Senin, 30 Maret 2015

Mengapa Utang Tidak Pernah Habis?


Rasanya sebagian besar orang pernah terlibat dengan urusan utang piutang. Kalau ada survei yang menghitung berapa banyak pembaca yang saat ini sedang memiliki pinjaman (pinjaman dari  perbankan, koperasi, lembaga pembiayaan atau pinjaman dari teman, tetangga dan keluarga), Saya yakin lebih banyak  yang memiliki pinjaman dibanding yang tidak memiliki pinjaman.

Sebenarnya pinjaman juga adalah salah satu bagian dari strategi pengelolaan arus kas keluarga, selama pinjaman tersebut dikelola secara bijak.

Namun adakalanya, utang berbalik menjadi jerat seperti labirin yang memaksa kita untuk masuk semakin dalam sehingga semakin sulit menemukan jalan keluarnya. Untuk utang produktif pada umumnya tidak akan menjadi masalah, karena pinjaman tersebut dapat membiayai dirinya sendiri. Lain halnya dengan pinjaman yang bersifat konsumtif. Robert T. Kyosaki menyebut pinjaman konsumtif sebagai “utang jahat” karena melibatikan diri dengan pinjaman konsumtif membuat kita merampas pendapatan kita di masa depan untuk memuaskan keinginan kita hari ini.

Ada beberapa kebiasaan yang membuat masalah utang tidak pernah beranjak jauh-jauh dari kita. Beberapa penyebabnya antara lain:

 Menambah Utang Baru
Utang lama masih tersisa banyak namun kita tergoda untuk membuat utang baru. Jika utang baru tersebut tidak menggerus pendapatan, mungkin tidak akan menjadi masalah berarti. Namun bagaimana jika dengan menambah pinjaman baru, total saldo pinjaman kita juga meningkat sehingga kita semakin kewalahan membayar tagihan-tagihannya. Jangan lupa saat membayar utang, kita harus membayar pokok plus bunga pinjaman. Jadi semakin besar saldo pinjaman, semakin besar pula kewajiban kita. Menutupi pinjaman lama dengan pinjaman baru atau gali lobang tutup lobang juga sama saja dampaknya.

Menunda pembayaran
Sebenarnya menunda kewajiban hanya memindahkan masalah hari ini ke hari esok. Padahal hari esok juga sudah memiliki masalah yang harus kita hadapi. Jadi sedapat mungkin bayarlah pinjaman tepat waktu. Apalagi beberapa lembaga keuangan memberikan pinalti untuk setiap keterlambatan pembayaran debiturnya yang jumlahnya semakin tinggi seiring semakin lamanya keterlambatan pembayaran si debitur. Pinalti ini cukup merugikan.

 Membayar Minimal
Jebakan lain dalam jerat utang adalah pembayaran angsuran minimal. Untuk pinjaman dengan sistem pembayaran flat dan anuitas mungkin kita tidak diberi banyak kebebasan untuk memilih besaran angsuran setiap periode pembayaran. Namun untuk sistem pembayaran efektif, kita dapat membayar lebih besar dari standar pembayaran angsuran minimal yang diwajibkan. Dengan membayar angsuran minimal kita hanya akan memperpanjang jangka waktu pelunasan utang.

 Kredit dengan Bunga 0%
Seringkali kita terpesona dengan promo seperti ini dan promo kredit berbunga lunak lainnya yang seringkali digunakan pada iklan kredit gadgetdan barang-barang mewah.  Jika tergoda, akhirnya kita pun jatuh ke dalam jerat utang konsumtif. Memang pada umumnya jangka waktu pembayaran untuk kredit seperti ini tidak lama, hanya 6 bulan sampai satu tahun. Tapi jika kita sering-sering terlibat dengan utang seperti ini, kita juga tidak kunjung keluar dari belitan utang.

 Utang pada orang dekat
Pinjaman pada keluarga, tetangga, atau teman dekat memang benar-benar tanpa bunga. Tapi tak jarang karena tidak diikat oleh akad kredit seperti pinjaman pada lembaga keuangan, kita jadi melalaikan pembayarannya. Ini juga yang menyebabkan beberapa orang jadi doyan pada jenis utang yang satu ini sehingga tanpa sadar mereka semakin jauh tenggelam dalam utang. Orang-orang terdekat kita juga mungkin tidak akan segera menagih kalau mereka juga tidak membutuhkan dana tersebut segera. Tapi selagi masih diberi judul “utang”, kita masih memiliki kewajiban yang harus kita penuhi.

Gaya hidup yang tidak sesuai
Jika pendapatan anda sebesar Rp 3.500.000, per bulan mestinya biaya gaya hidup anda tidak lebih dari Rp 3.500.000, per bulan. Jika biaya gaya hidup anda lebih dari itu berarti anda mesti mendatangkan sumber pendapatan tambahan. Jika tidak, kekurangan pendapatan tersebut ditutupi dari utang atau kredit. Gaya hidup seperti inilah yang menyebabkan beberapa orang terus menambah koleksi kartu kreditnya, dan terus jatuh semakin dalam dalam jerat utang.  

Masih ada penyebab-penyebab lain yang tidak bisa diramalkan seperti misalnya penurunan pendapatan yang terjadi tiba-tiba yang membuat kita harus bernegosiasi dengan kreditur dan merestrukturisasi jangka waktu pinjaman menjadi lebih lama. Namun pada umumnya sebagian besar penyebab kita tidak juga keluar dari jerat utang jahat adalah kebiasaan konsumtif kita dalam memenuhi keinginan: “Ambil sekarang, bayar kemudian.”


Jadi langkah pertama yang harus dilakukan untuk keluar dari labirin jerat utang adalah belajar mengelola pinjaman dengan merubah gaya hidup. Merubah gaya hidup pun bukan pekerjaan yang mudah, karena berkaitan dengan perubahan mindset. Dengan menggeser mindset ke arah yang lebih produktif mungkin saja kita tetap berada tidak jauh dari utang. Tapi paling tidak kita telah memperlakukan utang dengan lebih bijak, bukan sebagai sarana memuaskan keinginan belaka tapi menjadi bagian dari cara untuk memaksimalkan pengelolaan keuangan keluarga. Jauhi utang jahat dan bangunlah utang produktif. (PG)

__________________

ilustrasi gambar dari: www.familyaware.org

Rabu, 25 Maret 2015

Rapat Deadlock? Ini Tipsnya.


Seberapa sering anda mengalami deadlock saat mengikuti atau memimpin sebuah meeting? Sebagian besar orang-orang yang berkecimpung dalam organisasi pernah mengalaminya. Semakin tinggi level pengambilan keputusan dalam sebuah rapat, semakin tinggi pula peluang terjadinya kebuntuan pada rapat tersebut. Sebenarnya perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang sangat wajar, karena dalam sebuah rapat pikiran-pikiran manusialah yang dikelola untuk mencapai sebuah pemikiran bersama.  Yang penting setiap orang memiliki orientasi yang sama dan memahami visi, misi organisasi.

Namun tidak jarang terjadi, perbedaan pendapat ini tidak bisa diolah dengan baik oleh pemimpin rapat sehingga rapat menjadi mandek. Suasana rapat menjadi sangat tidak nyaman. Apalagi kalau kebuntuan tersebut sudah sampai ke tahap gebrak menggebrak meja, saling tuding dengan kata-kata kasar atau malah konfrontasi fisik antar peserta rapat.
 

Wah, jangan harap ada keputusan terbaik yang diambil jika atmosfir rapat sudah sekacau itu. Kebuntuan saat rapat yang diakibatan perbedaan pendapat sebenarnya dapat diminimalkan dengan strategi-strategi tertentu.  Seperti misalnya: memaksimalkan agenda rapat, memberi prioritas pada isu strategis, dan tidak memberi ruang pada peserta rapat untuk berbicara bertele-tele atau menyimpang dari agenda yang sebenarnya.

Namun apabila sudah terlanjur terjadi deadlock, dan kebetulan anda berada pada posisi pemimpin rapat, ada beberapa tips yang bisa anda lakukan:
  1.      Break. Rapat berjam-jam dengan volume pembicaraan yang padat bisa saja membuat pikiran kita carut-marut. Ada baiknya saat tim yang anda pimpin belum bisa mencapai kata sepakat, cobalah mengambil sedikit waktu untuk rehat. Seringkali solusi cemerlang diperoleh di luar ruang rapat yang formal. Seringkali inspirasi-inspirasi yang tidak terpikirkan sebelumnya datang saat kita menyesap kopi dengan santai bersama teman sedivisi atau bahkan saat peserta rapat yang tadinya adu urat leher, tiba-tiba menemukan solusi  bersama saat ngobrol dengan suasana yang lebih casual.  
  2.      Cari akar masalah.  Saat terjadi masalah yang mengganjal kelancaran agenda rapat. Cobalah fokus dan bedahlah masalah tersebut sampai ke akar-akarnya.  Jangan puas dengan mendengarkan masalah yang ada di permukaan saja. Urai permasalahannya sampai ke hal-hal teknis praktis yang mungkin menurut sebagian orang adalah hal-hal remeh yang tidak perlu diangkat ke permukaan. Misalnya bagian finance dan bagian marcomm di tim anda selalu berdebat mengenai budget promosi. Orang finance anda komplain karena biaya promosi selalu membengkak dan realisasinya selalu di atas arus kas, sementara marcomm anda mengatakan biaya promosi naik karena harga-harga memang naik. Mungkin pada rapat anda bisa meminta marcomm anda memaparkan laporan operasionalnya sampai ke hal-hal teknis di lapangan serta SOP yang dijalankannya. Jika memang terbukti ada pelanggaran atau ketidakefisienan, maka anda sudah tahu tindakan yang harus dilakukan. Jika laporan marcomm bisa diterima, maka mungkin solusinya bagian financeharus bekerja untuk mengajukan revisi arus kas perusahaan.  
  3.    Review Agenda. Kadang-kadang mereview kembali agenda rapat penting untuk mengingatkan seluruh peserta rapat mengenai beban pembicaraan yang semestinya diselesaikan pada rapat tersebut. Jika memang pada satu agenda tidak dicapai kata sepakat, cobalah beralih pada agenda berikutnya. Siapa tahu ada pencerahan saat anda dan tim  melakukan pembahasan pada materi rapat yang lain. Disamping itu, penggunaan waktu juga jadi lebih efektif.
  4.        Hindari asumsi. Sedapat mungkin berikan ruang lebar kepada peserta rapat yang anda pimpin untuk adu argumen namun berbasis data yang akurat dan komprehensif. Kebuntuan dalam rapat seringkali terjadi diakibatkan adu argumen yang berbasis asumsi belaka. Asumsi-asumsi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan seringkali mengaburkan analisis dan menimbulkan kesulitan dalam memutuskan rekomendasi rapat. Menurut tim penjualan, omset restoran anda menurun karena cita rasa masakan berkurang, sementara itu kepala koki mengatakan mereka harus mengakali proses produksi karena kenaikan harga BBM dan beberapa bahan tidak diimbangi dengan kenaikan budget yang diberikan. Lalu orang finance anda mengatakan memang anggaran cukup terbatas karena pendapatan juga terbatas. Nah, jika semua argumen di atas tidak didasarkan pada data, maka anda sebagai pengambil keputusan akan dibuat kebingungan. Salah satu strategi untuk pengambilan keputusan adalah survei kepuasan pelanggan. Benarkah hasil survei mengatakan bahwa pelanggan restoran anda tidak puas karena cita rasa atau karena faktor lain? Mungkin saja karena kenaikan harga-harga membuat pelanggan mengurangi frekuensi kunjungannya. Atau ada restoran lain yang baru dibuka di sekitar tempat usaha anda. Solusi-solusi terhadap permasalahan yang terjadi hanya bisa diketahui dengan data-data yang lebih kuat dibanding sekedar asumsi belaka. Menghindari asumsi juga dapat meminimalkan perbedaan pendapat yang terjadi karena ada interest conflict  dalam organisasi anda yang biasa sulit dideteksi.   
  5.    Voting. Ini mungkin cara paling terakhir jika semua strategi dan pemikiran yang dicurahkan tetap berujung pada kemandekan. Cari tahu mayoritas pemikiran dari peserta rapat dengan melakukan voting atau perhitungan suara. Memang voting bukanlah strategi pengambilan keputusan yang paling benar. Namun paling tidak, voting dapat menjadi dasar pertanggungjawaban rekomendasi sebuah rapat. Sehingga pada notulenis atau berita acara rapat, proses voting ini wajib dicantumkan. Jika semua peserta rapat sudah memiliki pemahaman organisasi yang baik, apapun hasil voting yang diperoleh harus diterima dan diberlakukan sebagai sebuah keputusan bersama seperti halnya keputusan yang diambil berdasarkan musyawarah.


Beberapa strategi lain juga bisa ditempuh, misalnya menunda rapat selama satu atau dua hari untuk mendinginkan kepala peserta rapat. Penundaan ini juga bisa membantu anda mencari referensi yang dibutuhkan  untuk merumuskan alternatif solusi. Atau anda bisa menunda rapat untuk menghadirkan orang-orang yang dapat membantu kelancaran rapat anda nantinya, seperti orang-orang kunci, pengambil keputusan yang levelnya lebih tinggi atau mungkin konsultan, dan tim advisory jika memungkinkan.

Ringkas kata, mengelola rapat artinya mengelola pemikiran orang-orang. Deadlock mengindikasikan orang-orang yang anda pimpin telah mencurahkan pemikirannya, hanya saja belum ada solusi paling tepat untuk mempertemukan pemikiran-pemikiran tersebut. Berupayalah semaksimal mungkin untuk mengenali karakter dan alur berpikir setiap orang dalam tim anda sehingga anda lebih punya banyak stok peluang menyatukan mereka. Jangan lupa selalu berorientasi pada visi, misi atau tujuan besar organisasi karena rapat yang anda pimpin adalah bagian dari arah gerak organisasi mencapai tujuan tersebut. selamat berkarya.(PG)

__________


Ilustrasi gambar dari: genius.com

Minggu, 22 Maret 2015

Ini Ciri Orang di Depan Anda Sedang Berbohong


Pesan non-verbal atau yang lebih sering kita sebut bahasa tubuh seringkali lebih menimbulkan kesan lebih dalam saat berkomunikasi dibanding pesan verbal atau kata-kata yang diucapkan. Oleh karena itu jika bertemu dengan orang baru, kita seringkali lebih mengingat kesan tentang orang tersebut. Apakah dia seorang yang ramah, judes, pemalu dan sebagainya, dibanding isi pembicaraan kita dengannya.  

Menariknya, bahasa tubuh ternyata sulit dimanipulasi karena bahasa tubuh adalah spontanitas yang diperintahkan oleh alam bawah sadar kita. Beberapa orang memang terlatih memanipulasi bahasa tubuh karena tuntutan profesi, seperti artis atau politikus. Namun untuk orang yang awam untuk itu bahasa tubuh adalah reaksi natural. Idealnya bahasa verbal dan non-verbal berjalan selaras, sebab sesungguhnya tubuh kita adalah sebuah paket komunikasi lengkap.

Orang yang berbohong berarti sedang memanipulasi bahasa verbalnya. Namun saat kita sedang memikirkan kata-kata yang akan diucapkan, kita tidak lagi berkonsentrasi sepenuhnya pada bahasa tubuh kita sehingga bahasa tubuh yang nampak mencoba menunjukkan terjadi ketidakselarasan. Oleh karena itu ketidakjujuran dapat juga dideteksi dari bahasa tubuh seseorang.

Berikut beberapa bentuk bahasa tubuh orang yang sedang berbohong. Walaupun tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan, anda bisa membuat kesimpulan awal atau mengambil sikap untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya  kebohongan.

1.       Mengalihkan pandangan mata. Mata adalah jendela jiwa. Oleh karena itu ketidakjujuran seseorang paling gampang diamati dengan memperhatikan matanya. Orang yang sedang berkata tidak jujur, seolah ingin menyembunyikan pancaran jendela jiwanya itu sehingga seringkali mengalihkan pandangan ke tempat lain sambil terus berbicara. Lawan bicara tidak berani ditatapnya karena takut kebohongannya ketahuan. Masih berkaitan dengan mata, hal lain yang bisa kita amati untuk mendeteksi ketidakjujuran seseorang adalah kedipan matanya. Kedipan orang yang berbohong cenderung bertambah cepat karena dia sedang menyembunyikan kegugupannya. Gerakan mengalihkan pandangan mata ini juga biasa diikuti dengan gerakan memalingkan atau menyembunyikan wajah.
2.       Menutup mulut. Saat berbohong, otak bawah sadar menyuruh tangan untuk segera menutup mulut. Gerakan ini serupa dengan spontanitas kita saat tertawa terbahak-bahak, lalu mendadak menutup mulut kita, seolah ingin menghentikan tawa yang berlebihan. Namun kadang juga, gerakan ini tersamar dengan gerakan lain. Seperti pura-pura terbatuk, menyentuh hidung, atau gerakan-gerakan lain yang menyerupainya.
3.       Menggaruk leher. Saat berbohong beberapa saraf di tubuh kita akan bereaksi. Kedipan mata di atas adalah contoh reaksi saraf-saraf di sekitar mata. Saraf lain yang bereaksi adalah saraf di daerah leher. Imbasnya, orang yang sedang berbohong biasa menggaruk lehernya dengan satu atau dua jari.  
4.       Perubahan Nada Suara. Beberapa orang menjadi gugup saat berbohong, sehingga terjadi perubahan pada nada bicaranya. Perubahan intonasi ini biasa diikuti dengan suara yang terdengar kurang jelas, sehingga lawan bicara perlu mengulang kata-kata pembicara untuk konfirmasi. Memang intonasi ini bukan bagian dari bahasa tubuh namun sedikit banyak juga bisa dijadikan salah satu alat menilai kejujuran seseorang.

Masih ada beberapa bahasa tubuh lain yang bisa digunakan untuk mendeteksi kebohongan. Namun pada umumnya bahasa-bahasa tubuh itu cukup eksplisit atau orang yang berbohong tidak bisa menyembunyikan kegugupan karena kebohongannya. Misalnya: Bibir gemetar, perkataan yang diiringi senyum yang dibuat-buat, sikap atau gerakan tangan menjadi tidak teratur, dan wajah kelihatan pucat. Atau bisa juga orang yang sedang berbohong berusaha terlihat wajar, namun malah kelihatan terlalu wajar. Seperti misalnya wajah yang datar tanpa ekspresi, atau badan terlihat kaku.

Demikian beberapa contoh bahasa non-verbal yang bisa menjadi indikator seseorang sedang berkata jujur atau tidak jujur. Namun agar kita tidak keliru menafsirkan, beberapa contoh bahasa tubuh itu harus diselaraskan satu sama lain. Jika beberapa kombinasi gerakan itu cocok, bisa jadi orang di depan kita  sedang berbohong. Tapi bisa jadi juga dia hanya melakukan gerakan spontan saja.

Reaksi selanjutnya terserah kepada kita sebagai lawan bicara. Jika orang terdekat kita sudah menunjukkan indikasi perkataan yang tidak jujur, kita bisa mencecarnya dengan pertanyaan selanjutnya untuk mengorek informasi lebih jauh. Atau bisa jadi kita membiarkan dia  merasa kita mempercayai ucapannya sambil diam-diam menyelidiki apa sebenarnya yang sedang disembunyikan. (PG)

____________________

ilustrasi gambar dari: pinoria.com

Kamis, 19 Maret 2015

Salon Gratis untuk Tunawisma di Vatikan

Fasilitas kamar mandi umum untuk para tunawisma. Gambar dari: christiantime.com

Selama ini, orang miskin dan tunawisma di Vatikan, Roma, tidak kesulitan mengisi perut mereka. Selalu ada makanan dari kebaikan orang lain yang menunjang hidup mereka. Tetapi mereka cukup kesulitan menemukan tempat untuk mandi dan membersihkan diri.
Hal ini terungkap dari perbincangan dari hati ke hati antara seorang gelandangan bernama Franco dengan tangan kanan Paus, Uskup Kepala Bidang Karitatif, Monsinyur Konrad Krajewski.

Dikisahkan christiantimes.com, Monsinyur Krajewski pada akhir Oktober tahun bertemu Franco di luar gereja usai memberikan sakramen absolusi. Terungkap hari itu Franco genap berusia 50 tahun kendati di usia setua itu, dia masih saja terlunta-lunta di jalanan.

Monsinyur Krajewski pun mengajak Franco makan malam kecil-kecilan untuk merayakan kegembiraan tersebut. Tetapi Franco merasa minder. “Bapa, saya tidak bisa pergi ke pergi ke restoran bersama Bapa, karena saya bau…,” ucap Franco.


Tetapi Monsinyur Krajewski tetap memaksa. Mereka pun pergi ke sebuah restoran China dan meneruskan percakapan di sana. Dalam perbincangan tersebut, Franco kembali mengungkapkan masalah keterbatasan fasilitas mandi di Roma khususnya Vatikan. “Disini, tidak ada orang yang mati kelaparan, kami dapat menemukansandwich setiap hari. Tapi tidak ada tempat untuk menggunakan toilet dan mandi…”

Ucapan Franco yang menyentuh itu membekas di benak Monsinyur Krajewski. Dia lalu menyampaikan keprihatinan tersebut pada Paus Fransiskus. Gayung pun bersambut. Tak lama kemudian, Vatikan merenovasi sebuah gedung di kompleks St. Petrus yang selama ini digunakan sebagai fasilitas untuk para peziarah dan wisatawan menjadi fasilitas berisi sejumlah kamar mandi umum dan salon untuk para tunawisma.

Pada tanggal 16 Februari lalu, fasilitas-fasilitas ini resmi digunakan.

Kamar mandi umum dibuka setiap hari kecuali hari Rabu, pada saat Paus mengadakan audiensi dengan masyarakat dan mengadakan perayaan di basilika St. Petrus.

Sedangkan salon untuk tunawisma dibuka hanya pada hari Senin dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 03.00 sore waktu setempat. Salon tersebut menawarkan servicepotong rambut dan bercukur. Sejumlah orang termasuk para lulusan sekolah penata rambut di Roma dengan senang hati menjadi relawan untuk jasa salon ini, setelah sebelumnya mereka juga mendonasikan sejumlah perkakas untuk melengkapi salon seperti kursi-kursi, peralatan potong rambut sampai cermin.

Bagaimana komentar para tunawisma? Tentu mereka merasa sangat bersyukur. Mauro Casubolo, salah satu yang diwawancarai media berucap, “Ini adalah kebaikan yang terjadi pada diri kami, khususnya kami yang tinggal di jalanan. Saat anda ingin mencari kerja, anda bisa ketempat ini untuk mandi dan merapikan diri.”.

Selain mendapat pelayanan kamar mandi gratis, para tunawisma juga mendapat donasi pakaian dalam dan seperangkat peralatan mandi seperti sabun, handuk, sikat, odol, deodorant dan pencukur serta krim cukur.

Luar biasa. Mudah-mudahan negara kita semakin lama semakin sejahtera dan kuat. Sehingga pada masa yang akan datang pemerintah kita juga punya karya sosial serupa untuk memperhatikan rakyatnya yang berkekurangan. (PG)
______________
Referensi:

also posted at Kompasiana 

Selasa, 17 Maret 2015

Lebih Akrab dengan Opportunity Cost


Dalam kaidah manajemen keuangan, kita mengenal istilah opportunity cost atau biaya peluang. Secara praktis opportunity costdapat diartikan sebagai biaya yang harus kita tanggung akibat memilih suatu peluang dan mengabaikan peluang yang lain. Sebagai contoh: anda memiliki dana Rp 2.000.000,- saat ini. Dengan uang itu anda dapat memilih untuk membeli sebuah sepeda atau menabung uang tersebut. Jika anda memilih untuk membeli sepeda, maka anda kehilangan peluang untuk menabung uang tersebut. Jika seandainya anda menabung uang tersebut pada tabungan dengan bunga tabungan 5% per tahun, maka tahun depan uang anda sudah bernilai Rp 2.100.000,- bandingkan dengan sepeda yang tahun depan nilai ekonominya malah menurun. Artinya dengan memilih untuk membeli sepeda, maka opportunity cost-nya adalah anda kehilangan peluang investasi sehingga uang anda bernilai Rp 2.100.000.  Sebaliknya, jika anda memilih untuk menabung uang tersebut, anda akan kehilangan peluang untuk membeli sepeda. Opportunity cost-nya adalah anda kehilangan kesempatan untuk berolahraga dengan sepeda (menghemat biaya kesehatan jangka panjang) atau mungkin kehilangan kesempatan untuk menghemat biaya transportasi.   


Pada umumnya perhitungan opportunity cost digunakan pada manajemen keuangan perusahaan atau industri yang memiliki beberapa produk untuk menghitung alokasi sumber daya yang digunakan dengan jenis-jenis produk yang dihasilkan. Perhitungan ini menjadi penting saat memprediksi produk-produk apa saja yang sedang diminati pasar agar biaya produksi lebih efisien dan efektif.

Namun kali ini kita akan mengaitkan opportunity cost dengan manajemen keuangan keluarga atau pribadi sehari-hari. Dari contoh di awal tulisan tadi, kita melihat bahwa semua keputusan keuangan sebenarnya menghasilkan opportunity cost sebagai konsekuensinya. Semakin banyak alternatif pilihan yang dapat kita pikirkan, semakin bagus untuk membuat pilihan kita lebih efektif dan efisien, namun konsekuensinya semakin banyak pula peluang yang kita lewatkan. Nah, untuk meminimalkan opportunity cost yang harus ditanggung, kita harus memiliki tujuan keuangan sebagai panduan untuk menentukan keputusan-keputusan keuangan sehari-hari.

Tujuan keuangan adalah rencana-rencana kehidupan kita di masa depan yang memiliki konsekuensi keuangan. Tujuan keuangan pun dibagi lagi menjadi tujuan keuangan jangka pendek (rentang waktu satu sampai dua tahun atau lebih singkat) dan tujuan keuangan jangka panjang (tiga sampai lima tahun atau lebih lama lagi). Contoh: Tujuan keuangan anda adalah menyekolahkan anak lima tahun lagi, membuka usaha catering tiga tahun lagi dan jalan-jalan ke tempat liburan di luar kota pada akhir tahun. Menyekolahkan anak, dan membuka usaha catering bisa dikategorikan sebagai tujuan keuangan jangka panjang dan liburan akhir tahun adalah tujuan keuangan jangka pendek. Dengan memiliki tujuan keuangan seperti itu, sekarang anda memiliki panduan setiap kali mengambil keputusan keuangan. Misalnya: Saat menyisihkan pendapatan anda untuk menabung, maka tentu anda harus memberi prioritas pada tabungan untuk liburan akhir tahun yang kejadiannya tak lama lagi. Saat anda ditawari pada berbagai instrumen investasi jangka panjang, sebaiknya anda lebih memilih produk investasi yang cocok untuk kebutuhan pendidikan anak. Anda juga sebaiknya mulai mempertimbangkan mempelajari panduan untuk membuka usaha catering, membeli buku-buku resep, mengikuti kursus masak dan lain-lain.


Dengan panduan tujuan keuangan seperti ini kita jadi memiliki dasar lebih kuat untuk mengambil keputusan-keputusan  keuangan. Memilih opportunity cost yang sesuai pun pada akhirnya bukan lagi perihal menghitung untung rugi semata.  Memilih opportuniy cost menjadi salah satu seni mengelola keuangan kita sekaligus mengelola kehidupan kita. (PG)

____________

ilustrasi gambar dari: www.planmylife.in

Jumat, 13 Maret 2015

Veronica Tan dan Panitia Hak Angket


gambar dari: ahok.org

Dagelan berikut yang muncul dari kisruh APBD DKI adalah rencana pemanggilan Veronica Tan oleh Pansus hak angket DPRD DKI. Bagi yang belum kenal, Veronica Tan itu bini istri Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sepertinya DPRD DKI makin kelimpungan dengan pressure yang mereka alami saat ini. Berkali-kali mau nembak si Gubernur, eh pelurunya malah balik ke mereka lagi.

Akhirnya plan B (atau malah plan C, D dan seterusnya?) pun digunakan. Tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba terbersit kabar kalau pansus hak angket akan memanggil Veronica Tan untuk dimintai beberapa keterangan. Berita ini tentu mengejutkan banyak pihak karena anak SD pun bisa dijelaskan dengan mudah kalau tak ada relevansinya antara panitia yang kerjanya menelisik masalah APBD DKI dengan istri Gubernur. Yang terlibat permasalahan kan suaminya dengan kapasitas sebagai Gubernur.


Komentar suami sendiri seperti yang sudah bisa dibayangkan pun selalu menohok, "Harusnya panggil nenek gue dong. Kan gue pernah bilang ke mereka  'pemahaman nenek lu'”, ucap Ahok seperti dikutip portal kompas.com.

DPRD Bingung

Biang segala keanehan ini, pansus angket DPRD seperti biasa selalu punya argumen ngeles. Ketua panitia, Mohamad Sangaji berkata istri Gubernur akan dipanggil untuk dimintai keterangan sehubungan dengan aliran dana CSR dan Ahok Center, sebuah LSM yang terafiliasi dengan Gubernur DKI. Tapi begitu media menanyakan kapasitas Veronica Tan dalam pemanggilan itu, Mohamad Sangaji enggan memberikan komentar. Dia takut kalau keburu diberitahu kapasitasnya, pihak-pihak tertentu akan mem-backupdata kepada Veronica Tan guna mencarikan pembenaran.

Di depan media pernyataannya memang seperti itu, tetapi siapapun yang mendengarnya pasti bisa mencium gelagat kepanikan pada kubu DPRD ini. Takut ada pihak-pihak yang mencarikan kebenaran, atau memang takut karena sejak awal rencana pemanggilan itu sudah salah.

Para legislator ini memang karirnya di ranah politik, jadi sudah biasa main hide and seek dengan rakyat atau kolega politiknya. Tapi kalau skenario yang kemudian ditampilkan aneh bin ajaib seperti ini kan justru bisa jadi bahan bercandaan lagi. Kasihan kemarin pak Haji Lulung sampai jadi brandgantungan kunci anti begal, setelah sebelumnya jadi karakter game android bertajuk “Lulung Mencari Dana”. Memang dari satu sisi ini tak lebih dari kiat marketing saja, tapi dari sisi lain sebenarnya perlakuan itu tergolong satir juga. Kasihan tokoh terhormat diperlakukan jadi mirip Syahrini. Untung yang bersangkutan tidak marah-marah, seperti saat mediasi dengan Ahok.

Veronica Tan Tak Usah Takut

Kembali ke topik. Sampai opini ini diturunkan memang belum ada tanggapan khusus dari Veronica Tan. Istri Ahok ini belum mau banyak komentar karena memang surat resmi panggilannya juga belum keluar.

Kalau surat dari pansus angket benar-benar dilayangkan, barulah Veronica Tan mempelajari redaksi suratnya dan memutuskan bersedia atau tidak bersedia memenuhi panggilan tersebut. Seharusnya bersedia sih, wongyang manggil wakil-wakil rakyat, orang-orang terhormat. Tapi kalau memang bunyi panggilannya rada aneh dan tidak relevan dengan topik yang sedang diusut tim angket, Veronica Tan bisa mengajukan keberatan dengan alasan tidak mengerti agenda yang akan dibicarakan.

Tapi sepertinya seru juga kalau Veronica Tan, seadainya benar-benar dipanggil nanti ayuh aja. Datang dengan elegan sebagai tamu legislatif. Lalu duduk manis, tak lupa menikmati suguhan, dan menjawab setiap pertanyaan dengan anggun. Tunjukkan gestur dan sikap seorang istri gubernur yang ideal. Kalau ada pertanyaaan rada aneh jawab saja dengan “Maaf, saya tidak mengerti,” atau “Oh, saya tidak tahu masalah itu.” atau mau yang lebih asyik lagi, jawab dengan “Mm, coba tanya bapak saja ya. Dia yang tahu…,” Dijamin para penanya pasti kecele setengah mati. (Ngomporin mode: ON) 
Tapi ah sudahlah Surat panggilannya belum keluar, rakyat jelata sudah pada heboh begini. Atau… jangan-jangan ini sekedar gimmick DPRD saja supaya perhatian rakyat sejenak beralih dari mainstream yang sebenarnya, sekaligus memberi pressure psikologis pada “musuh”, Sang Gubernur?  (PG)


Rabu, 11 Maret 2015

Pondok Mertua Indah


Namun seringkali mahligai rumah tangga ini harus berhenti di tengah perjalanan. Komitmen untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga dikalahkan oleh hal lain yang berujung pada perceraian. 
Beberapa penyebabnya antara lain masalah ekonomi, ada orang ketiga, tidak punya keturunan dan beberapa sebab yang lain.


Penyebab lain keretakan rumah tangga yang awalnya seringkali kurang disadari awalnya adalah campur tangan orang tua dalam masalah rumah tangga anak-anaknya. Campur tangan ini sangat mungkin terjadi jika pasangan yang berumah tangga tinggal dekat orang tua, atau malah tinggal serumah dengan orang tuanya atau yang sering disebut dengan nada guyon, tinggal di Pondok Mertua Indah.

Tidak selamanya buruk sih, ada juga manfaatnya. Tapi dampak negatifnya juga tidak kalah bahayanya. Mari kita lihat satu persatu.

Manfaat
Jika pasangan yang berkeluarga belum begitu mandiri secara finansial, tinggal di rumah orang tua dapat membantu keluarga baru untuk mengefisienkan pengeluaran mereka. Paling tidak bisa hemat biaya tempat tinggal, biaya air, listrik dan seterusnya. Jika orang tua mampu dan berbaik hati, pasangan pun bisa nebeng  biaya makan minum sehari-hari. Manfaat lain, jika keluarga telah dikaruniai anak, orang tua atau mertua pasti dengan senang hati membantu merawat anak tersebut. Hal ini sangat membantu terutama untuk pasangan yang keduanya, baik suami maupun istri meniti karir. Menitip buah hati pada nenek atau kakeknya tentu lebih aman dan low risk, ketimbang menitip pada baby sitter yang belum tentu dikenal baik tabiatnya.

Negatif
Selain manfaat di atas, ada juga kerugian yang bisa terjadi jika tinggal bersama orang tua. Dari segi finansial mungkin keluarga akan terbantu dengan subsidi dari orang tua, tapi dampak negatifnya adalah timbulnya ketergantungan. Anak yang notabene sudah menjadi keluarga baru mestinya memiliki tanggungjawab penuh terhadap keluarganya. Selain ketergantungan finansial bisa terjadi juga ketergantungan terhadap keputusan-keputusan dari orang tua atau mertua. Padahal keluarga baru sudah mesti mandiri mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam rumah tangganya. Disinilah celah yang bisa memicu keretakan rumah tangga. Orang tua atau mertua yang diberi ruang terlalu lebar untuk melakukan intervensi terhadap kehidupan anak-anak mereka justru dapat menjadi “orang ke-tiga” dalam bentuk lain. Mungkin tujuan mereka baik, tapi bagaimanapun juga setiap rumah tangga itu unik, dan hanya pasangan yang bersangkutan saja yang sepenuhnya memahami masalah rumah tangga mereka. Jika nasihat dari orang tua bisa membawa solusi terhadap masalah yang terjadi, ya syukur. Tapi seringkali justru orang tua yang membuat masalah tersebut semakin kompleks, apalagi kalau dalam memberi pandangan kurang bisa netral, lebih condong membela anak sendiri dan cenderung menyalahkan menantu. Mungkin pada awalnya menantu bisa menerima keadaan tersebut dan bersabar sebisa mungkin. Tapi lama kelamaan jika perasaan jengkel sudah terakumulasi sedemikian rupa dan tidak bisa ditahan lagi, konflik baru pun bisa pecah. Akhirnya masalah yang semula hanya istri versus suami, menjadi konflik yang lebih panjang yaitu istri versus suami versus mertua, atau kalau skalanya sudah besar bisa jadi konflik antar orang tua kedua pasangan.  

Hal negatif berikutnya jika tinggal serumah dengan orang tua adalah pada saat pasangan dikaruniai anak. Nenek dan kakek pasti senang dapat mengasuh cucu mereka. Rasa sayang mereka pun sepenuhnya dicurahkan untuk cucu tercinta. Apapun yang diinginkan cucu selalu berusaha dipenuhi oleh kakek neneknya. Akibatnya bisa saja anak lebih lengket kepada kakek neneknya dibanding orang tuanya sendiri. Buah hati tercinta pun bisa tumbuh menjadi anak yang manja karena sejak dini dia sudah terbiasa mendapatkan keinginannya. Sikap manja yang berlebihan tidak baik untuk perkembangan kejiwaan anak.

Oleh karena itu idealnya, pasangan yang memasuki jenjang pernikahan sudah mesti mempersiapkan diri sejak awal. Bukan semata persiapan mental, tapi juga persiapan finansial, termasuk memikirkan memiliki rumah sendiri. Untuk tahap-tahap awal rumah tangga jika kemampuan finasial belum memungkinkan, mungkin bisa mencari rumah kontrakan sambil menabung untuk memiliki rumah sendiri. Tinggal berjauhan dengan orang tua juga sebenarnya baik untuk menjaga hubungan. Saya jadi ingat pepatah ini, “dekat bau tahi ayam, jauh bau bunga.” Artinya keluarga itu bila berjauhan biasa harmonis dan rukun, tapi justru kalau selalu berdekatan selalu ada saja perselisihan dan masalah.


Tapi kalau memang terpaksa harus tinggal bersama orang tua karena satu dan lain hal, pasangan sejak awal mesti memantapkan komitmen untuk menjaga hubungan baik dengan orang tua tapi tetap menjaga jarak agar intervensi mereka jangan terlalu jauh masuk ke masalah-masalah rumah tangga yang sifatnya prinsip. Begitu pula saat membesarkan anak, walaupun anak dekat dengan dengan kakek neneknya, kedua orang tua tidak boleh lalai dengan peran mereka sebagai orang yang bertanggungjawab penuh terhadap tumbuh kembang buah hatinya. (PG)

__________
ilustrasi dari: www.123rf.com

Minggu, 08 Maret 2015

Tetap Eksis Setelah Putus Cinta


Putus dengan pacar? Biasa kawan. Hal yang lumrah dalam dunia persilatan,... eh percintaan. Prinsipnya, tidak ada yang kekal di dunia ini. Begitu pula dengan relationship. Setiap orang yang sedang menjalani hubungan, mesti siap dengan kenyataan kalau hubungan tersebut bisa berakhir kapan saja.

Masalah berikutnya adalah bagaimana cara kita menyikapi “tragedi” cinta tadi. Jadi galau, cuek, emosional, mogok makan, atau malah senang? Pasti reaksi setiap orang berbeda. Amat variabel, tergantung dari intensitas cinta-nya dengan mantan pacar dan kemampuannya untuk segera survive kembali.


Khusus bagi kamu yang sudah mencintai terlalu dalam, apalagi komitmen untuk hidup bersama sudah sampai pada tahap lanjut, mungkin butuh waktu lama untuk recovery lagi. Urusan hati memang bukan  urusan mudah. Tapi ada beberapa kiat sederhana yang bisa membantu memulihkan kembali hati kamu yang baru saja diberantakin oleh mantan.
  1.         Cari sahabat. Putus cinta artinya kita jadi lebih punya banyak waktu untuk sahabat-sahabat kita. Biasanya mereka pun akan siap menemani kita melalui hari-hari getir pasca tragedi cinta itu. Ajak mereka hang out, atau jalan ke tempat favorit bersama. Rasakan indahnya persahabatan dengan mereka yang mungkin selama ini “hilang” karena kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan mantan pacar.
  2.          Curhat. Kedengarannya mellow banget ya? Tapi ya, ini salah satu cara ampuh menumpahkan semua uneg-uneg dan beban yang mengganjal di hati kita. Cari orang terdekat yang bisa dipercaya, seperti sahabat, saudara atau orang tua. Lalu ungkapkan semua perasaan baik itu kesedihan, kemarahan, harapan dan perasaan lain setuntas-tuntasnya. Mungkin memang curhat  tidak akan membawa kita sampai pada solusi yang memuaskan, tapi dengan menumpahkan semua beban hati ini, kita akan lebih plong dan lebih ringan melangkah menuju hari esok.
  3. .        Memanjakan diri. Kadang-kadang hubungan pacaran membuat kita mesti mengerem beberapa kebiasaan atau hobi yang tidak disukai pacar kita. Misalnya ngemil, tidur, nonton sampai subuh,  nongkrongin sosmed berjam-jam dan kebiasaan lain. Nah, sekarang saatnya balas dendam kawan. Manjakan diri dengan melakukan kesenangan kita. Yang penting jangan kebablasan ya. Dengan demikian kita sejenak bisa melupakan mantan dan lebih banyak waktu untuk membahagiakan diri sendiri.
  4.         Jangan dekat-dekat dengan segala yang berbau “Si dia”. Ada tuh orang yang sudah putus, tapi karena kadung cinta masih suka makan di resto favorit mantan, masih suka buka foto-foto mantan, masih berharap dapat inbox dari mantan, masih suka dengar lagu favorit mantan dan sebagainya. Padahal hal-hal seperti itu hanya akan membuat kita semakin susah meninggalkan “cerita lama” kita bersama eks pacar. Sedapat mungkin hindari segala sesuatu yang bisa membuat kita mengenang kembali mantan untuk membantu kita mempercepat recoveryhati.
  5.        Buka hati. Yup, jangan lama-lama larut dalam kegalauan. Bangun segera, berdandan lagi yang cantik dan gagah, segera update status di sosmed kamu, lalu tertawalah bersama dunia. Lihatlah disekitar kamu, mungkin banyak orang yang memendam rasa suka hanya tidak berani mengungkapkannya karena kamu sudah ada yang punya. Tapi sekarang statusnya kan sudah lain. Buka hati kamu selebar-lebarnya untuk siapa pun yang berniat tulus berteman dengan mu. Siapa tahu salah satu dari mereka adalah jodoh sejati kamu.


Akhirnya, putus cinta bukan berarti dunia kiamat. Jangankan pacaran, orang yang sudah lama berumah tangga saja bisa mengalaminya. Lihat saja infotainment kita, selalu ada saja berita tentang artis yang kawin cerai. Hari ini cerai, eh besok sudah naik pelaminan lagi. Hari ini nikah, eh besok sudah sidang cerai.
Jadi mumpung belum ada ikatan sahih secara hukum maupun agama, manfaatkanlah masa-masa pacaran itu dengan bijaksana untuk menggali karakter si dia. Kalau memang pada akhirnya mesti putus, ya bisa jadi dia memang bukan yang terbaik untuk kamu bukan?
Tetap semangat! (PG)

ilustrasi gambar dari: weheartit.com