, imbas hasil reksadana saham yang progresif rata-rata berkisar 15-25% saja per tahun.
Makanya saya masih suka heran dengan orang yang mudah terhasut janji-janji investasi yang sebenarnya kurang masuk akal.

Mengapa masyarakat masih mudah tergiur dengan investasi bodong?

Ini pertanyaan besarnya. Menarik menyimak pemaparan seorang perencana keuangan yang dihadirkan program Trending Topic Metro TV  beberapa hari lalu (sayang sekali saya benar-benar tidak sempat mencatat nama beliau). Menurutnya hanya dua penyebab masyarakat jatuh pada masalah investasi bodong. Pertama, ketidakmengertian, kedua, keserakahan.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir dua alasan tersebut beda-beda tipis dan hampir selalu berkaitan satu sama lain. Kecenderungan untuk memperoleh “ikan besar” secara instan tanpa perlu banyak kerja membuat kita menjadi kurang bijak berhitung. Atau sebaliknya, kita mungkin bisa hitung-menghitung resiko, namun mungkin karena pikiran sudah terlanjur tersumpal dengan hayalan akan keuntungan berlipat ganda, kita jadi malas menghitung lebih lanjut.

Nah, untuk penyebab pertama sebenarnya ada begitu banyak sumber pembelajaran di sekitar kita. Berikut beberapa kiat sederhana yang bisa dilakukan untuk meminimalkan resiko investasi bodong  yang  ditawarkan kepada kita:

 Pelajari Karakteristik Produknya
Jangan mudah percaya pada janji-janji manis hasil investasi. Para penjual produk adalah mereka yang gagah, cantik serta pandai berkata-kata untuk membuyarkan konsentrasi anda dari masalah sebenarnya, keselamatan uang anda. Pelajari secara seksama produk yang akan anda beli. Jangan hanya imbas hasil-nya saja. Telisik juga resiko, rekam jejak perusahaan serta izin operasional atau izin dari otoritas yang berwenang. Misalnya untuk asuransi pastikan telah terdaftar pada OJK. Untuk perusahaan pialang perdagangan berjangka, telah terdaftar di Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditi). Kemudian untuk perusahaan broker Saham telah terdaftar pada Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) dan lain-lain. Bila perlu minta referensi dari beberapa kawan yang telah lebih dulu menggunakan produknya. 

Hati-hati dengan Iming-iming Imbas Hasil
High Risk High Return, ini peribahasa klasik di dunia investasi. Dengan demikian semakin tinggi imbas hasil yang dijanjikan biasa semakin besar pula resiko yang menyertainya. Makanya lembaga  keuangan memilik divisi atau orang-orang khusus yang bertugas mengelola dana investor serta mengawasi resiko yang terjadi. Kemudian lembaga investasi yang mengelola resiko pada umumnya tidak serta merta mematok angka tertentu sebagai imbas hasil investasi dari investornya. Mereka biasa menggunakan kisaran atau ilustrasi imbas hasil, seperti yang biasa diberikan agen asuransi kepada pemegang polisnya. Itu pun masih menambahkan catatan kaki tertentu. Misalnya, realisasi yang terjadi masih bisa lebih tinggi atau rendah tergantung dari situasi dan kondisi perekonomian nasional. Jadi hati-hati dengan mereka yang   terang-terangan menjanjikan, misalnya 40% per bulan seperti pada contoh kasus kita di atas. 

Batasi Dana pada Investasi yang Bersifat Fluktuatif
Contoh-contoh instrumen investasi yang bersifat fluktuatif misalnya reksadana, pasar modal, produk derivatif (forex, indeks saham, dll). Beberapa pihak menyebutnya spekulatif, namun para pelaku investasi pada bidang tersebut memilih kata yang lebih positif, fluktuatif. Tapi prinsipnya sebenarnya sama, nilai tunai investasi kita sangat tergantung pada kondisi perekonomian baik nasional maupun global. Jika perekonomian sedang ‘hijau’, imbas hasil investasi kita bisa menanjak namun hal sebaliknya bisa terjadi jika ekonomi sedang lesu. Kita mesti bijak, jika ada yang menawari produk investasi berbasis instrumen tersebut. Prinsip diferensiasi produk investasi memang penting, namun prinsip kehati-hatian juga penting. Jangan mengalokasikan dana terlalu banyak pada instrumen investasi seperti ini jika kita tidak siap dengan resikonya. Memang tidak ada teori pasti berapa rasio dana yang dapat kita alokasikan karena ini sangat tergantung pada kemampuan keuangan dan kesiapan mental seseorang menanggung resikonya. Namun untuk keamanan dana kita, sebaiknya rasionya tidak melebihi 10% dari pendapatan rutin, atau 5%-10% dari total aset kita. 

Waspadai Money Game
Penipuan-penipuan ala money game dengan macam-macam modus sudah sering terjadi, namun seringkali masyarakat masih jatuh pada lubang yang sama. Waspadai ciri-ciri modus money game berikut: Janji keuntungan tinggi, tidak ada produk yang dijual selain perputaran uang antar user (pengguna produk), sistem jaringan untuk menggenjot user mencari user lain dengan janji keuntungan berlipat, user awal masih bisa menerima imbas hasil namun yang belakangan hanya menerima pahit-nya saja.  Jika tawaran investasi yang datang sudah terindikasi sebagai money game, sebaiknya anda segera menjauh.


Demikian beberapa kiat sederhana yang bisa menjadi filter pertama saat ada tawaran investasi menarik tersaji di depan kita. Memang tidak semua investasi menarik itu bersifat bodong. Namun melihat fenomena yang terjadi dari waktu ke waktu di tengah masyarakat, sebaiknya kita tetap mawas diri sehingga lebih bijak mengambil keputusan sehubungan dengan keselamatan uang kita. Untuk membantu kita berpikir, ingat, ada keringat (dan juga mungkin air mata) pada setiap sen uang yang kita hasilkan. Jadi bijaksanalah mengelolanya. (PG)


_________________________

ilustrasi gambar: www.teropongbisnis.com

Jumat, 06 November 2015

Generasi Sandwich dan Masalah Keuangannya


Terinspirasi dari roti lapis yang menjadi asal mula penamaannya,Generasi Sandwich bisa diartikan sebagai generasi yang terapit di tengah-tengah dua generasi lainnya. Orang-orang yang tergolong ke dalam generasi sandwich memiliki rentang usia 30-40 tahun atau lebih. Pada usia ini, mereka pada umumnya telah memiliki tanggungan sendiri yaitu anak-anak, sekaligus sudah mesti “mengasuh” orang tua yang telah lanjut usia.
Jika berada pada tahapan hidup sandwich ini, kita mesti siap dengan sejumlah konsekuensi yang dapat mempengaruhi kondisi finansial kita terutama jika orang tua tidak memiliki persiapan hari tua yang memadai. Di satu sisi, kebutuhan biaya anak-anak mulai meninggi. Sementara di sisi lain, orang tua juga membutuhkan perhatian, mulai dari biaya hidup sampai biaya yang berhubungan dengan kesehatan mereka.
Jadi jika dipetakan, pos pembiayaan generasi sandwich  sebagai berikut:
Biaya Anak-anak
Pada tahapan ini anak-anak biasa sudah mulai beranjak remaja. Selain biaya pendidikan yang sudah lazim kita keluarkan, biaya hidup mereka terkait dengan lifestyle pun meningkat. Anak-anak mulai melek terhadap mode. Mereka juga membutuhkan biaya untuk mendukung tetek bengek seputar dunia mereka, ekskul, hobi, sosial media dan lain-lain.
Biaya Orang tua
Jika sudah berada pada usia di atas 60-an tahun, kesehatan kita akan semakin rentan. Perubahan cuaca sedikit saja bisa mengakibatkan gangguan berkepanjangan. Oleh karena itu, sebagian besar biaya yang dialokasikan untuk orang tua adalah biaya untuk mendukung kesehatan mereka. Apalagi  jika orang tua memiliki riwayat penyakit kronis, sepertinya misalnya jantung, stroke, diabetes dan lain-lain
Dua garis besar pos biaya ini diluar biaya hidup rutin yang mesti kita keluarkan, seperti transportasi, komunikasi, makan dan minum, dan lain-lain. Akibatnya, jika tidak pandai-pandai, para generasi sandwichakan kesulitan mengelola arus kas mereka.
Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan jika kita termasuk dalam generasi sandwich untuk mengefisienkan pengelolaan arus kas, terutama jika orang tua kita benar-benar membutuh bantuan dari anak-anaknya.
  1. Perlindungan Kesehatan. Ikutkan pula orang tua pada program asuransi atau perlindungan kesehatan lainnya. Saat ini cukup banyak pilihan yang ada disekitar kita. Dengan mengikuti perlindungan kesehatan, arus kas kita bisa lebih stabil jalannya. Jika terjadi masalah pada orang tua, kita juga telah membagi tanggungan dengan pihak ke tiga penyedia jasa perlindungan kesehatan tersebut.
  2. Emergency Fund. Kita perlu membentuk tabungan darurat sedini mungkin. Dana ini akan menjadi dana taktis apabila ada hal-hal darurat yang terjadi. Bisa menjadi dana pertolongan pertama jika orang tua mengalami masalah medis secara tiba-tiba. Bisa juga menjadi dana darurat pada saat gangguan keuangan lainnya terjadi, seperti misalnya usaha kita merugi, atau terkena PHK. Selain itu, dana darurat ini dapat dikonversi menjadi dana hari tua saat kita mengalaminya nanti. Cara membangun dana darurat dapat dilihat pada tulisan ini.
  3. Memboyong Orang Tua. Jika memang kita telah menanggung sebagian besar atau seluruh beban hidup orang tua, memboyong orang tua untuk tinggal bersama bisa jadi alternatif. Dengan tinggal bersama kita bisa memberi perhatian lebih pada orang tua dan biaya hidup bisa diefisienkan. Tentu ada konsekuensi-konsekuensi lain yang harus dipikirkan seperti privacy, kenyamanan suami/istri dan kenyamanan orang tua kita sendiri. Namun dengan komunikasi yang baik, konflik-konflik mungkin terjadi dapat diminimalkan
  4. Bahu Membahu.  Kita bisa menjalin komunikasi dengan saudara yang lain untuk bahu membahu meringankan biaya hidup orang tua. Mekanisme dan proporsinya disepakati bersama, bisa disesuaikan dengan tingkat income masing-masing.
  5. Bangun DHT (Dana Hari Tua). Kiat ini sebenarnya cocok untuk generasi sandwich-nya sendiri. Mumpung masih produktif, sedapat mungkin kita harus membangun Dana Hari Tua kita sendiri. Sejumlah perusahaan atau instansi pemerintah sudah menyediakan untuk karyawannya. Namun tidak ada salahnya kita ikut menyisihkan sebagian pendapatan untuk meningkatkan dana guna menunjang masa tua kita. Dengan memiliki DHT, pada masa depan nanti, kita pun tidak perlu membebani anak-anak kita, generasisandwich berikutnya.
Memang tidak mudah mengelola hidup terutama jika kita menjadi tulang punggung dari dua generasi, di atas dan di bawah kita. Namun dari sudut pandang lain, menjadi generasi sandwich memiliki kenikmatannya sendiri. Kita bisa merasakan indahnya kebersamaan dengan dua generasi tersebut sekaligus. Jadi kiat yang bisa dilakukan adalah mengelola arus kas dengan bijak, agar kita bisa menjadi berkat bagi orang tua dan anak-anak kita. (PG)

_______________________________
ilustrasi gambar dari: wondrlust.com