Rabu, 22 April 2015

Mampukah Pidato Jokowi Mengubah Dunia?

Suasana saat pembukaan KAA 22-23 April 2015. Gambar dari: kompas.com


Keadaan sosial politik global sekitar era revolusi industri berbeda jauh dengan zaman modern sekarang ini. Saat itu bangsa-bangsa masih dominan menegaskan jati dirinya dengan kekuatan senjata-senjata dan ekspansi fisik. Eksploitasi terhadap negara lain masih dilakukan dengan kasat mata, sarat kekerasan dan kegaduhan.

Pada zaman modern ini, diplomasi menjadi senjata yang lebih dominan untuk menekan atau mempengaruhi negara lain. Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sekat-sekat multidimensi yang membatasi bola bumi semakin tipis. Racun yang ditebarkan lewat media massa jauh lebih “mematikan” dan masif imbasnya dibanding senjata-senjata pemusnah massal. Penulis buku Megatrend sekaligus public speaker kenamaan dari Amerika Serikat, John Naisbitt, sejak jauh-jauh hari melontarkan kalimat “siapa yang menguasai media akan menguasai dunia.”


Oleh karena itu, kini retorika menjadi skill yang harus dimiliki oleh pemimpin suatu negara. Pidato atau speech telah menjadi senjata mutakhir yang seringkali digunakan sebagai cara untuk unjuk gigi sekaligus mempengaruhi psikologis lawan dan kawan yang mendengarnya.

Pidato-pidato Bersejarah

Sejarah pun mencatat pidato-pidato inspiratif sejumlah tokoh yang kemudian terbukti memberikan pengaruh bagi perkembangan peradaban manusia. Misalnya pidato Martin Luther King, Jr bertajuk “I Have A Dream” yang disampaikannya sebagai wujud keprihatinan terhadap perbudakan dan perlakuan rasis terhadap orang-orang kulit hitam di Amerika. Martin Luther berhasil membakar semangat saudara-saudaranya untuk memperjuangkan kesetaraan dan persamaan hak sebagai sebagai bagian yang terpisahkan dari perjalanan Amerika Serikat. Jika tidak ada pidato ini, mungkin saja Barrack Obama tidak akan pernah menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam itu.

Jawaharlal Nehru, perdana menteri India paling pertama juga pernah menyampaikan pidato yang menggugah semangat kebangsaan masyarakat India pada tahun 1947. Dalam pidatonya, Nehru memberi definisi baru bagi kata “kemerdekaan” yang selama ini dipahami masyarakat India di bawah bayang-bayang Inggris.

Mungkin tidak banyak yang tahu, sebuah pidato bisa menjadi cikal bakal peristiwa bersejarah seperti keruntuhan tembok Berlin tahun 1990 lalu. Tembok tersebut menjadi simbol perang dingin antara liberalis dan komunis, Jerman Barat dan Timur. Pada tahun 1987 Ronald Reagan dalam pidatonya mendesak Presiden Gorbachev, meruntuhkan tembok pembatas tersebut. Memang saat itu Presiden Gorbachev tak bergeming, malah balik meledek Presiden Reagan. Namun pidatonya berhasil mengangkat moral masyarakat Jerman. Tiga tahun kemudian, tembok besar Berlin pun dirubuhkan.

Masih banyak tokoh-tokoh lain yang dikenal dunia lewat pidato-pidatonya. Nelson Mandela dengan pandangan Aperheid-nya, Susan B. Anthony yang memperjuangkan hak memilih pada perempuan, Abraham Lincoln yang banyak menghasilkan petuah-petuah berbau nasionalis dan lain-lain.
Menilik ke dalam negeri, kita memiliki banyak ahli pidato. Ir. Soekarno misalnya, setiap kali berdiri dan berkoar-koar di belakang microphone membuat ketar-ketir pihak asing dan lawan-lawan politiknya. Kepiawaiannya ini sudah terkenal sampai ke luar negara. Berbekal kemampuan diplomatiknya tersebut Ir. Soekarno menjadi salah satu inisiator forum internasional Konferensi Asia Afrika (KAA).
Atau masih ingat dengan semboyan “Mereka atau mati” dan “Berjuang sampai titik darah penghabisan”? Ya, semboyan itu identik dengan Bung Tomo dan Jenderal Sudirman yang pandai membakar semangat para pejuang kemerdekaan dengan pidato-pidato mereka.

Tidak hanya dalam hal politik dan ideologi. Speech para pembesar pun sering mempengaruhi fluktuasi ekonomi global. Sampai hari ini, para trader masih sering menjadikan pidato tokoh-tokoh dunia, seperti pejabat teras negara dan pejabat bank sentral sebagai referensi untuk mengantisipasi sentimen pelaku pasar global.
  
Bagaimana dengan Pidato Jokowi?

Dua hari ini, perhatian kita terpusat pada perhelatan akbar KAA di Jakarta. Hadirnya petinggi-petinggi negara dari kedua benua membuktikan betapa strategisnya dampak perhelatan ini. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Jokowi dengan menyampaikan pidato pembukaan yang segar, bernas dan bisa disebut berani. Riuh aplaus dari para delegasi KAA mudah-mudahan memang membuktikan bahwa mereka seia sekata dengan isi pidato Jokowi tersebut.

Dalam pidatonya Jokowi mengkritik kesenjangan di antara negara-negara kaya dan miskin, yang disimbolkan dengan negara belahan bumi utara dan selatan. Kritik tajam pun dialamatkan kepada PBB yang dianggap tidak berdaya dalam peranannya sebagai fasilitator untuk menjaga kestabilan global. Jokowi mengangkat contoh kasus ISIS dan Palestina. Bahkan Jokowi secara vulgar juga mereduksi peran beberapa lembaga keuangan dunia, seperti Bank Dunia, IMF dan ADB. Jokowi mengatakan pandangan bahwa ketiga lembaga tersebut adalah solusi terhadap masalah ekonomi global sebagai pandangan yang sudah usang.

“Rasa” pidato Jokowi kali ini lain dari biasanya. Tidak nampak Jokowi yang kalem dan coolsaat dibombardir dengan seabrek masalah. Kabarnya draft pidato pembukaan tersebut disusun oleh tim khusus yang berisi kumpulan manusia-manusia intelek. Kepakaran mereka berada pada  komunikasi politik dan isu-isu strategis global, sehingga pidato yang disampaikan Jokowi menjadi begitu aktual dan berani.

Sempat terbersit pemikiran kalau sejumlah kritik terhadap PBB dan lembaga dunia terkait, hanya       bagian dari show yang harus dilakoki Jokowi. Bisa jadi juga kritik tersebut hanya respon emosional belaka karena beberapa waktu lalu Ban Ki Moon, Sekjen PBB ikut intervensi terhadap kebijakan eksekusi mati Bali Nine. Namun jika ditelisik lebih dalam, pidato pembukaan tersebut memang bukan sekedar retorika seremonial belaka. Pidato tersebut membawa sejumlah pesan politik dan ideogis bagi dunia, bukan saja bagi peserta KAA.

Jokowi benar-benar menegaskan posisi dan cara pandang Indonesia dalam menyikapi isu-isu global seperti kesenjangan ekonomi, hankam dan masalah-masalah global lainnya. Dalam pidatonya Jokowi melakukan self-endorsement dengan menggarisbawahi kekuatan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara dengan penduduk muslim terbesar dunia yang siap berperan membangun kepemimpinan global yang lebih adil dan bertanggungjawab.


Akhirnya, kita berharap strategi diplomasi yang dimunculkan lewat pidato ini tepat sasaran. Memberi kritik itu ada seninya. Jika tidak dilakukan dengan bijak maka kritik dapat menjadi bumerang yang berbalik membawa masalah. Mengkritik orang per orang saja bisa mendatangkan masalah bagi si pengkritik, kendati kritiknya bersifat membangun. Apalagi yang dikritik adalah organisasi kelas dunia, yang dibekingi oleh sejumlah negara-negara adikuasa paling berpengaruh di dunia. (PG)

Selasa, 14 April 2015

Mutasi Bukan Satu-satunya Solusi



Dalam tim selalu ada orang yang berada di urutan belakang. Saat tim dituntut untuk berlari kencang mengejar target demi target perusahaan, orang seperti ini yang selalu membuat tim berlari pincang. Ciri-ciri mereka cukup mudah diidentifikasi. Antara lain: suka mengeluh, kurang disiplin, tidak suka mendapat tambahan job, sukar bekerja mandiri, tidak kreatif, minim prestasi, dan etos kerja rendah. Tidak bisa dipungkiri, motivasi kerja itu memiliki siklusnya sendiri. Siapapun bisa mengalami demotivasi apalagi saat berhadapan dengan tekanan dan tuntutan pekerjaan yang datang silih berganti, menguras konsentrasi dan pemikiran. Namun orang seperti ini demotivasinya berkepanjangan dan levelnya sudah siaga satu, sehingga jika terus dipelihara bisa mengancam keberlangsungan tim secara keseluruhan.

Saat manajer mendiagnosa orang-orang seperti ini, muncullah sekian penyebab masalah. Beberapa penyebab kinerja mereka yang buruk antara lain:

1.       Tidak mampu beradaptasi dengan budaya kerja organisasi
2.       Tidak memiliki kapasitas yang memadai
3.       Tidak puas dengan sistem kompensasi yang diterapkan organisasi
4.       Tidak merasa diterima dalam tim
5.        Persaingan tidak sehat tim dan lain-lain.


Itu belum termasuk masalah-masalah yang berhubungan dengan pribadi atau karakter mereka. seperti ada masalah keluarga, malas bekerja dan lain-lain. Penyebab seperti ini pun seringkali sulit terdeteksi, kecuali yang bersangkutan mau jujur kepada atasannya. Oleh karena itu biasa yang muncul di permukaan adalah masalah-masalah legal formal saja, masalah yang berhubungan dengan sistem kerja, sistem kompensasi dan struktur manajemen. Akibatnya bisa salah diagnosa.

Sehingga saat mencari solusi, seringkali pikiran yang paling pertama melintas di kepala para manajer tim adalah mengutak-atik struktur manajemen tim mereka. Mutasi pun dilakukan. Apakah itu mutasi posisi dalam tim, mutasi antar divisi, atau mungkin demosi. Harapannya, pada lingkungan kerja dan beban kerja baru (yang mungkin lebih ringan) “mudah-mudahan” mereka bisa bekerja dengan lebih baik.  

Lalu evaluasi dilakukan kembali. Jika langkah yang diambil sudah tepat, mestinya kinerja orang-orang ini meningkat, prestasinya mulai kelihatan dan performa tim pun meningkat. Tapi bagaimana jika ternyata masalah orang-orang ini juga tidak kunjung selesai, malah membawa masalah baru pada lingkungan kerja mereka yang baru? Artinya yang bermasalah bukan semata strutur manajemennya melainkan person-nya yang harus diperbaiki.

Untuk masalah yang penyebabnya benar-benar bersifat pribadi mungkin tidak bisa 100% diselesaikan oleh perusahaan, karena menyangkut hubungan pribadi karyawan yang bersangkutan dengan orang-orang di luar perusahaan. Namun untuk masalah karakter, sebenarnya ada sejumlah cara yang bisa ditempuh perusahaan. Ikutkan karyawan yang bersangkutan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat mengembangkan kepribadian, seperti misalnya: Seminar mengenai etos kerja, kegiatan outbondyang bersifat team building, training kepemimpinan, retret keagamaan, dan kegiatan-kegiatan sejenis.  Akan lebih efektif kalau perusahaan menyelenggarakan program-program seperti ini secara rutin karena perusahaanlah yang memahami budaya kerja dan kebutuhan organisasi yang dituntut dari yang bersangkutan. Sesekali juga bisa menggunakan jasa pihak ke tiga yang lebih independen misalnya psikolog, untuk memberi konseling kepada karyawan-karyawan bermasalah ini. Diharapkan dengan cara demikian mereka lebih terbuka terhadap permasalahannya.

Dari sisi manajemen sendiri, mungkin tidak ada salahnya mereview kembali sistem kompensasi, policy, manual operationalatau  sistem reward and punishment yang diterapkan perusahaan. Apakah masih relevan atau sudah perlu di-updatelagi untuk menjawab permasalahan-permasalahan terbaru yang dihadapi organisasi.

Jika segala upaya telah dikerahkan, dan hasilnya masih nihil. Mungkin sekarang saatnya manajer tim mempertimbangkan kembali keberadaan orang-orang ini dalam organisasi. Jika memang harus, lebih baik perusahaan mengambil resiko. Memutuskan hubungan kerja dengan karyawan tersebut dan merekrut karyawan baru. Memang akan muncul konsekuensi waktu, biaya dan sumber daya yang dipakai untuk menggembleng orang baru ini. Namun bisa jadi itu harga yang lebih pantas dibayar dibanding menghabiskan energi untuk mengurusi masalah-masalah akibat orang lama yang tidak produktif.


Selamat berkarya. (PG)

____________________________

ilustrasi gambar dari: smallbusiness.chron.com

Sabtu, 11 April 2015

Mau Korupsi? Ingat Keluarga



Akal budi adalah berkat dari Tuhan yang membedakan manusia dari ciptaan yang lain. Akal budi inilah yang kemudian mengangkat derajat manusia, tapi jika tidak digunakan dengan bijak, akal budi juga yang kemudian bisa menjeremuskannya ke dalam jerat dosa.

Penipuan, pencurian, korupsi dan sejumlah kejahatan lain adalah contoh perbuatan-perbuatan tidak jujur yang berpangkal pada bagaimana manusia menggunakan pikirannya dengan cara yang salah. Kejahatan seperti ini adalah perbuatan yang membuat orang lain kehilangan hak-haknya sehingga semua norma yang berlaku dalam masyarakat kita tidak membenarkan perbuatan tersebut. Norma agama, hukum, budaya dan sosial masing-masing memiliki cara untuk menolak praktek-praktek perbuatan tidak jujur itu dalam masyarakat.  


Namun untuk menangkal kejahatan terselubung seperti korupsi, sepertinya negara ini masih butuh banyak pencerahan dan penguatan. Makanya Jokowi melahirkan pemikiran “revolusi mental” untuk menata kembali mental birokrasi dan seluruh sendi-sendi masyarakat negeri ini.  


Mungkin saat ini kita juga sedang tergoda untuk mengambil resiko untuk melakukan korupsi atau perbuatan-perbuatan tidak jujur lainnya. Jika demikian adanya, sebaiknya kita berpikir jernih kembali. Jika norma-norma tidak juga membuat kita takut, masih ada satu cara untuk menyadarkan kita. Ingatlah keluarga.

Jika dilaknat agama kita masih bisa ngeles dengan mengatakan “Itu urusan saya sama Tuhan.” Jika tertangkap tangan hukum dan terkena sanksi sosial, kita bisa saja pasang muka tembok dan tidak peduli terhadap cibiran orang-orang di sekitar kita. Tapi jangan lupa, keluarga yang kita tinggalkan di belakang itu yang akan menerima imbasnya. Mereka akan dikucilkan oleh lingkungannya. Jika anak-anak masih berada dalam lingkungan pendidikan, mereka akan diledek habis-habisan oleh kawan-kawannya. Untuk anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, goncangan sosial seperti ini pasti akan membawa pengaruh negatif terhadap kejiwaannya.

Kita mungkin bisa tidak peduli terhadap hukuman yang menimpa kita, wong di penjara sana kita bertemu dengan orang-orang sejenis. Tapi bisa dipastikan keluarga kita punya batas kesabaran menghadapi label negatif yang diberikan lingkungannya.

Contoh kasus sudah banyak. Contoh kasus yang bisa kita lihat dari pemberitaan okenews.com hari ini mengenai anak bungsu Atut Chosiyah, Ananda Triana Salichan yang terpaksa berhenti sekolah karena malu dan tidak tahan lagi diledek kawan-kawannya. Yang tersangkut kasus suap sengketa Pilkada Lebak, Banten itu ibunya tapi anaknya terpaksa ikutan jadi korban sangsi sosial dari lingkungannya. Bagaimana nanti nasib pendidikannya? Bagaimana membenahi keadaaan psikologisnya? Bagaimana pula masa depannya?

Berkaca dari peristiwa ini, mungkin sudah saatnya kita memberi nasihat bagi anak atau adik kita agar tidak begitu saja menghakimi kawan-kawannya karena ulah orang tuanya. Mereka harus diberi pelajaran bahwa sekalipun anak dengan orang tua itu sangat erat hubungannya, anak tidak bisa serta merta menerima label jelek  akibat dosa yang dilakukan orang tuanya. Setiap orang dewasa diberi kebebasan untuk mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkan konsekuensi keputusan itu.

Sekali lagi, sebelum memutuskan untuk mengambil pilihan yang beresiko entah baik atau buruk, ingatlah keluarga yang kita sayangi. Kehidupan kadang menjadi begitu kejam bahkan bagi orang-orang yang tidak bersalah sekalipun. (PG)

______________________________________

Ilustrasi gambar dari: shariaunveiled.wordpress.com

Kamis, 02 April 2015

Membunuh Waktu dengan Gadget Anda


Bagi sebagian orang, menunggu adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Membayangkan banyak hal yang bisa kita lakukan jadi tertunda gara-gara terjebak antrian atau gara-gara menunggu sesuatu memang cukup menjengkelkan. Apalagi bagi masyarakat modern yang irama kehidupannya begitu cepat. Jangankan sejam dua jam, membuang waktu lima atau sepuluh menit pun rasanya sayang sekali.

Oleh karena itu, akhir-akhir ini organisasi komersil khususnya yang bergerak dalam bidang jasa selalu melakukan inovasi agar pelanggannya mampu mengakses layanan mereka tanpa butuh banyak antrian. Maka lahirlah sejumlah teknologi yang memudahkan hidup kita, seperti layanan e-banking dari perbankan, fasilitas city check in dari maskapai, delivery service dan layanan sejenis. Tujuannya agar pelanggan tidak perlu repot-repot mengantri di depan counter atau staf mereka.

Kendati demikian, masih ada sejumlah aktivitas yang mengharuskan kita terpaku di antara antrian lain dan menunggu panggilan atau giliran kita. Misalnya: Menunggu pesawat yang delay, mengantri di poliklinik, mengantri saat mengurus SIM atau aktivitas sejenis.

Nah, jika terjadi demikian yang bisa kita lakukan adalah mencari cara untuk membunuh waktu (killing the time) agar waktu menunggu jadi tidak terasa. Jika anda seorang yang mudah berkawan, mungkin dalam waktu tidak terlalu lama anda sudah menemukan kawan mengobrol suasana menunggu jadi lebih menyenangkan. Namun banyak pula orang yang enggan berinteraksi dengan orang-orang di kanan kiri dan lebih memilih untuk sibuk mengutak-atik gadget-nya saat menunggu.

Hanya saja yang dilakukan mungkin tidak banyak, paling ber-sosmed doang. Padahal berbekal gadgetdi tangan, baik itu smartphone maupun tablet, suasana menunggu bisa jadi menyenangkan sehingga tanpa terasa waktu berlalu.

Pada mode on-lineanda bisa menggunakan gadget untuk chatting, mengomentari status-status terbaru kawan-kawan anda, atau menyambangi portal-portal berita untuk mengikuti perkembangan zaman.

Tapi pada mode offlinealias tanpa hubungan dengan jaringan internet, gadget pun bisa jadi teman asyik menghabiskan waktu. Misalnya:
1.Games. Ini aktivitas favorit saya. Cobalah habiskan waktu menunggu dengan permainan ringan namun tetap menghibur, agar pikiran tidak tambah mumet misalnya bermain onet, reverse dan permainan lain.
2.Mendengarkan musik. Jika sudah ada agenda untuk mengantri ria, jangan lupa membawa headset atau earphone, lalu siapkan lagu-lagu favorit anda. Bisa juga anda menggunakan waktu untuk menghafal lirik lagu baru favorit anda. Pasti menyenangkan.
3.Edit gambar. Lihat kembali galer foto dalam gadget anda, foto spontan, foto komunitas, foto selfie dan foto-foto lainnya.  Jika ada gambar yang menarik, cobalah edit dengan menambahkan teks, mengubah warna dan menciptakan efek-efek tertentu agar gambar lebih berkesan. Diunggah ke sos-med lalu ditambahkan komentar lucu juga bisa jadi alternatif menarik.
4.Kerja tugas. Kadang-kadang deadline yang bertumpuk membuat kita kewalahan membagi waktu. Padahal mengerjakan tugas kantor tidak mesti dilakukan di kantor. Sambil menunggu anda pun bisa memanfaatkan gadget untuk mengerjakan tugas demi tugas. Yang penting sudah ada aplikasi perkantoran yang terinstal disana.
5.Menulis. Ilham atau inspirasi seringkali tiba di saat-saat yang tidak kita duga. Bisa jadi saat kita sedang menunggu, inspirasi datang. Jangan lewatkan begitu saja. Tangkaplah dalam bentuk tulisan, dan dokumentasikan dalam gadget anda. Sebagai contoh, artikel ini sekitar 30%-nya (garis-garis besar tulisan) saya buat saat menemani istri menunggu dokternya di rumah sakit.

Masih banyak hal-hal lain yang bisa anda lakukan dengan memanfaatkan gadget anda. Terakhir, yang mesti diingat adalah berusaha tetap “sadar” dengan keadaan di sekitar anda. Perhatikan juga sikon di sekitar anda. Siapa tahu gadget mahal anda memancing perhatian orang-orang yang berniat jahat.
Jangan sampai juga karena keasyikan dengan gadget, anda mengabaikan jalannya antrian sehingga nomor panggil anda terlewat. Atau lebih parah, anda jadi ketinggalan pesawat. (PG)

__________________

ilustrasi gambar dari: www.tahupedia.com