Beribadah kepada Tuhan tidak mesti dalam keheningan sambil memanjatkan barisan doa atau mazmur yang indah. Ibadah kepada Tuhan itu sifatnya holistik dan melibatkan seluruh aspek kehidupan kita. Pekerjaan kita pun bisa jadi sarana untuk menghayati keintiman dengan Sang Pencipta.
Bagaimana caranya? Kitab Suci sudah menunjukan jawabannya. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa hal-hal yang kita lakukan terhadap sesama kita sebenarnya merupakan refleksi bagaimana sikap kita terhadap Tuhan.
Nah, dalam lingkungan kerja, kita pasti berhubungan dengan orang lain. Bisa jadi itu rekan kerja kita, pimpinan kita, customer kita, murid kita, pasien kita, klien kita, de el el. Mereka adalah sesama yang membutuhkan kualitas kerja, pelayanan dan senyuman hangat kita. Kita bisa membuat mereka merasa lebih baik dan lebih nyaman terhadap kehadiran kita dengan cara menggeluti karir kita sebaik mungkin berlandaskan cinta. Jika kita semakin memancarkan energi positif bagi orang-orang di sekitar kita, dan membawa wajah sistem kerja kita ke arah yang lebih baik lagi, saat itulah kita sebenarnya sudah memberikan nilai-nilai diri kita yang tidak bisa diukur dengan kompensasi materi belaka.
Kontribusi utuh diri terhadap sesama lewat kerja kita, inilah yang membantu kita semakin menghayati kehidupan beriman kita. Jadi apapun profesi yang teman-teman tekuni saat ini (yang penting halal…), bersyukurlah, karena kerja adalah anugrah. Wujudkanlah syukur itu dengan bekerja sungguh-sungguh dan hati tulus penuh kasih. KERJA ADALAH BARIS-BARIS DOA YANG TERAKTUALISASI…..
Inspired by diklat etos kerja at Malino, 16-21 Juni 2009.
Sabtu, 07 Januari 2012
Memberi dan Menerima
Sebuah gelas yang telah penuh terisi air tidak bisa menerima lebih banyak air lagi. Jika seseorang menuang air di atas gelas, maka air yang dituang itu hanya akan tumpah sia-sia di luar gelas. Sebaliknya, agar gelas tersebut dapat menerima tuangan air, isi gelas tersebut harus disisihkan terlebih dahulu ke tempat lain.
Dalam hal "memberi dan menerima", kita juga bisa dianalogikan seperti gelas tadi.
"Memberi" adalah kata yang universal. Aplikasi kata ini dalam keseharian kita misalnya: Kita menyisihkan waktu untuk mendengarkan curhatan teman, menjadi donatur darah di Palang Merah, membagi ilmu pada rekan kerja yang baru, mengunjungi kenalan yang sakit, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Saya percaya teman-teman sudah sering mempraktekkan sikap "memberi". Entah sadar maupun tidak, dalam skala kecil maupun besar, hal-hal yang kita lakukan untuk membantu/menolong orang lain adalah aplikasi dari sikap "memberi".
Saat "memberi" inilah kita sebenarnya sedang meng-"hampa"-kan sebagian dari diri kita. Energi yang kita miliki berkurang karena dibagikan kepada orang lain. Namun kehampaan ini akan segera diisi oleh energi baru, berkat baru dari sekitar kita. Bukankah hukum keseimbangan adalah hukum inti dari alam semesta ini? Disinilah letak kebesaran dan keajaiban rancangan Tuhan. DIA selalu merancang dan memberikan yang terbaik untuk ciptaan-Nya.
Pernah tidak teman-teman mendapat hadiah yang tak terduga? Atau saat teman-teman beada dalam masalah, tiba-tiba muncul pertolongan dengan cara yang ajaib. Nah jika itu terjadi, saat itulah teman-teman sedang berada dalam proses "menerima". Tuhan sedang bekerja melalui alam semesta untuk mengisi kehampaan akibat proses "memberi" tadi.
Hukum Tarik-menarik (Law of Attraction) juga menegaskan hal ini dengan cara yang lain. Menurut Law of Attraction, sistem di sekitar kita berlaku seperti cermin. Hal-hal yang kita pancarkan keluar dari diri kita akan memantul kembali ke diri kita. Jadi teruslah menjaga "positive thinking" dan "positive doing" terhadap orang-orang di sekitar kita, maka hal-hal baik pun akan mengisi hari-hari kita.
So, jangan pernah kapok berbuat baik pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Karena "memberi" akan mendatangkan anugerah baru dan semakin memperkaya diri kita.
Don't be Afraid to give and give. Prepare to receive and receive.....
Dalam hal "memberi dan menerima", kita juga bisa dianalogikan seperti gelas tadi.
"Memberi" adalah kata yang universal. Aplikasi kata ini dalam keseharian kita misalnya: Kita menyisihkan waktu untuk mendengarkan curhatan teman, menjadi donatur darah di Palang Merah, membagi ilmu pada rekan kerja yang baru, mengunjungi kenalan yang sakit, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Saya percaya teman-teman sudah sering mempraktekkan sikap "memberi". Entah sadar maupun tidak, dalam skala kecil maupun besar, hal-hal yang kita lakukan untuk membantu/menolong orang lain adalah aplikasi dari sikap "memberi".
Saat "memberi" inilah kita sebenarnya sedang meng-"hampa"-kan sebagian dari diri kita. Energi yang kita miliki berkurang karena dibagikan kepada orang lain. Namun kehampaan ini akan segera diisi oleh energi baru, berkat baru dari sekitar kita. Bukankah hukum keseimbangan adalah hukum inti dari alam semesta ini? Disinilah letak kebesaran dan keajaiban rancangan Tuhan. DIA selalu merancang dan memberikan yang terbaik untuk ciptaan-Nya.
Pernah tidak teman-teman mendapat hadiah yang tak terduga? Atau saat teman-teman beada dalam masalah, tiba-tiba muncul pertolongan dengan cara yang ajaib. Nah jika itu terjadi, saat itulah teman-teman sedang berada dalam proses "menerima". Tuhan sedang bekerja melalui alam semesta untuk mengisi kehampaan akibat proses "memberi" tadi.
Hukum Tarik-menarik (Law of Attraction) juga menegaskan hal ini dengan cara yang lain. Menurut Law of Attraction, sistem di sekitar kita berlaku seperti cermin. Hal-hal yang kita pancarkan keluar dari diri kita akan memantul kembali ke diri kita. Jadi teruslah menjaga "positive thinking" dan "positive doing" terhadap orang-orang di sekitar kita, maka hal-hal baik pun akan mengisi hari-hari kita.
So, jangan pernah kapok berbuat baik pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Karena "memberi" akan mendatangkan anugerah baru dan semakin memperkaya diri kita.
Don't be Afraid to give and give. Prepare to receive and receive.....
Langganan:
Postingan (Atom)