Minggu, 28 Juni 2015

Memberi Perhatian Pada Rekening Keuangan


Membaca berita di portal kompas.com kemarin (28/6) tentang pencurian uang nasabah yang dilakukan oleh seorang karyawan bank, membuat merinding. Bagaimana tidak merinding kalau total uang nasabah yang berhasil digasak adalah Rp 29 M. Angka ini bahkan lebih tinggi dari Dana Aspirasi yang diterima anggota DPR per tahunnya.
Tidak dijelaskan secara detail bagaimana mekanisme pencurian uang nasabah yang dilakukan oleh karyawan bank tersebut. Pada umumnya sistem pembukuan dan manual prosedur yang digunakan perbankan benar-benar secure demi menjamin keamanan dana nasabah dari kemungkinan pencurian dari luar maupun manipulasi dari dalam.
Celah keamanan pada sistem mungkin saja ada, tapi kita sebagai nasabah dapat meminimalkan resiko terjadinya kecurian dengan mencermati riwayat transaksi demi transaksi pada rekening keuangan kita. Selain itu slip dan bukti-bukti transaksi lainnya harus didokumentasikan dengan baik sebagai bukti otentik jika sewaktu-waktu ada permasalahan dengan rekening kita.
Berikut rangkuman beberapa kiat sederhana yang dapat kita lakukan untuk memastikan seluruh transaksi keuangan yang telah kita lakukan berada pada pos yang semestinya.
Perhatikan Kolom Debet
Perhatikan kolom Debet pada buku rekening kita, karena pada kolom inilah dicatatkan transaksi penarikan uang. Jika pada buku rekening tidak dicantumkan kolom debet kredit, perhatikan saja transaksi-transaksi yang membuat saldo rekening berkurang. Apalagi jika transaksi penarikan itu terjadi secara tunai. Pastikan semua penarikan tersebut anda ketahui sebelumnya. Jangan lupa cocokkan juga dengan kode transaksi untuk mengkonfirmasi jenis penarikannya, apakah tarik tunai, via ATM, debet di merchant, dan sebagainya. Bila perlu mintalah rekening koran secara berkala untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Jika ada transaksi yang terasa janggal atau tidak pernah anda ketahui sebelumnya, tidak perlu malu meminta penjelasan dari pihak bank. Mereka akan dengan senang hati membantu anda.
Mengawasi Bunga Deposito
Berbeda dengan rekening tabungan biasa, kepemilikan tabungan deposito dibuktikan dengan bilyet yang diserahkan bank kepada nasabahnya. Untuk deposito yang hanya disimpan dalam jangka waktu pendek, misalnya sebulan, pemantauan tabungannya relatif mudah dilakukan. Namun jika menyimpan deposito dalam jangka waktu lama, misalnya setahun, anda harus secara telaten memastikan bunga depositonya sesuai dengan kesepakatan dengan bank. Perhatikan sebelah kredit dari rekening penampung bunga deposito anda. Jika terjadi penurunan suku bunga, segera konfirmasi dengan petugas bank, karena biasanya pihak bank akan memberi informasi jika ada fluktuasi suku bunga (deposito) yang terjadi.
Simpan Bukti-bukti Transaksi
Setiap kali usai melakukan transaksi, simpan baik-baik bukti transaksinya seperti slip, bilyet, rekening koran dan lain-lain. Bukti-bukti ini dapat menjadi kekuatan hukum anda jika di kemudian hari ada masalah pada sistem bank, termasuk masalah-masalah yang bersifathuman error yang berpotensi merugikan anda. Saya sendiri biasa menjepret bukti struk ATM setiap selesai melakukan transaksi transfer via ATM sebagai bentuk lain dokumentasi, karena tinta pada struk ATM itu seringkali semakin pudar seiring waktu. Pendek kata jangan abaikan semua bukti-bukti yang berhubungan dengan transaski keuangan kita.
Melakukan Sendiri
Sedapat mungkin lakukan sendiri semua transaksi keuangan yang menggunakan nama pribadi kita. Kadang-kadang karena percaya pada rekan, tetangga atau keluarga, kita suka menitip ATM untuk tarik tunai atau menitip setoran bank pada karyawan bank yang kebetulan masih keluarga atau masih teman. Titip menitip seperti inilah yang seringkali menimbulkan persoalan di kemudian hari, terutama jika transaksi penarikan tidak sesuai dengan intruksi dan kita tidak memiliki bukti hitam di atas putih untuk menguatkan posisi kita.
Membuat Pencatatan Manual
Kita juga bisa membuat pencatatan sederhana yang berisi transaksi-transaksi yang kita lakukan di buku rekening, baik penarikan maupun penyetoran. Setelah itu secara berkala, misalnya sebulan sekali atau tiga bulan sekali lakukan rekonsiliasi dengan buku rekening yang diterbitkan bank. Lalu bandingkan kedua pencatatan tersebut. Idealnya selain transaksi Adminstrasi bank, bunga tabungan dan pajak atas bunga tidak ada selisih diantara keduanya. Jika terjadi selisih, cari tahu transaksi mana yang tidak sama. Jika anda merasa kurang jelas kembali tanyakan dengan petugas bank.

Anda juga bisa memaksimalkan fasilitas internet banking yang disediakan bank untuk memantau riwayat transaksi dan hilir mudik dana di rekening kita. Pada fasilitas internet banking pada umumnya rincian transaksi tersedia dengan baik, seperti halnya rekening koran. Hanya saja, hindari mengakses internet banking  dari fasilitas umum seperti misalnya warnet, dan segera sign out atau logout dari akun internet banking anda begitu selesai.
Dengan memberi perhatian pada perkembangan keuangan, kita ikut menekan resiko terjadinya penyelewengan dana pada rekening kita. Tidak apa sedikit rempong, selama hasil kerja keras kita terlindungi dengan baik.  (PG)

__________________________
ilustrasi gambar dari: kompas.com
first posted at Kompasiana

Selasa, 23 Juni 2015

Pengusaha Versus Karyawan


Pada banyak seminar mengenai kewirausahaan, seminar bertemafinancial revolution atau kesempatan-kesempatan lain, kita sering melihat disajikan perbandingan antara Pengusaha dan Karyawan. Pengusaha digambarkan sebagai status karir yang ideal, dan menjadi patron untuk memacu para karyawan sebagai orang-orang yang masih menggantungkan hidupnya pada orang lain untuk segera “move on”, alias berpindah status.
Meminjam teori cashflow quadrant ala Kyosaki, karyawan yang berada pada kuadran E (employee) adalah pekerjaan yang beresiko tinggi karena produktivitasnya dibatasi oleh usia dan jam kerja. Oleh karena itu peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih minim. Selain itu, karyawan juga rentan terkena pemutusan hubungan kerja.
Sedangkan pengusaha yang berada pada kuadran B (Business Owner) memiliki peluang untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar, karena mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan perputaran uang dari aset-asetnya. Produktivitas tidak dibatasi oleh jam kerja. Usia pun tidak terlalu jadi penghalang untuk memperoleh income. Yang pasti pengusaha tidak bakal terkena PHK.

Tak bisa dipungkiri, perbandingan-perbandingan tersebut berhasil menonjolkan superioritas pengusaha dibanding karyawan.
Padahal jika mau dilihat dengan sudut pandang yang lebih lebar, sebenarnya kedua kategori profesi tersebut sama saja “kehormatan”-nya jika si pelakon benar-benar berdedikasi pada profesinya. Sekalipun hanya karyawan, namun jika memiliki manajemen keuangan yang baik, kita juga bisa memaksimalkan arus kas kita. Kuncinya, menekan biaya hidup, dan mengubah sebagian pendapatan jadi aset yang bisa menghasilkan pendapatan tambahan.
Sebaliknya, seorang pengusaha sebenarnya bergelut dengan banyak resiko. Realitanya, pengusaha pun memiliki seleksi alam-nya sendiri. Hanya sedikit pengusaha yang benar-benar bisa menembus rimba raya bisnis, dan berhasil mengembangkan usahanya. Ramainya persaingan usaha, kemampuan berinovasi, menjadi kata-kata kunci yang menguji eksistensi seorang pengusaha. Tidak siap mental, siapa-siap saja jatuh terpelanting.
Jadi sebenarnya Pengusaha maupun Karyawan memiliki peluang dan tantangannya masing-masing. Kita lihat lebih jauh lagi.
Karyawan
Memang hanya orang upahan saja. Namun jika benar-benar berdedikasi pada pekerjaan kemudian memiliki etos kerja yang baik, seorang karyawan bisa jadi memiliki jenjang karir yang baik, apalagi jika bisa sampai ke tingkat top manajemen. Pada pucuk tertinggi dalam struktur manajemen, karyawan sudah hampir memiliki status sama dengan pemiliki usahanya. Jika semula hanya memikirkan dan berkontribusi pada keberlangsungan perusahaan sebatas lingkup kerjanya saja, kini juga ikut bertanggungjawab terhadap keberlangsungan seluruh lini perusahaan. Memang resiko yang berhubungan dengan karir pasti ada, seperti demosi bahkan PHK. Namun jika memiliki kinerja yang baik, resiko tersebut bisa diminimalkan. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, menjadi karyawan bukan berarti tidak bisa meningkatkan pendapatan. Mengubah sebagian pendapatan menjadi aset yang digunakan untuk mendatangkan penghasilan tambahan dapat menjadi alternatif untuk memaksimalkan arus kas. Misalnya: membangun rumah kos-kosan, penyedia jasa mobil rental, dan lain-lain.

Pengusaha
Nilai lebih dari pengusaha adalah memiliki waktu yang lebih fleksibel dibanding karyawan. Apalagi jika usaha plus manajemennya sudah berjalan baik. Peluang untuk meningkatkan pendapatan juga lebih terbuka lebar dibanding karyawan. Orang-orang yang suka tantangan dan gemar mengejar rupiah, cocok berada pada posisi ini. Pada umumnya kesulitan terbesar bagi pengusaha adalah masa-masa saat bisnis baru startup. Pada masa-masa ini pengusaha “bermain” dengan propabilitas dan resiko. Waktu untuk beristirahat dan berleha-leha pun mesti dipangkas demi memastikan usahanya bisa berjalan. Namun jika masa-masa sulit ini bisa dilewati, pengusaha pun mendekati kejayaannya.

Kesimpulan
Pengusaha maupun karyawan sama mulianya. Karyawan membutuhkan pengusaha.  Sebaliknya, pengusaha pun membutuhkan karyawan. Berbicara resiko, keduanya memiliki resikonya masing-masing. Berbicara income atau pendapatan, keduanya pun memiliki peluang yang sama. Pendapatan pengusaha kelas teri bisa jadi jauh lebih rendah dari seorang karyawan yang punya jabatan tinggi. Berbicara tantangan, keduanya juga punya tantangannya sendiri-sendiri.
Mungkin pengusaha bisa bilang, “karyawan adalah bawahan saya, sehingga saya bebas memerintah mereka,” namun jangan lupa, pengusaha harus memikirkan kelanjutan bisnisnya sehingga otomatis harus ikut memikirkan kesejahteraan karyawannya. Jadi baik pengusaha maupun karyawan memiliki kesenangan dan kesusahannya masing-masing.
Jadi kesimpulannya, apapun pekerjaan kita saat ini, tekuni dan jalani dengan amanah. Setiap pekerjaan yang dijalankan sungguh-sungguh dan memberi kontribusi yang berarti bagi orang lain, akan diberi berkah dan rejeki yang sepadan dari Tuhan. (PG)

______________________
ilustrasi gambar dari: ursmoneymaker.com

Selasa, 16 Juni 2015

Ekspor Ikan Melejit, Apresiasi untuk Susi


Sejauh ini, menteri Susi Pudjiastuti adalah salah satu menteri dalam kabinet kerja yang benar-benar terlihat bekerja. Bukan semata “bekerja” tanpa output nyata seperti yang banyak terlihat dari pejabat kita. Hasil kerja menteri yang awal perekrutannya sempat diragukan karena hanya mengenyam ijazah SMP itu, saat ini sudah bisa terlihat kasat mata dari data dan statistik.

BPS belum lama ini merilis data yang menggembirakan dari sektor perikanan. Selama tahun 2013 ekspor sektor perikanan sebesar US$ 2,86 miliar dan tahun 2014 sebesar US$ 3,1 miliar. Untuk tahun ini, pada kuartal pertama saja sektor perikanan telah mencatat ekspor sebesar US$ 906,77 juta. Padahal biasanya cuaca pada bulan-bulan awal tahun kurang bagus untuk aktivitas penangkapan ikan.


Dari total ekspor kuartal I 2015 sebesar hampir 1 miliar dolar tersebut, komoditas top ekspor adalah udang yakni sebesar US$ 449,95 juta, disusul tuna dengan sebesar US$ 89,41 juta dan cumi-cumi sebesar senilai US$29,51 juta.  Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan juga melejit. Ditengah lesunya pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I yang hanya mencapai 4,71% , sektor perikanan mencatatkan pertumbuhan 8,64%. Rasio ini juga lebih tinggi dari kuartal I tahun lalu sebesar  7,46%. Pertumbuhan ini adalah kontribusi dari meningkatnya pendapatan nelayan yang selama ini terganggu oleh banyaknya aktivitas ilegal fishing.

Pertengahan Mei lalu di kantor KKP, Menteri Susi dan Kepala BPS mengadakan Konferensi Pers untuk memaparkan berita gembira tersebut di depan media.  Menteri Susi begitu senang melihat pencapaian-pencapaian ini.

"Impor turun jauh karena kebutuhan dalam negeri sudah bisa terpenuhi. Melihat angkanya bikin saya merinding, saya suka melihat angkanya," ucap Susi sebagaimana dikutip portal cnnindonesia.com.
Salah satu kelebihan praktisi atau orang lapangan yang didudukkan pada posisi struktural adalah kebijakannya lebih strategis dan lebih tepat sasaran. Semakin terbukti kalau keputusan-keputusan menteri Susi seperti penenggelaman kapal yang melakukan pencurian, pelarangan beberapa alat tangkap yang selama ini sering digunakan serta sejumlah peraturan lainnya bukan sekedar “gaya-gayaan” belaka. Gebrakan demi gebrakan ini sudah membawa imbas positif bagi sektor perikanan kita.  

Jika Susi Pudjiastuti masih akan terus dipercaya mengurusi Kementerian Perikanan dan Kelautan, beliau bisa jadi harapan baru bagi kemajuan kemaritiman tanah air. Selama ini sinar sektor maritim cenderung redup bila disandingkan dengan isu-isu politik, hukum dan gonjang-ganjing harga minyak dunia. Padahal jika dikelola dengan baik, mampu ikut mengangkat perekonomian negeri ini.

Kini tantangan baru yang dihadapi Susi adalah bagaimana menembus kelamnya  dunia hitam sektor 
perikanan. Para mafia yang semula adem-adem saja, kini mulai menggeliat karena menteri Susi ternyata mampu mengganggu bisnis mereka. Orang –orang ini tidak akan tinggal diam. Belum lama ini kita mendengar isu kursi menteri KKP ditawar miliaran jika Susi berniat meninggalkannya.

Berita yang sedang hangat, Susi pun mengajak serta Faisal Basri, untuk ikut dalam timnya menyibak bisnis hitam mafia di sektor perikanan. Sekali lagi bukan buat gaya-gayaan, tapi dilandasi dengan niat tulus untuk mengembangkan kemaritiman tanah air sehingga mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. (PG)

__________________

ilustrasi gambar dari: cnnindonesia.com

First posted at Kompasiana: http://www.kompasiana.com/picalgadi/ekspor-ikan-melejit-apresiasi-untuk-menteri-susi_5580247311937305180285d4