Rabu, 24 Februari 2016

Rio Haryanto dan Brand Awareness



Memang jalan pikiran orang-orang yang berkecimpung di dunia marcomm (marketing communication) seringkali sulit dipahami orang-orang awam. Bahkan dalam satu entitas bisnis pun kerap terjadi  perbedaan pendapat antara para eksekutifnya begitu pembicaraan sampai pada biaya pemasaran.

Sudah menjadi hakikat lembaga bisnis untuk mencari laba. Caranya mengelola sumber daya yang dimiliki sedemikian rupa agar pendapatan meningkat dan biaya diefisienkan. Sementara untuk urusan pemasaran, seringkali impact-nya tidak bisa langsung dirasakan dalam jangka pendek.


Salah satu tujuan pemasaran adalah membangun brand awareness dari customer atau calon customer terhadap produk yang dihasilkan perusahaan. Singkatnya, brand awareness bisa didefinisikan sebagai kemampuan customer atau calon customer untuk mengingat produk sebuah perusahaan. Dimulai dari pengenalan merek (brand recognition), mengingatkan kembali customerpada merek (brand recall) sampai merek benar-benar tertanam dalam benak customer(top of mind).

Membangun brand awareness apalagi untuk sebuah produk baru membutuhkan kiat-kiat strategis dan biaya yang besar.

Dampak program brand awareness tidak bisa serta merta langsung terasa, sementara di sisi lain kita harus mengetahui efektivitas biaya yang kita keluarkan. Oleh karena itu dibutuhkan kajian mendalam sebelum meluncurkan program-program pemasaran dan evaluasi untuk mengukur dampak program tersebut bagi perusahaan.

Tanpa kajian-kajian seperti itu, memang seringkali mengeluarkan biaya pemasaran hanya dianggap buang-buang duitbelaka.

Senin 22 Februari lalu, Komisi VI DPR RI mengadakan rapat dengar pendapat dengan pimpinan Pertamina. Anggota DPR mempertanyakan efektivitas dana sponsorhsip Pertamina untuk pembalap Rio Haryanto sebesar Rp75 miliar guna mendukungnya pada kompetisi balap Formula-1 pada musim ini. Menurut mereka program tersebut tidak efektif, apalagi saat ini Pertamina sedang mengalami penurunan kinerja, imbas anjloknya harga minyak di pasar global.

Dirut Pertamina Dwi Soetjipto pun memberi jawaban dari sudut pandang marketing. Dukungan terhadap Rio adalah langkah strategis membangun brandPertamina pada skala Internasional, sesuai Visi Misinya menjadi World Class Company. Pertamina sebelumnya sudah menganggarkan biaya sponsorhsipuntuk Rio dari pos biaya marketing. Dukungan terhadap pembalap muda Indonesia ini sudah mereka lakukan sejak tahun 2010 dengan dukungan dana sekitar 1,1 juta Euro untuk ajang GP 2 Series dan pada tahun 2011 dengan nilai yang sama pada GP 3 Series

Ada hal yang lebih besar dari sekedar “membuang” biaya Rp75 miliar. Kesempatan menuju ajang Formula-1 bukan hal yang mudah didapatkan. Ada proses dan seleksi ketat yang harus dilewati. Kadang ada pembalap yang sudah memegang kesempatan tersebut, namun gagal melaju ke tahap berikutnya hanya karena masalah pendanaan. Saat ini dengan dukungan Pertamina sebagai donatur terbesar, Rio menjadi pembalap Indonesia pertama yang masuk ke ajang bergengsi tersebut.
Di sisi lain, Pertamina juga sudah punya kajian mendalam terhadap biaya yang digelontorkan dan impact-nya terhadap branding Pertamina. VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro memberi pernyataan kepada media kalau branding Pertamina terus meningkat sejak memberikan dukungan terhadap Rio pada tahun 2010, baik brand awareness maupun angka corporate index.        

Di luar masalah brandingdi atas, kita juga bisa sedikit menelisik makna angka Rp75 miliar. Ini adalah nominal yang besar, namun biasanya angka akan lebih “berbicara” jika kita menyandingkannya dengan angka-angka yang lain pada neraca. Saya mencari financial statement terkini Pertamina, tapi hanya ketemu statement yang dirilis pada akhir semester pertama tahun lalu. Memang sudah ketinggalan enam bulan lebih dengan posisi keuangan Pertamina saat ini. Tapi kita tetap bisa menggunakannya sebagai gambaran. Kita coba melihat angka-angka globalnya. Sampai akhir Juni 2015 aset Pertamina mencapai 47,8 miliar, total pendapatan mencapai 21,7 miliar, dan total biaya mencapai 20,5 miliar. Angka-angkanya semua dalam satuan dolar Amerika.
Dengan kurs Rp13.500 per dolarnya maka Rp75 miliar setara dengan kurang lebih 5,556 juta dolar. Jadi terlihat rasio biaya sponsorship untuk Rio dibandingkan dengan total biaya sebenarnya cukup kecil.


Sekali lagi, brand awareness tidak bisa dihubungkan dengan rupiah begitu saja. Biaya akan ditutup setiap akhir tahun, sedangkan dampak brand awareness bersifat jangka panjang. Khusus untuk kasus Rio, kita mungkin bisa melihat dari sisi lain, bagaimana negara melalui badan usaha yang dimilikinya mencoba memberi supportterhadap anak muda bangsa yang berprestasi. (PG)

________________

ilustrasi gambar dari: bisniskeuangan.kompas.com

Referensi:

Sabtu, 13 Februari 2016

Gubernur Versus Manajer Musik


Pada dasarnya fungsi dasar kepemimpinan bertumpu pada empat hal ini: Merencanakan, Mengorganisir, Mengarahkan dan Mengendalikan (yang biasa satu paket dan Mengevaluasi). Para pemimpin dari bidang kerja manapun entah dia seorang CEO, pimpinan yayasan, politisi, pimpinan partai, kepala sekolah, pimpinan proyek sampai pejabat publik tidak bisa memisahkan diri dari fungsi-fungsi tersebut.

Pada saat mengurai kepemimpinan berdasarkan ranah kepemimpinannya masing-masing, barulah fungsi dasar ini baru terimplementasi pada fungsi-fungsi turunannya. Misalnya mekanisme seorang CEO perusahaan perangkat elektronik merencanakan kinerja perusahaannya tentu  berbeda dengan perencanaan seorang pimpinan partai. CEO akan menganalisa pasar, sumber daya dan kinerja masa lalu untuk mencanangkan target-target penjualan. Sedangkan pemimpin partai akan menggunakan branding politik dan elektabilitas untuk menargetkan peroleh suara konstituen.


Hari-hari terakhir ini jagat maya ramai oleh pemberitaan mengenai rencana pencalonan Ahmad Dhani, seorang musisi senior untuk menjadi bakal calon Gubernur DKI. Sejauh saya amati sebagian besar netizen merespon negatif pemberitaan tersebut.

Tangan Dingin Dhani
Tidak diragukan lagi, untuk urusan musik, Ahmad Dani-lah expert-nya. Mulai dari membangun karir sebagai musisi biasa-biasa sampai sukses menjadi salah satu icon musik tanah air, Dhani telah membuktikan kepiawaiannya. Tak puas hanya menjadi “pekerja”, Dhani pun merambah dunia entrepreneur dengan mendirikan dan menahkodai perusahaan Republik Cinta Management. Sekali lagi, tangan dingin Dhani sukses menghantar musisi-musisi muda kita membangun karirnya. The Virgin, Mahadewi dan Mulan Jameela adalah beberapa contoh artis-artis papan atas besutan Republik Cinta Management.
Ini adalah salah satu model kepemimpinan yang sukses. Namun dari dunia entertaintment merambah dunia kepemimpinan publik adalah sebuah crossover yang drastis. Sekalipun seperti yang sudah saya bahas di awal tulisan, ada persamaan fungsi dari pemimpin pada “genre” manapun, namun begitu masuk pada tataran praktis ada sejumlah perbedaan yang tidak bisa dianggap sepele.

Gubernur Versus Manajer Musik
Perusahaan manajemen artis seperti kebanyakan perusahaan profit oriented lainnya, mengacu kepada pasar dan segala dinamikanya. Pemimpin harus mampu mengarahkan perusahaan membidik segmen pasar yang tepat, menganalisa kompetitor, menganalisa harga dan biaya serta mengelola sumber daya secara efisien. Tujuannya adalah pendapatan, yang dikemas dengan berbagai nilai untuk meraup konsumen. Arah perusahaan juga dipengaruhi oleh shareholder-nya. Seringkali perusahaan harus merelakan ideologinya ditaklukkan oleh kemauan para pemegang saham.

Sedangkan ranah kepemimpinan pejabat publik seperti gubernur lain lagi. Gubernur memimpin masyarakat. Orientasinya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat yang dipimpinnnya. Mekanisme kerjanya menjadi jauh lebih kompleks, sekompleks masyarakat itu sendiri. Masyarakat adalah campuran dari berbagai budaya, suku, agama, aneka kebutuhan, kepentingan, tingkat pendidikan, tabiat dan variabel lainnya. Keputusan yang baik bagi salah satu segmen masyarakat belum tentu demikian bagi segmen masyarakat yang lain.

Jika kegiatan perusahaan bertujuan mendapatkan keuntungan, pejabat publik harus mengabdikan kepemimpinannya pada kemajuan masyarakat.  Bukannya mencari keuntungan, sang pejabat malah harus siap dan rela berkorban demi masyarakat yang dipimpinnya.
Dalam mengambil keputusan gubernur harus patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dia tidak bisa serta merta menjalankan visi serta pemikiran pribadinya. Berbeda dengan memimpin sebuah entitas bisnis.

Selain itu, jika pemimpin perusahaan adalah jabatan manajerial, gubernur adalah jabatan manajerial sekaligus jabatan politis. Oleh karena itu, kita lihat belakangan ini parpol mulai melakukan manuver-manuver untuk memajukan jagonya masing-masing. Tentu ada kepentingan partai dibalik setiap deal-deal politik yang terjadi.

Tidak banyak pejabat publik yang pandai mengatur irama kerja antara dua kutub jabatan tersebut. Antara fungsi manajerial yang mestinya profesional dan jabatannya sebagai simbol-simbol politik. Kita masih ingat Presiden Jokowi juga pada awal pemerintahannya nampak agak sukar keluar dari bayang-bayang PDI-P. Seorang Ahok bahkan sampai meninggalkan parpol yang telah ikut membesarkan namanya karena tidak sesuai lagi dengan idealismenya sebagai seorang pemimpin masyarakat.

Ini yang diulas baru aspek manajerialnya saja, belum aspek lain-lain yang seringkali saling mempengaruhi satu sama lain.Oleh karena itu Dhani mesti banyak belajar jika memang berniat tulus maju menjadi pemimpin publik apalagi kancahnya tidak main-main, Daerah Khusus Ibukota. (PG) 


___________________________

first published on kompasiana.com

Ilustrasi gambar dari kompas.com/Alsadad Rudi