Senin, 20 Juli 2015

Teknik Anchoring untuk Menghadapi Post-Holiday Syndrome


Liburan hari raya akan segera berlalu. Sebentar lagi kita mesti kembali beraktivitas seperti biasanya. Mengerjakan proyek-proyek, berpacu dengan deadline, berburu klien potensial dan seabreg kegiatan lainnya. Bagi sebagian orang masa-masa pasca liburan ini adalah masa-masa kritis. Di satu sisi masih ingin menikmati liburan sepuasnya, di sisi lain ada tugas dan tanggungjawab yang telah menanti. Akibatnya muncul perasaan bad mood menjelang hari pertama bekerja kembali alias Post-Holiday Syndrome. Perasaan ini sebenarnya wajar-wajar saja, tapi bisa berbalik merugikan diri kita sendiri jika tidak segera menanganinya sehingga membawa dampak buruk bagi pekerjaan kita.
Permasalahan sebenarnya terletak pada mindset atau cara berpikir kita memandang sebuah masalah sehingga mempengaruhi state atau perasaan kita. Ada beberapa kiat sederhana yang bisa kita lakukan saat sindrom ini mulai menyerang. Dalam ilmu NLP (Neuro Language Programming) ada sebuah teknik yang cukup ampuh untuk mengelola pikiran kita. Teknik ini disebut teknik penjangkaran atau anchoring.
Prinsip kerjanya adalah pikiran kita cenderung mengulangi atau mengasosiasikan kembali pengalaman pada masa lalu jika pemicunya diaktifkan. Pemicu ini bermacam-macam, bisa bersifat auditory, visual, olfactory (bau-bauan) dan lain-lain. Misalnya pada masa kecil anda menyukai masakan tertentu yang dibuat oleh ibu anda. Pada saat dewasa di suatu tempat anda kembali mencicipi masakan tersebut. Pikiran anda pun kembali melayang pada pengalaman masa kecil anda, pada sosok ibu, bahkan mungkin anda bisa memvisualisasikan kembali piring makan yang biasa anda gunakan dan suasana ruang makan saat itu.
Contoh lain misalnya anda mengalami kecelakaan karena motor yang anda kendarai menabrak tiang listrik. Kebetulan pada masa lalu, anda pernah mengalami kecelakaan serupa, maka pikiran anda akan dengan mudah mengingat kembali serta merasakan emosi yang sama saat kecelakaan yang lalu terjadi. Seperti cedera yang terjadi, kepanikan orang-orang di sekitar anda, bahkan mungkin rasa sakit yang anda rasakan.
Nah, kita akan menggunakan teknik ini untuk membangkitkan kembali semangat anda yang mungkin luntur seiring hari libur panjang. Pemicu yang akan kita gunakan adalah motivasi positif dari dalam diri kita sendiri.
Mula-mula pikirkanlah pengalaman paling berkesan yang pernah anda alami selama meniti karir. Pengalaman itu bisa berupa pengalaman saat anda berhasil menyisihkan pelamar-pelamar kerja yang lain untuk menduduki posisi anda, saat mendapat promosi besar, saat anda berhasil menyelesaikan proyek besar atau berhasil membuat closing transaction dengan klien besar atau carilah pengalaman positif lain yang cukup kuat meninggalkan kesan dalam diri anda. Pengalaman di luar karir yang meninggalkan kesan kuat juga bisa anda masukkan, seperti misalnya kelahiran anak pertama, pengalaman mengucapkan janji perkawinan, membeli rumah pertama dan lain-lain.
Yang akan anda capture dari pengalaman ini adalah sensasi dan emosi positif yang anda rasakan saat menjalani pengalaman tersebut. Ingat kembali betapa bahagianya anda saat itu, ingat kembali segala sesuatu begitu mudah untuk dijalani dan beban berat anda terasa lepas begitu saja.
Panggil kembali rekaman semangat anda saat pengalaman-pengalaman itu terjadi. Bayangkan pengalaman serupa akan anda alami kembali atau gunakan pengalaman tersebut untuk memompa semangat anda kembali. Anda bisa memanggilnya berulang kali sampai post-holiday syndrome perlahan-lahan mulai teratasi.
Sehingga nantinya saat melihat kursi plus meja kerja, kita tidak melihat tumpukan pekerjaan yang membosankan melainkan kita melihat kesempatan untuk kembali membuktikan prestasi pada organisasi. Atau saat kembali berurusan dengan tetek bengek bisnis, kita melihatnya sebagai peluang untuk kembali meraup omset demi kebahagiaan orang-orang disekitar kita.
Saat telah berhasil menaklukkan post-holyday syndrome, kita tidak lagi melihat libur panjang secara possesif. Liburan pun menjadi sarana untuk kembali me-recharge semangat kita agar lebih produktif dan bermanfaat bagi orang lain. (PG)

_______________________

ilustrasi gambar dari: www.whitelifedesign.com
first published on kompasiana.com  

Jumat, 03 Juli 2015

Mana Gaya Manajemen Konflikmu?


Konflik adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam interaksi antara manusia satu dan lainnya. Perbedaan pola pikir, budaya, status sosial, dan aneka perbedaan lainnya menjadi pemicu konflik yang terjadi di tengah-tengah lingkungan kita. Jadi pada dasarnya konflik bukan hal yang negatif, sejauh orang-orang yang terlibat konflik mampu mengelolanya dengan baik. Malah pada beberapa organisasi, konflik dikelola sedemikian rupa untuk meningkatkan produktivitas organisasi tersebut.
Pada akhirnya seberapa efektif konflik dapat diselesaikan pihak-pihak yang terlibat, dipengaruhi oleh gaya masing-masing pihak mengelola konflik tersebut.  Ada yang mampu menghadapi konflik dengan sabar dan berusaha mencari jalan terbaik untuk setiap pihak, ada yang cenderung mengalah agar konflik tidak bertambah panjang, ada pula yang ngotot selalu mau menang apapun konsekuensinya.

Saya ingin berbagi sedikit materi pelatihan Manajemen Konflik yang saya ikuti belum lama ini. Johnson D.W, seorang psikolog, membagi manusia menjadi lima tipe berdasarkan gayanya mengelola konflik yang terjadi. Untuk memudahkan ilustrasi, setiap gaya disimbolkan dengan hewan tertentu. Kelima hewan itu adalah Kura-kura, Kancil, Rubah, Burung Hantu dan Hiu.
Mari kita lihat satu persatu.
  1. Gaya Kura-kura. Apa yang anda bayangkan? Ya, kura-kura adalah hewan yang akan menarik diri kedalam cangkangnya jika merasa tidak aman. Orang pada tipe ini cenderung menghindari konflik dengan menarik diri pada comfort zone-nya. Mereka sedapat mungkin berusaha menghindari masalah  atau menghindari orang-orang yang menurutnya akan memperpanjang masalah yang terjadi. Oleh karena itu mereka cenderung mengalihkan permasalahan pada orang lain. Jika mereka berada pada tuntutan untuk menyelesaikan konflik, mereka sering mengulur-ulur waktu.
  2. Gaya Kancil. Pada kebanyakan fabel, kancil digambarkan sebagai hewan yang punya banyak teman. Orang-orang pada tipe kancil adalah mereka yang berusaha menyelesaikan konflik tanpa banyak ribut dan konfrontasi. Mereka ingin disenangi atau diterima semua pihak. Orang-orang yang memiliki gaya kancil senang pada harmoni dan ketenangan, sehingga menurut mereka konflik bukan untuk dipecahkan tapi untuk didamaikan. Sedapat mungkin konflik harus berujung pada penyelesaian yang membuat lega semua pihak. Walau kadang-kadang mereka harus mempertaruhkan kepentingan dirinya sendiri.
  3. Gaya Rubah. Rubah digambarkan sebagai hewan yang suka berkompromi. Begitu pula dengan cara orang-orang bergaya rubah saat berhadapan dengan konflik. Mereka mengutamakan kompromi saat mengatasi konflik. Agar konflik dapat diselesaikan mereka merasa setiap pihak mesti sedikit mengorbankan kepentingannya untuk mencapai kata sepakat. Tidak boleh ada yang mendominasi di antara pihak-pihak yang berkonflik. Setia pihak harus sama-sama mengalah untuk kepentingan atau kebaikan bersama.
  4. Gaya Burung Hantu. Barangkali dari semua gaya, inilah gaya menyelesaikan konflik yang paling baik. Burung hantu biasa digambarkan sebagai hewan yang bijaksana. Orang-orang bergaya burung hantu selalu berusaha mencari cara terbaik dan kreatif untuk menyelesaikan konflik. Mereka memprioritaskan solusi menang-menang (win-win solution) pada setiap konflik. Mereka pandai mengelola situasi sehingga pihak-pihak yang berkonflik mengambil sudut pandang bahwa konflik itu adalah musuh bersama yang harus diselesaikan. Tipe burung hantu cocok untuk menjadi juru runding atau diplomat karena mereka selalu mampu menemukan jalan keluar terbaik yang selaras dengan tujuan setiap pihak.
  5. Gaya Hiu. Sesuai gambaran hewan yang jadi simbolnya, orang-orang bergaya hiu adalah orang-orang yang senang menggunakan kekuatan atau kekuasaannya untuk meredakan konflik. Mereka sangat menjunjung tinggi kepentingan atau tujuan pribadinya dibanding kepentingan atau tujuan pihak-pihak lain yang berkonflik dengannya. Mereka menganggap dalam setiap konflik harus ada yang menang dan kalah, dan sedapat mungkin mereka jadi pemenangnya. Bila perlu orang-orang bertipe hiu ini akan mengancam, berusaha menaklukan dan menyerang lawannya dengan cara-cara tertentu untuk mencapai tujuannya.
Nah, silahkan  menilai diri sendiri gaya mana yang sering anda gunakan saat menyelesaikan konflik dengan orang lain. Silhakan pula menilai gaya manajemen konflik yang biasa digunakan relasi, pimpinan atau bawahan di tempat kerja anda. Bisa jadi manajemen konflik anda condong pada satu gaya saja, bisa jadi juga kombinasi dari beberapa gaya.
Sebenarnya setiap gaya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga idealnya gaya manajemen konflik disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari konflik itu sendiri.
Untuk konflik yang terjadi antara dua pihak yang sama kuat misalnya, gaya Kancil atau Rubah cocok digunakan. Tapi kadang-kadang gaya Kancil tidak tepat digunakan pada saat seorang  pemimpin harus menunjukkan wibawa atau ketegasan pada bawahannya. Gaya Burung Hantu cocok untuk digunakan pada situasi konflik yang begitu kompleks dan butuh analisis mendalam untuk mengurai konflik. Kelemahannya, tidak cocok digunakan pada waktu yang sempit.
Sebaliknya jika penyelesaian konflik dihadapkan pada keterbatasan waktu, apalagi pihak-pihak yang berkonflik terlalu jauh kesenjangannya dalam hal pengetahuan, pengalaman atau posisinya, maka gaya Hiu adalah gaya manajemen konflik yang lebih cocok digunakan. Tapi jangan coba-coba pakai gaya Hiu jika pihak-pihak yang berkonflik setara kekuatan, pengalaman dan pengetahuannya. Konfliknya bakal semakin lama jadinya.
Untuk keperluan mengulur-ulur waktu, atau mengurusi konflik yang tidak terlalu penting, gaya Kura-kura bisa digunakan. Tapi jangan gunakan gaya ini untuk mengurai konflik yang kompleks dan berdampak serius bagi anda atau organisasi, gunakanlah gaya Burung Hantu.
Jadi, jika terjadi konflik hadapilah dengan tenang dan gunakan gaya yang cocok untuk menyelesaikan konflik tersebut. (PG)

ilustrasi gambar dari: arineromanoofficially.blogspot.com
First posted at Kompasiana: Mana Gaya Manajemen Konflik Anda?