Selasa, 26 Mei 2015

Resiko Keuangan yang (Mungkin) Akan Menimpa Anda


Manajemen keuangan adalah seni mengatur sumber dan penggunaan dana. Organisasi atau Perusahaan mengawalinya dengan forecast arus kas lalu mengevaluasinya secara berkesinambungan untuk meminimalkan terjadinya resiko yang mungkin terjadi. Resiko yang dimaksud adalah penyimpangan dari forecast yang dapat menimbulkan kerugian bagi organisasi atau badan usaha tersebut.Dalam keseharian, kita pun selalu terlibat dengan aktivitas manajemen keuangan walau dalam skala yang lebih kecil. Manajemen keuangan keluarga memang tidak sekompleks manajemen keuangan perusahaan yang melibatkan banyak kepakaran, sumber daya, dan deretan panjang angka dan statistik. Resiko keuangan yang dapat menimpa kita juga berbeda skalanya dengan resiko keuangan yang dihadapi organisasi atau perusahaan yang pengelolaan keuangannya lebih kompleks. Namun bukan berarti kita jadi mengabaikan begitu saja resiko keuangan yang bisa saja terjadi di depan kita. Dengan mengenal resiko-resiko tersebut sejak awal, kita pun dapat menyiapkan strategi yang sesuai untuk mengantisipasinya saat terjadi.

Secara garis besar resiko keuangan dibagi menjadi resiko keuangan yang berasal dari luar diri kita dan resiko yang diakibatkan keputusan keuangan yang kita ambil. Pada umumnya kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengurangi resiko yang pertama karena penyebabnya terjadi begitu jauh diluar jangkauan kita. Misalnya: Perubahan kondisi ekonomi global, terjadi bencana alam, huru hara atau keadaan force majeur lainnya yang berimbas pada keuangan kita. Masih ingat krisis moneter tahun 1998 lalu yang membuat dolar menguat gila-gilaan terhadap rupiah. Tragedi moneter ini adalah akumulasi dari rapuhnya sistem ekonomi global. Orang-orang yang tidak siap dengan tragedi tersebut tidak bisa berbuat banyak. Sebagian besar hanya bisa gigit jari melihat kejatuhan nilai investasi mereka.  Resiko keuangan berikut adalah resiko keuangan yang dapat terjadi karena keputusan atau pilihan  yang kita ambil. Dengan demikian, resiko ini bisa kita reduksi kemungkinannya juga kita punya peluang lebih mudah mengantisipasinya. Beberapa resiko tersebut  dapat mengancam pengelolaan keuangan kita. Saya coba merangkumnya pada paparan berikut:      

 Kesalahan Keputusan Investasi.


 Setiap hari banyak tawaran investasi menghampiri kita lewat media, lewat internet, lewat perangkat komunikasi atau lewat tetangga di samping rumah. Memilih investasi secara bijak diperlukan untuk menghindari kesalahan keputusan investasi  yang dapat merugikan. Pilihan investasi yang perlu dicermati dengan seksama adalah investasi yang melibatkan pengelolaan oleh pihak kedua seperti joint venture, reksadana, insurance, jasa keuangan sampai money game yang dikemas seperti multilevel marketing. Pastikan kesehatan sistem pengelolaan dana tempat kita berinvestasi tersebut agar dana kita aman. Untuk investasi pada properti atau komoditas,  tidak terlalu membutuhkan hitung-hitungan yang jelimet, hanya butuh modal besar untuk memaksimalkan keuntungan dan kepandaian membaca trend nilai investasi. Beberapa orang menyukai instrumen investasi yang high risk high return seperti jual beli komoditas, saham atau valas. Modal utama untuk Investasi seperti ini adalah kapitalisasi besar, intuisi dan mental yang kuat. Beberapa produk derivatif seperti jual beli valas atau indeks saham secara berjangka  mengandalkan leverage untuk meminimalkan kapitalisasi yang dibutuhkan. Tapi leverage itu seperti pedang bermata dua jika tidak hati-hati menggunakannya. Dalam semalam kita bisa mendapat keuntungan berlipat ganda tapi sebaliknya dalam semalam kita juga bisa jatuh melarat. Pendek kata, setiap instrumen investasi memiliki resikonya masing-masing. Pilihlah resiko yang tepat untuk anda. Strategi untuk meminimalkan resiko ini adalah mengikuti pepatah lama yang tetap mumpuni, don’t put your eggs in one basket. Diversifikasikan investasi anda pada beberapa instrumen investasi. Sebaliknya, tidak berinvestasi pun adalah sebuah resiko keuangan. Tidak memiliki investasi membuat kita terengah-engah mengejar inflasi dan terlalu banyak masalah keuangan yang terjadi esok hari jika kita tidak membentengi diri kita dengan investasi. 

Perubahan pendapatan.

 Perubahan yang dimaksud disini adalah berkurangnya jumlah pendapatan. Misanya: karena prestasi kita di tempat kerja kurang baik, maka mengalami demosi atau kemungkinan paling buruk adalah dikenakan PHK. Ini artinya pendapatan kita jadi menurun atau hilang sama sekali. Untuk anda yang berwirausaha, bisa saja karena kurang lihai menjalankan bisnis, pelanggan anda menjauh, penjualan berkurang  sehingga dengan sendirinya pendapatan usaha menurun.  Sementara itu di sisi lain, biaya hidup terus meningkat  seiring inflasi. Atau bayangkan anda sudah terlanjur terjebak kredit yang selama ini menyita hampir seluruh pendapatan anda. Dengan perubahan pendapatan ini, anda akan semakin kewalahan. Jika resiko itu sudah terjadi, maka strategi terbaik menyelematkan keuangan anda adalah berhemat, kemudian berpikir untuk mencari alternatif pendapatan tambahan. Untuk masalah kredit, cobalah berkonsultasi kepada kreditur anda untuk meminta restrukturisasi pinjaman. Sementara strategi sebelum resiko tersebut terjadi adalah menabung pada pos dana darurat dan sejak awal mencari alternatif pendapatan pasif agar jika terjadi perubahan pendapatan seperti contoh di atas anda telah mempersiapkan diri anda.  

Perubahan pengeluaran.


Kadang arus kas keluarga kita berantakan karena ada hal-hal tak terduga yang tiba-tiba menyedot pendapatan. Misalnya pasangan hidup tertimpa kecelakaan dan membutuhkan biaya perawatan yang cukup besar. Jika kita tidak siap dengan resiko seperti itu, bisa-bisa seluruh hasil kerja keras selama bertahun-tahun habis dalam sekejab mata. Untuk mengantisipasi resiko seperti ini, pilihan yang tepat adalah produk keuangan yang bersifat memberikan perlindungan keuangan misalnya asuransi kesehatan atau asuransi yang memberikan proteksi terhadap pendapatan. Belakangan ini banyak sekali produk asuransi bermunculan, carilah produk yang sesuai dan pelajari secara seksama segala ketentuan menyangkut hak dan kewajiban anda sebagai pemegang polis. Tidak ada salahnya mulai menyisihkan pendapatan untuk mengikutkan anggota keluarga atau anda sendiri ke dalam produk asuransi yang sesuai.

Banyak piutang tak tertagih.

Bersikap baik terhadap keluarga atau sahabat-sahabat boleh-boleh saja. Tidak ada salahnya kita membantu mereka saat mereka membutuhkan pinjaman. Apalagi kita juga memiliki kemampuan untuk membantu. Tapi jangan lupa memastikan dana tersebut dikembalikan sesuai kesepakatan. Kestabilan arus kas anda sedikit banyak akan terganggu jika banyak aset anda berada diluar sana dalam bentuk piutang tak tertagih.  Pada perusahaan, aset seperti ini dikategorikan ke dalam aset bermasalah. Proyeksi keuangan akan terganggu dengan aset bermasalah seperti ini. Beberapa orang pun akhirnya (terpaksa) memasukan piutang yang tidak bisa ditagih lagi seperti ini ke dalam pos donasi. Walau sebenarnya jika berbicara hitung-hitungan bisnis,  piutang yang tidak bisa ditagih lagi itu adalah sebuah kerugian. Jika memang mau membuat pengeluaran untuk tujuan sosial seperti donasi, kita sejak awal juga membuat proyeksi arus kasnya agar semua bakal pengeluaran terkendali dengan baik.  Cara mengantisipasi resiko seperi ini adalah bijaklah memberi pinjaman. Saya pernah membuat artikel terkait pemberian pinjaman pribadi seperti ini. 

 Nah, menyiapkan strategi untuk mengantisipasi berbagai resiko keuangan di atas amat penting untuk mengamankan keuangan anda. Strategi-strategi keuangan tersebut jika dipersiapkan dengan baik, juga sebenarnya bisa digunakan untuk mengantisipasi resiko yang datang dari luar kita. Misalnya: Tiba-tiba bisnis restoran anda guncang karena terjadi bencana alam. Memang resiko tersebut tidak bisa kita cegah, namun anda bisa mempersiapkan senjata penangkalnya sejak awal, misalnya dengan membangun tabungan darurat atau membangun investasi yang bisa segera dicairkan sebagai dana cadangan untuk menopang usaha anda sementara waktu. Resiko adalah konsekuensi dari setiap keputusan keuangan yang kita pilih. Orang bijak adalah orang yang berusaha meminimalkan resiko tersebut. Orang yang lebih bijak lagi siap sedia dengan strategi yang jitu jika resiko tersebut pada akhirnya datang juga. (PG) 
  _________________

ilustrasi gambar dari: www.fiercehealthfinance.com

Rabu, 20 Mei 2015

Catatan Tentang Beras Plastik


Suatu hari saya menjadi penjaga pasien, seorang  kerabat yang terkena DBD. Di sela-sela waktu jaga, saya pergi ke minimarket dekat rumah sakit untuk membeli beberapa minuman buah botolan. Karena buru-buru, belanjaan demi belanjaan langsung saya comot saja dari rak-rak minimarket untuk dibawa dan ditransaksikan di kasir.

Setibanya kembali di kamar perawatan rumah sakit, kawan saya melihat segel plastik yang biasa melingkar di bawah tutup botol salah satu minuman telah terbuka sehingga berpikir saya telah membuka minuman tersebut sebelumnya. Saya pun mengernyitkan kening. Saya tidak membuka satu tutup botol pun setelah meninggalkan kasir minimarket. Berarti peristiwanya terjadi sebelum transaksi, alias sudah terbuka pada saat saya mencomotnya dari rak penjualan. Untuk lebih memastikan, tutup botol minuman pun dibuka dan ternyata memang benar, minuman dalam botol telah berkurang ketinggiannya dibanding botol-botol minuman serupa.

Saya pun kembali ke minimarket dengan dua tujuan. Pertama, untuk komplain kepada karyawannya mengenai kecolongan tersebut. Syukur-syukur kalau mereka mau mengganti minumannya, walaupun saya yakin punya kans kecil untuk didengarkan. Kedua menyampaikan keluhan dan mengingatkan mereka untuk berhati-hati dengan pengunjung yang iseng menganggap botol di rak penjualan sebagai tester, dan jika suka malah membawa botol yang masih utuh.

Hasilnya sesuai prediksi, kasir dan petugas minimarket tidak bisa berbuat banyak untuk membantu saya. Jadi saya harus puas hanya dengan menyampaikan tujuan yang kedua.
Seringkali kita memang dihadapkan pada pengalaman serupa. Membeli sesuatu namun setelah digunakan kita malah tidak puas. Karena ternyata barang yang kita beli tidak sesuai dengan keinginan, tertipu oleh iklan, atau malah telah rusak seperti yang saya alami. Tidak apa kalau ketidaknyamanan tersebut tidak membahayakan kita. Bagaimana kalau sebaliknya?

Beberapa hari ini perhatian kita terusik oleh isu beredarnya beras sintetis berbahan plastik di Bekasi dan (mungkin) sudah ada di daerah lain hanya belum terdeteksi. Saat pertama kali membaca beritanya saya jadi merinding sendiri membayangkannya. Kalau seperti pengalaman di atas, segel minuman botol yang rusak bisa langsung jadi bukti untuk komplain kepada penjual. Nah, kalau beras sintesis yang kelihatan sama dengan yang asli bagaimana caranya komplain? Kan baru ketahuan setelah berasnya diolah dan dikonsumsi. Itu pun komplainnya belum jelas mau dialamatkan kemana karena pedagang beras di sekitar kita itu sudah menjadi tangan ketiga, keempat bahkan lebih dari jaringan pedagang beras yang lebih besar.

Saya baca pemberitaan, sepertinya pemerintah masih hati-hati mengeluarkanstatement terkait beras plastik ini. Kita juga masih menunggu rilis berita dari BPOM yang tengah menguji beras-beras yang diduga merupakan beras sintesis.
Tetapi jika nantinya memang benar terbukti ada beras yang dioplos dengan beras plastik, pemerintah mesti bertindak tegas dengan mengusut tuntas dan menyeret semua orang-orang yang terlibat ke ranah hukum. Masalah oplos mengoplos beras ini bukan masalah penipuan biasa. Beras adalah makanan pokok sebagian besar masyarakat bangsa ini. Sehingga siapapun pelaku yang “bermain-main” dengan produksi dan peredaran beras sintesis sama saja “bermain-main” dengan harkat hidup masyarakat Indonesia.

Pelaku-pelakunya juga sudah pasti bukan jaringan kelas teri belaka. Rasanya aneh, kalau teknologi untuk membuat beras imitasi yang membuatnya susah dibedakan dengan beras asli dimiliki oleh orang per orang atau kelompok kecil saja. Buat apa? Untuk wirausaha biasa tidak mungkin. Sudah investasinya  mahal, resikonya besar pula. Hanya mafia saja yang suka menjalankan usaha untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli dampaknya pada kenyamanan bahkan keselamatan orang lain.

Lebih miris lagi jika rumor yang diberitakan Straits Times benar adanya. Beras plastik ini diperdagangkan antar negara dari negara yang satu ke negara lain sampai ke dapur kita di Indonesia. Kedaulatan pangan kita yang sudah jatuh karena mengimpor pangan dari negara lain, jadi tambah jatuh lagi karena yang diimpor ternyata pangan jadi-jadian.

Ya sudahlah, nanti kalau artikelnya ditambah lagi, bisa-bisa sebentar kita jadi parno melihat beras di rumah. Padahal mungkin saja berasnya hasil panen di sawah sendiri. Jadi, kita tunggu saja perkembangan beritanya. (PG)

__________________

Pertama kali dipublikasikan di Kompasiana 
ilustrasi gambar dari www.straitstimes.com

Kamis, 07 Mei 2015

Pertengkaran Itu Manis



Pernah bertengkar sama kekasih kamu?. Mulai dari pertengkaran kecil mengenai hal-hal remeh yang berlangsung beberapa menit saja, sampai pertengkaran menguras emosi yang bisa berlangsung berhari-hari. Semua orang yang sedang menjalin hubungan pasti  pernah mengalaminya 

Perbedaan 

Pertengkaran terjadi karena perbedaan pendapat atau pendirian. Ini adalah hal yang wajar pada hubungan pria dan wanita pasalnya mekanisme kerja pikiran pria dan wanita saat memandang sebuah masalah memang sangat berbeda. Pria cenderung menggunakan rasio (otak kiri),  berpikir sistematis, tidak suka sama hal-hal remeh, namun kurang bisa multitasking. Dalam menyikapi sebuah masalah pria condong  berpikir sebab-akibat dan aksi-reaksi. Sementara wanita cenderung emosional (otak kanan), berpikir detail, sangat bisa diandalkan untuk multitasking. Dalam menyikapi suatu masalah wanita lebih suka menggunakan pendekatan sosial. Jadi tidak usah heran, pria selalu jadi makhluk penyendiri saat menyulap otaknya menjadi super komputer untuk berpikir keras bagaimana menyelesaikan masalahnya. Sementara wanita adalah makhluk yang lebih suka kumpul-kumpul dan curhat satu sama lain.

Saat membeli inventaris rumah. Pada umumnya pria lebih condong memilih berdasarkan fitur dan harga. Sementara wanita lebih condong memilih berdasarkan penglihatan dan kenyamanan. Saat mengambil keputusan untuk mem-PHK seorang karyawan, yang dipikirkan pertama kali oleh manajer pria pada umumnya adalah sejauh mana efektifitas keputusan itu pada kelangsungan kerja tim. Sementara manajer wanita memikirkan bagaimana nasib karyawan tersebut selanjutnya.

Jadi pada dasarnya, pertengkaran itu lumrah terjadi.  Hanya yang harus dipastikan adalah keduanya memiliki komitmen yang sama untuk mempertahankan hubungan tersebut. Ini dasar penting untuk membantu proses selanjutnya yaitu mencari titik temu dari permasalahan yang sedang dihadapi. Sampai kapan pun pria tidak bisa memaksakan wanita berpikir menggunakan sistem berpikirnya, begitu pula sebaliknya. Karena memang Tuhan sudah mendesain otak pria dan wanita itu secara berbeda.

Analogi Tali

Untuk menetralisir keadaan, menurunkan ego masing-masing amat berguna. Lalu yang tidak kalah penting adalah berkomunikasi secara jujur dengan pasangan. Kemukakan apa sebenarnya yang kamu harapkan dari pasangan begitu pula sebaliknya. Memang kadang butuh waktu untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut. Penyelesaian itu pun tidak serta merta datang, seperti hakim yang membuat putusan di pengadilan. Seringkali membutuhkan permenungan mendalam, cucuran air mata, sampai harus mengorbankan kesenangan masing-masing. Tapi itulah proses penggodokan sebuah hubungan. 
Namun apabila kemudian “permusuhan” kecil tersebut berhasil diselesaikan, maka pria dan wanita tersebut berhasil menambah satu lagi tingkatan kedewasaan hubungan mereka. Mereka telah mengetahui bagaimana menyikapi sebuah permasalahan dengan saling memahami satu sama lain.

Bayangkan sebuah tali yang tiba-tiba terputus lalu pada tempat putusnya disimpul sedemikian rupa agar talinya tersambung kembali. Dengan demikian, jarak antara kedua ujung tali semakin lama semakin dekat.


Mengelola pertengkaran pun demikian adanya. Jika dapat diselesaikan dengan baik, pertengkaran dapat dapat berujung manis yaitu pasangan semakin saling memahami lagi dan semakin mendekatkan hubungan mereka.

_____________

ilustrasi gambar dari: wolipop.detik.com