Selasa, 25 Agustus 2015

Menjadi Kreditur yang Baik


Jangan pikir status kreditur hanya diberikan pada lembaga-lembaga keuangan pemberi pinjaman. 
Saat anda memberi pinjaman pribadi kepada rekan, tetangga, atau sanak keluarga anda, secara praktis anda pun sudah menyandang status sebagai kreditur.   

Perbedaannya, jika krediturnya itu adalah lembaga atau organisasi mereka sudah membentengi keamanan pinjaman dengan debiturnya lewat seabrek dokumen berkekuatan hukum. Dokumen-dokumen ini yang kemudian hari digunakan untuk menjerat debitur-debitur bandel. Hal ini yang tidak ditemukan pada pemberi pinjaman yang sifatnya personal. Kreditur yang berbadan hukum juga menarik bunga dari pinjaman yang diberikan sebagai pendapatan mereka, sedangkan kreditur personal pada umumnya lebih bersifat kekeluargaan sehingga tidak mengenakan bunga pinjaman pada pinjamannya.

Jika anda merasa seringkali dimintai tolong oleh rekan-rekan anda untuk jadi pemberi pinjaman artinya mungkin anda memiliki karunia tersendiri sebagai penolong mereka di saat-saat kritis. Tapi jika anda merasa dengan seringkali menolong orang lain, seringkali pula anda dihadapkan pada permasalahan-permasalahan keuangan pribadi, artinya mungkin anda harus mulai membatasi diri.
Merasa iba dengan orang lain boleh-boleh saja. Apalagi jika kita diberi rezeki berlebih dari Tuhan.  Namun di satu sisi anda juga harus mengamankan aset anda dan mengurangi resiko terhadap pemberian pinjaman tersebut. Apalagi anda dan debitur anda tidak dilengkapi akad kredit hitam di atas putih, hanya bermodalkan kepercayaan saja.

Berikut beberapa hal yang dapat menjadi panduan anda saat mengambil keputusan memberi pinjaman tersebut:
1.       Pelajari karakter “calon debitur”. Anda mesti memastikan rekan anda yang akan anda pinjami uang tersebut punya itikad baik untuk mengembalikan pinjamannya. Jika dia sudah pernah memiliki sejarah pinjaman di tempat lain cari tahu prestasi pembayarannya. Jika dia selama ini sudah terkenal sebagai tukang pinjam kanan kiri dengan prestasi pembayaran yang kurang bagus, sebaiknya anda memikirkan berulang kali sebalum memberi pinjaman tersebut. 
2.       Tanyakan apa tujuan pinjaman tersebut. Memperkirakan berapa sebenarnya pinjaman yang dibutuhkan “calon debitur” anda, membantu anda mengambil keputusan mengenai kebenaran pinjamannya. Jika anda sudah mengindikasi adanya ketidakjujuran dengan menyembunyikan tujuan pinjaman yang sebenarnya, ada resiko dia juga tidak jujur dengan komitmennya mengembalikan pinjaman tersebut.   
3.       Tanyakan tenggat waktu pinjamannya. Walaupun anda tidak membuat surat perjanjian pinjaman, buat kesepakatan dengan tegas kapan rekan anda harus melunasi pinjamannya atau berapa kali dia mengangsur pinjaman tersebut. Beri alasan anda juga membutuhkan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan anda. Buat reminderuntuk memudahkan anda menagih di kemudian hari.
4.        Diketahui orang terdekat.  Jika rekan anda telah berkeluarga, usahakan pinjaman tersebut diketahui oleh suami atau istri rekan anda. Konfirmasikan hal ini kepada rekan anda. Dengan demikian tanggung jawab atas pinjaman tersebut menjadi tanggung jawab keluarga rekan anda walaupun de facto anda berurusan secara pribadi dengan rekan anda. Jika anda telah berkeluarga, tidak ada salahnya pasangan anda juga mengetahui perihal pinjaman tersebut.
5.       Transfer rekening. Karena anda dan rekan anda tidak memiliki perjanjian pinjaman dan bukti-bukti transaksi, sebaiknya anda tidak memberikan uang pinjaman tersebut secara tunai. Lebih baik minta nomor rekening pribadi rekan anda, dan transfer pinjaman tersebut dari rekening pribadi anda. Pencatatan bank ini untuk membantu anda jika besok-besok terjadi hal yang tidak diinginkan. Misalnya rekan anda memiliki itikad kurang baik seperti mangkir dan tidak merasa meminjam uang dari anda.
6.       Meminta Jaminan. Jika anda merasa pinjaman tersebut memiliki resiko besar tapi di sisi lain anda juga merasa berkewajiban membantu rekan anda tersebut, tidak ada salahnya anda berdua bersepakat mengenai jaminan. Misalnya minta rekan anda menitipkan BPKB kendaraannya, atau surat-surat berharga lainnya sampai pinjamannya selesai. Jangan lupa disertai dengan surat-surat pernyataan yang mendukung. Jaminan ini bukan semata dimaksudkan untuk meng-cover resiko jika rekan anda tidak mampu melunasi pinjamannya. Tapi sebagai ikatan komitmen agar rekan setia membayar kewajibannya kepada anda.
7.       Mengetahui posisi keuangan anda. Langkah ini tidak kalah penting, karena jika anda juga sedang membutuhkan sumber dana bagaimana mungkin anda mampu menolong rekan anda. Periksa lagi target atau rencana keuangan jangka pendek anda. Apakah ada kebutuhan keuangan yang harus segera dipenuhi dalam waktu dekat atau tidak ada. Jangan-jangan setelah memberi pinjaman kepada orang lain, anda malah kelimpungan mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan anda.    

Pada akhirnya keputusan memberi atau tidak memberi pinjaman tersebut kembali ke tangan anda. Perhitungankan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan transaksi pemberian pinjaman tersebut. Beberapa orang malah bersepakat dengan penerima pinjaman untuk mengenakan bunga kepada pinjaman ini. Tapi sepertinya kurang cocok diterapkan kalau pinjaman yang kita berikan ini bersifat kekeluargaan, untuk membantu rekan kita keluar dari permasalahan keuangannya.

Tapi itikad baik kita ini seringkali disalahgunakan oleh orang lain. Saya banyak mendengar curhat dari beberapa teman yang mengalami hal ini. Mereka seringkali kesulitan menagih kembali pinjaman yang sudah diberikan padahal mereka juga sedang membutuhkan uang tersebut. Masalah utama biasa bukan terletak pada penagihan atau debiturnya. Tapi lebih pada perasaan “tidak tegaan” karena solider dengan teman. Sehingga pada saat teman yang dipinjami uang mesti sudah menyelesaikan pinjamannya lalu mengemukakan sedikit argumen, teman si pemberi pinjaman jadi mundur karena tidak tega. Jadi jika anda termasuk orang yang suka “tidak tega”, sebaiknya batasi diri anda dalam hal memberi pinjaman.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk membatasi permintaan pinjaman dari rekan kita adalah menurunkan besar permintaannya. Misalnya rekan anda mengatakan butuh Rp 2.500.000,- untuk melunasi tagihan rumah kontrakannya, katakan saat ini anda hanya dapat membantu sebesar Rp 1.000.000,- Lalu lihat responnya. Jika dia lalu melewati anda dan mencari alternatif  dari tempat lain berarti anda telah luput. Jika dia mengatakan menerima dana tersebut dan mencari sisanya dari tempat lain, artinya anda berhasil meminimalisir resiko dari pinjaman tersebut.


Dengan memberi pinjaman secara bijak, anda dapat menolong rekan anda sekaligus mengamankan resiko keuangan pribadi anda. (PG)

_______________

ilustrasi gambar dari: www.konsultasisyariah.com

Selasa, 04 Agustus 2015

GSP Disetujui, Susi Target Ekspor Ikan Tembus USD 5 M


Salah satu kelebihan “orang lapangan” yang dipercayakan pada posisi struktural adalah konsep dan realisasi yang cenderung lebih konkrit. Saat para pemikir yang punya segudang ilmu sedang menimbang-nimbang cermat dan amat hati-hati, orang-orang lapangan ini telah beraksi satu dua langkah ke depan. Bukan karena sembrono, tapi mereka kefasihan terhadap “medan” telah menajamkan intuisi mereka.
Sebagai orang lama dalam bisnis perikanan, Menteri Susi Pudjiastuti paham benar seluk beluk bisnis dan industri perikanan. Ini kemudian menjadi modal besar dalam mengembangkan industri perikanan tanah air.
Kabar teranyar yang datang dari Kementerian KKP adalah penandatangan skema perpanjangan GSP (Generalized System of Preference) untuk produk industri perikanan oleh Barack Obama setelah mendapat persetujuan Senat Amerika Serikat. GSP ini sempat dihentikan oleh senat 2013 lalu.
GSP adalah kebijakan yang dimiliki negara-negara maju terhadap produk impor dari negara-negara tertentu. Untuk menjaga irama pasar, negara-negara anggota WTO (World Trade Organization) memberlakukan standar tarif impor yang sama antar negara yang satu dan yang lainnya. Namun dengan memberlakukan program GSP, negara anggota  WTO dapat menurunkan tarif impor dari negara-negara emerging marketseperti Indonesia. Tentu ada ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi importir misalnya sustainability, kualitas produk dan ketentuan lain. Bagi negara-negara penerima GSP, program ini berguna untuk menggenjot ekspor dan meningkatkan kinerja neraca perekonomiannya. Imbas manfaat bagi negara yang memberikan program GSP adalah kompetisi para importir meminimalisir kelangkaan barang impor dengan tetap mempertahankan kualitas produk yang prima.
Bagaimana cerita dibalik persetujuan GSP industri perikanan Indonesia? Menurut Susi, tidak butuh lobi luar biasa untuk bisa kembali mendapatkan fasilitas GSP ini. Malah tidak sampai mengutus delegasi khusus untuk negosiasi panjang kali lebar. "Tidak perlu dengan jalan-jalan, mereka sudah membebaskan. Hanya modal ngedumel dan ngomel-ngomel. Meski itu menyebabkan banyak dosa tapi gunanya banyak. Saya memastikan cerewet saya lebih banyak manfaatnya daripada tidak," ucap Susi (kompas.com).
Beberapa waktu terakhir ini, Susi memang getol mempromosikan industri perikanan tanah air. Prinsip-prinsip industri yang biasa diinginkan negara-negara maju  seperti sustainability dan treasibility yang menyangkut dampak lingkungan telah dipatuhi dengan baik. Akhirnya Senat Amerika pun kembali menyetujui GSP untuk produk perikanan Indonesia terhitung 29 Juli 2015 sampai 31 Desember 2017.
Ini merupakan “angin segar” bagi industri perikanan tanah air. Dengan perpanjangan GSP ini, sejumlah produk perikanan seperti kepiting beku, ikan sardin, daging kodok, ikan kaleng, lobster olahan dan rajungan dibebaskan dari tarif impor.
Konsistensi Susi memberantas ilegal fishing dan kepiawaian “diplomasi” bisnis dengan mitra-mitra strategis di luar negeri telah menjadi kunci sukses meningkatkan ekspor perikanan dari Indonesia.
Mestinya peluang ini tidak disia-siakan oleh pelaku pasar khususnya para eksportir. Selama ini Amerika Serikat memang merupakan negara tujuan utama ekspor perikanan asal Indonesia. Sejak tahun 2011 rata-rata pertumbuhan ekspor sektor perikanan ke Amerika Serikat sebesar 21% per tahun. Selama tahun 2014 total ekspor perikanan ke Amerika mencapai 1,84 miliar dollar. Dengan fasilitas GSP, Susi menargetkan tahun ini ekspor perikanan bisa menembus angka 5 milliar dollar.
Tak puas hanya sekedar menjajaki negeri Paman Sam, Susi mengatakan sebentar lagi akan mengompori dubes-dubes Eropa agar produk perikanan Indonesia yang masuk ke Eropa juga diberi fasilitas yang sama.
Maju terus ibu Menteri! (PG)
Referensi: 
ilustrasi gambar dari:
cnnindonesia.com