Jumat, 27 Februari 2015

Persamaan Penulis dan Manajer



Manajer menjadi tokoh sentral dalam organisasi atau divisi dalam organisasi tersebut yang bertanggungjawab terhadap proses manajerial merencanakan, Implementasi hasil perencanaan, mengarahkan atau mengendalikan proses kerja dan pada akhirnya mengevaluasi kinerjanya.

Merencanakan
Planning atau perencanaan adalah titik awal sebuah proses manajerial. Disinilah digodok konsep demi konsep termasuk hasil evaluasi periode sebelumnya untuk melihat posisi organisasi saat itu. Bertolak dari hasil tersebut, dibuatlah garis besar program kerja yang harus dibuat pada periode berikutnya untuk mencapai goal organisasi. Perencanaan adalah seni melihat jauh ke depan. Ada perencaan yang bersifat strategis karena periode proyeksinya yang lebih panjang, ada pula perencanaan taktis yang lebih bersifat hit and run.

Proses yang sama pun dibutuhkan seorang penulis sebelum mulai menorehkan huruf pertama pada tulisannya. Penulis sudah memiliki gambar besar dalam kepalanya akan seperti apa nanti jadinya tulisan buatannya itu. Format apa yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan yang ada dibenaknya kepada pembaca. Termasuk riset yang dibutuhkan atau referensi apa saja yang dapat menunjang pembuatan tulisan tersebut.

Implementasi
Seorang manajer bertanggungjawab memastikan semua program kerja yang dirumuskan pada saat perencanaan dijalankan secara maksimal, tepat guna dan tepat sumber daya. Saat inilah strategi demi strategi dieksekusi ke dalam tindakan atau aksi.
Pada tahapan ini, penulis mestinya sudah mulai menuangkan konsep dalam kepalanya ke dalam rangkaian kata demi kata. Proses menulis ini membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, karena menerjemahkan pikiran pribadi ke dalam media visual dan teks bukan pekerjaan mudah. Makanya sebagian besar energi penulis dihabiskan pada tahapan ini. Kecuali pada beberapa penulisan yang memang membutuhkan riset panjang.

Mengarahkan
Tugas manajer adalah mengarahkan tim kerjanya dan segala sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. Manajer harus mampu menularkan ide dan cara berpikir termasuk etos kerja yang dibutuhkan organisasi kepada semua bawahannya. Untuk itu manajer harus memiliki kepemimpinan yang baik dan mampu menjadi sumber inspirasi bagi tim kerjanya.

Nah, mengarahkan dan menjadi sumber inspirasi ini begitu lekat dalam diri seorang penulis. Melalui buah pena dan kepiawaiannya merangkai kata, seorang penulis harus mampu mengarahkan pemikiran pembacanya. Penulis yang baik dapat menanamkan sebuah pemikiran baru di benak pembacanya, sekalipun secara prinsip mungkin pembaca tersebut berseberangan dengan penulisnya.  Makanya tidak heran tulisan tokoh-tokoh tertentu selalu laris manis diburu penggemarnya, karena mereka telah menganggap penulis tersebut sebagai sumber inspirasi.

Evaluasi
Evaluasi mutlak dibutuhkan untuk mencari tahu seberapa besar pencapaian organisasi terhadap target. Jika ada margin antara target dan realisasi harus dipecahkan apa saja penyebabnya. Manajer berperan besar dalam hal ini karena manajer menjadi muara semua informasi dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Proses evaluasi dapat membantu manajer mengambil kesimpulan apa yang harus diperbaiki, apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus ditingkatkan.

Begitu pula dengan kegiatan tulis menulis. Penulis harus memiliki feedback dari pembaca-pembacanya. Dengan demikian penulis jadi tahu apa yang sudah baik dan apa yang masih harus ditingkatkan. Pada blog keroyokan seperti Kompasiana ini, proses evaluasi menjadi sangat mudah karena setiap tulisan dilengkap dengan kolom komentar. Penulis tinggal melihat bagaimana tanggapan orang lain terhadap tulisannya. Hanya yang menjadi kendala adalah kadang komentar dari Kompasianer lain terlalu subjektif, apalagi tulisan-tulisan yang di-posting pada kanal politik. Cara lain sebagai penulis kita dapat meminta sahabat yang bisa dipercaya untuk mengomentari tulisan kita. Feedbackini menjadi bekal untuk terus menyempurnakan tulisan yang dibuat pada masa mendatang.

Persamaan-persamaan di atas semakin membuktikan tulis-menulis pun harus dikelola secara profesional untuk membuat goal atau tujuan tulisan kita tercapai. Jika Manajer mengelola sumber daya, penulis mengelola kata-kata dan emosi pembacanya.

Menarik menyimak salah satu bagian buku bertema kepemimpinan, Re-code Your Change DNA yang ditulis oleh Rhenald Kasali. Dalam era bisnis modern yang aroma kompetisinya begitu kental, setiap organisasi dan orang-orang top di dalamnya harus adaptif, tidak saklek dan selalu siap dengan dinamika zaman.  Rhenald Kasali mengemukakan seorang pemimpin harus memiliki kadar OCEAN yang tinggi. OCEAN itu singkatan dari Openness to experience (Menyesuaikan diri dengan pengalaman), Conscientiousness(terbuka terhadap peraturan), Extroversion(terbuka terhadap orang lain), Agreeableness(Menerima kesepakatan bersama), dan Neuroticism(Mampu menyesuaikan diri terhadap tekanan). Dengan demikian pemimpin tersebut selalu memiliki wawasan terbuka dan siap berinovasi kapanpun dibutuhkan.
Keterbukaan terhadap dinamika yang ada. Bukankah ini karakter khas seorang penulis? Penulis adalah orang yang selalu berpikiran terbuka tanpa meninggalkan kekritisannya dan mampu melihat apa yang luput dari penglihatan orang kebanyakan. Makanya walaupun belum jadi profesi utama, saya bangga jadi penulis.

Selamat menulis.
_______________

ilustrasi gambar dari: elev8.hellobeautiful.com

Selasa, 24 Februari 2015

Jangan Salah, Bernapas pun Dibayar


Lupakan sejenak kenaikan harga beras dan elpiji. Ada ancaman lain yang mengintai kita dari balik tirai waktu. Ancaman itu bernama resiko kesehatan jangka panjang, yang seringkali kurang dipersiapkan dengan baik tameng keuangannya. Resiko ini tidak kasat mata karena bersifat akumulatif seiring waktu dan lifestyle kita. Terutama untuk masyarakat metropolitan atau megapolitan yang irama kehidupannya berderap cepat seperti genderang  perang. Imbasnya, kita begitu akrab dengan budaya instant dan praktis. Semua hal bisa dilakukan dengan cepat dan tersaji sekejab mata. Yang penting ada duit, ada kartu debet dan ada kartu kreditnya.

Suatu kali, paman saya yang baru saja datang dari daerah dengan nada guyon berkata kepada saya, “Di kampung, kita masih bisa hidup sekalipun tidak punya uang. Yang penting masih kuat mencangkul. Nah, di kota ini kalau tidak ada uang kita tidak bisa hidup lagi. Buat makan lombok pun, mesti beli. Tinggal bernapas saja yang masih gratis.”    


Tapi pembaca sekalian, terutama yang tinggal di perkotaan, sadar atau tidak sebenarnya bernapas pun saat ini sudah tidak gratis lagi alias bayar. Saat kita menghirup udara, berbagai unsur gas selain oksigen ikut masuk juga ke dalam paru-paru kita. Di antara unsur-unsur tersebut ada unsur yang berbahaya bagi kesehatan seperti karbonmonoksida (CO). Karbonmonoksida lebih mudah bersenyawa dengan hemoglobin dibanding oksigen. Dengan demikian lebih mudah masuk ke peredaran darah, bahkan sampai ke otak. Memang dampaknya tidak langsung terasa saat ini. Tapi bila zat tersebut sudah menumpuk dapat menjadi racun dalam darah dan lebih parah dapat memicu tumbuhnya kanker. Jadi saat kita bernapas saat ini kita sebenarnya sudah mulai membayar biaya kesehatan jangka panjang. Hanya saja pembayarannya tidak langsung, melainkan terakumulasi sampai pada saatnya nanti tiba.

Resiko-resiko kesehatan jangka panjang ini akan semakin besar untuk kita yang memang memiliki lifestyle atau kebiasaan yang kurang sehat. Seperti pecandu alkohol, perokok (termasuk orang-orang disekitarnya), pencadu narkotika, pecandu junk food, suka “jajan” (jajannya pakai tanda kutip loh...^_^), dan sederet kebiasaan kurang baik lainnya. Perhatikan total pengeluaran bulanan anda. Berapa persen kontribusi “biaya kelakuan” ini dari total pengeluaran bulanan anda?

Biaya kesehatan jangka panjang ini harus dipersiapkan tameng keuangannya yaitu tabungan kesehatan. Cara menghitung penyisihannya adalah melihat tren biaya kesehatan dan resiko yang mungkin anda alami dengan tetap memperhitungkan inflasi. Instrumen tabungannya bisa berupa tabungan berjangka yang memang anda siapkan untuk biaya kesehatan, asuransi kesehatan dan instrumen tabungan lainnya yang relevan.  Mestinya penyisihan tabungan kesehatan ini tidak lebih kecil dari biaya “kelakuan” setiap bulannya.


Sambil menyisihkan tabungan kesehatan kita juga dapat melakukan strategi lain untuk menghemat biaya kesehatan jangka panjang yaitu gaya hidup yang lebih sehat. Bisa dengan konsumsi makanan sehat, mengurangi “biaya kelakuan”  atau lebih sering berolahraga. (PG)

_______________

ilustrasi gambar dari: patterbuzz.com

Minggu, 22 Februari 2015

Tipu Daya Itu Dunia Orang Dewasa

gambar dari: www.parentmap.com
Menurut saya, pendidikan adalah sebuah on-going process (proses berkesinambungan). Bukan hanya menyangkut nilai-nilai raport, atau banyaknya keterampilan yang dimiliki, tapi juga menyangkut kehidupan. Ilustrasi berikut yang saya adaptasi dari sebuah materi motivasi, cocok sekali untuk menggambarkan bagaimana pentingnya on-going process tersebut.

Suatu hari, Diego kecil bersama ibunya kena tilang polisi lalu lintas. Ibu Diego lupa membawa SIM. Setelah negoisasi beberapa saat, Ibu Diego dengan halus menyelipkan duit dua puluh ribuan ke saku rompi pak Polisi. Tak lama kemudian, mereka dipersilahkan pergi.

Diego kecil heran, mengapa ibunya memberikan Polisi tersebut uang begitu saja, padahal mereka tidak mendapat apa-apa dari polisi tersebut. Permen tidak, es krim tidak, baju tidak, yang lain-lain pun tidak, seperti yang biasa dilihatnya selama ini. Diego kecil pun bertanya dengan polosnya uang itu buat apa? Ibunya menjawab sekenanya. Duit itu untuk melancarkan urusan dengan pak Polisi.


Setelah Diego menyelesaikan ujian SD, kepala sekolahnya datang berkunjung ke rumahnya. Diego memang merasa, nilai-nilainya jeblok. Pak kepala sekolah pasti akan menyampaikan ketidakbererasan nilai-nilai tersebut kepada kedua orang tuanya. Maka dia pun pasrah. Tapi dari dalam dia mengintip ke ruang tamu dan merasa heran. Ayah diego nampak menyodorkan amplop coklat besar kepada bapak kepala sekolah. Setelah itu mereka larut dalam pembicaraan yang hangat. Tertawa lepas satu sama lain. Setelah kepala sekolahnya pulang, Diego menanyakan perihal amplop coklat tadi kepada ayahnya. Ayah hanya mengatakan itu hadiah untuk kepala sekolah dan menyuruh Diego lebih giat lagi belajar.

Pada saat pengumuman kelulusan, Diego melihat namanya berada di daftar murid-murid yang lulus ujian. Diego merasa itu ada hubungannya dengan amplop coklat yang diberikan ayahnya kepada pak kepala sekolah.

Setelah lulus SMU, Diego ingin masuk ke sebuah Universitas negeri ternama. Ayah dan ibunya juga setuju dengan pilihan Diego. Namun Diego tahu, kemampuan intelektualnya sebenarnya kurang mampu diandalkan, terutama untuk mengikuti test masuk perguruan tinggi tersebut. Dia pun membujuk ayahnya menggunakan jasa joki test masuk yang berbiaya mahal. Walaupun cara tersebut sebenarnya tidak benar, ayahnya setuju. Berbekal jejaring pertemanan, Diego berhasil menemukan Joki yang dimaksud dan berkat jasa Joki tersebut dia berhasil lulus ke perguruan tinggi tersebut.

Waktu terus berlalu. Kini Diego menjabat sebagai salah satu pejabat di lembaga milik pemerintah. Kecurangan demi kecurangan yang dilaluinya selama hidup telah membentuknya menjadi seorang pejabat yang korup. Dia sudah berulangkali menilep duit pemerintah melalui proyek demi proyek yang ditanganinya.
Tapi pada akhirnya, penyelewengannya berhasil diendus oleh KPK. Dia pun diciduk dan dijadikan salah satu tahanan KPK. Wajahnya berseliweran di TV dan surat kabar nasional. Bukti-bukti cukup memberatkan dan semakin menguatkan indikasi dia akan dijadikan narapidana kasus korupsi.

Ayah dan ibunya pun berlinang air mata, tidak menyangka anak kebanggaan mereka melakukan tindakan tak terpuji itu.

************************

Tidak banyak dari kita yang menyadari bahwa kehidupan yang mengalir seperti air adalah guru paling utama. Seringkali kita merasa wajar berkata dusta atau sedikit memutarbalikan fakta untuk mencapai tujuan tertentu tapi sebaliknya anak atau adik kita akan dihardik habis-habisan jika berani melakukannya. Memang tipu daya itu dunia orang dewasa.(PG)


Baca juga:

Kamis, 19 Februari 2015

Ini Bahasa Tubuh Orang yang Tertarik Dengan Anda


gambar dari: www.dailymail.co.uk
Ada tiga faktor komunikasi yang menentukan keefektifan pesan yang kita sampaikan kepada orang lain. Kata-kata yang kita ucapkan (verbal), Intonasi (vokal) dan bahasa tubuh (visual). Dari antara ketiganya, rupanya bahasa tubuh yang memiliki peran paling besar untuk mengefektifkan komunikasi yang kita lakukan.

Albert Mehrabian seorang profesor emeritus di bidang psikologi dalam penelitiannya menemukan bahwa dalam sebuah komunikasi, kepercayaan pendengar terhadap pesan yang disampaikan oleh pembicara 55% ditentukan oleh faktor visual (penampilan, bahasa tubuh), 38% vokal (intonasi dan suara), dan verbal (kata-kata yang diucapkan) ternyata hanya memberi dampak 7% saja.

Pada umumnya, kita mampu mengatur bahasa verbal yang kita gunakan karena kata-kata dikendalikan langsung oleh pikiran sadar kita. Namun kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol reaksi tubuh kita karena sebagian reaksi adalah perintah dari alam bawah sadar kita. Sesungguhnya tubuh kita sendiri adalah  sebuah paket komunikasi lengkap.


Oleh karena itu orang yang mempelajari bahasa tubuh dapat segera mengetahui kita sedang berbohong, sedang gundah atau sedang tertarik, hanya dengan mengamati perubahan bahas tubuh kita, sekalipun kata-kata yang diucapkan tidak banyak.  
Kali ini kita coba mengamati bahasa tubuh orang yang sedang tertarik. Baik itu tertarik pada orang yang mengemukakan ide maupun tertarik pada lawan jenis. Mungkin saja dia tidak mengatakannya secara langsung tapi ketertarikan itu bisa nampak dari tindak tanduknya. Ketertarikan ini bisa terjadi pada orang yang sudah saling kenal, namun bisa juga terjadi antara orang yang belum saling mengenal. 

Beberapa bentuk bahasa tubuh orang yang sedang tertarik antara lain:
1.       Tersenyum dan pupil membesar. Apabila orang yang kita ajak bicara memberikan respon seperti itu bisa jadi dia tertarik dengan ide yang kita kemukakan. Bisa jadi juga dia diam-diam menyukai kita.
2.       Merapikan rambut. Orang yang mengalami ketertarikan dengan lawan jenis tanpa sadar suka merapikan rambut. Bisa seluruh bagian rambut, atau pada sisi tertentu. Padahal sisiran sudah rapi jail. Bahkan untuk orang yang botak atau berambut tipis pun gerakan alaminya adalah memegang kepala.
3.       Menunjuk dengan ujung kaki. Ketertarikan juga bisa ditunjukkan dengan arah ujung kaki pada orang tertentu. Tidak mesti kedua kaki. Salah satu kaki bisa menyesuaikan dengan arah badan, sedangkan ujung kaki yang lain adalah isyarat ketertarikan. Dalam sebuah pesta taman misalnya, pada sebuah kumpulan orang-orang yang sedang bercakap-cakap, perhatikan ujung kaki orang-orang tersebut. Ujung kaki mereka biasa akan tertuju pada orang-orang yang menguasai pembicaraan atau memiliki ide-ide menarik.  
4.       Mendekat. Dua orang yang saling tertarik akan berusaha untuk menghilangkan jarak di antara mereka. Jika dua orang yang baru saling kenal bercakap-cakap dan saling tertarik satu sama lain, tanpa sadar mereka semakin lama semakin mendekat. Bahkan mereka tidak keberatan kalau lawan bicara mulai memasuki daerah pribadi mereka (jarak 46-120 cm).
5.       Merapikan baju. Bentuknya macam-macam, bisa merapikan dasi, merapikan rok, merapikan lipatan tangan baju, merapikan lipatan kerah, dan lain-lain.  Padahal sebenarnya tidak ada masalah dengan penampilan, hanya saja alam bawah sadar memerintahkan kita untuk memperbaiki penampilan di dekat orang yang menarik hati kita.

Masih ada bahasa tubuh lain yang sudah umum terjadi. Biasanya orang yang sedang tertarik akan membuat dirinya tampil lebih gagah. Saat berjalan di dekat orang yang disukai, pria biasa secara refleks menegakkan tubuhnya. Dada dibusungkan, agar nampak lebih tegap. Bisa juga diikuti dengan gerakan menyapu rambut walau sepintas. Sedangkan wanita akan mengatur cara jalannya, diikuti dengan membenahi penampilan dan pakaian. Kadang-kadang diikuti dengan gerakan mengentakkan kepala ke belakang.

Namun agar tidak keliru menafsirkan, beberapa bentuk bahasa tubuh itu harus diselaraskan satu sama lain. Jika benar orang di hadapan kita sedang tertarik dengan kita, satu bahasa tubuh biasa akan diikuti oleh bahasa tubuh lainnya. Jika hanya terlihat satu ciri saja, bisa jadi dia tidak sedang tertarik melainkan hanya sebuah gerakan spontan saja.


Reaksi selanjutnya terserah kita sebagai pembicara atau orang yang mengirimkan pesan. Jika kita juga memiliki rasa yang sama dengan orang yang tertarik kepada kita, maka bersyukurlah karena kemungkinan besar relasi yang terjalin bisa ditingkatkan pada tahap berikutnya. Jika tidak, kita harus tetap bersyukur karena ada orang yang memperhatikan dan memiliki ketertarikan dengan kita.  (PG)

Selasa, 17 Februari 2015

Imunisasi KPK


gambar dari: www.republika.co.id

Penetapan Bambang Wijojanto sebagai tersangka kasus keterangan palsu oleh Bareskrim jadi berita yang mengejutkan kita semua. Bagaimana mungkin punggawa pemberantasan korupsi di negeri ini terlibat dalam sebuah kejahatan? Belum lagi reda debaran jantung kita, nama Abraham Samad pun ikut diseret dalam pusaran badai. Kita ketahui bersama kalau Abraham Samad telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sulselbar dalam kasus pemalsuan dokumen yang terjadi beberapa tahun lalu. 

Sore ini saya membaca berita menarik lainnya. Kabareskrim Polri, Budi Waseso mengeluarkan statement keras akan mengusut senjata api milik 21 penyidik KPK eks kepolisian yang izin kepemilikannya sudah kadaluarsa sejak tahun 2012 lalu. 

KPK kini benar-benar sedang dibuat babak belur. 


Mencari analogi praktis, sekarang KPK jadi mirip prajurit perang yang perlengkapan perangnya tengah dilucuti habis-habisan. Senjata utama seperti tombak, pedang dan trisula harus segera ditanggalkan. perisai juga harus ditanggalkan. Bayonet dan senjata-senjata kecil lainnya pun ikut dilucuti. Selain badan dan tangan kosong, tidak ada lagi yang bisa diandalkan dari prajurit perang tersebut.

Tapi jika kita mengambil perspektif yang sedikit berbeda, masih ada hal positif yang bisa dipetik dari musibah yang sedang menimpa KPK. Saya tidak akan membahas konfrontasi KPK dan Polri. Biarlah nasib pimpinan KPK dan Kapolri ditentukan kemudian. Jika pemerintah mampu menyikapi peristiwa ini secara bijaksana,  sebenarnya pelemahan KPK saat ini bisa jadi momentum tepat untuk meningkatkan “selling value” KPK di kemudian hari.

Seorang anak kecil yang baru diberi suntikan imunisasi biasa justru akan menjadi jatuh sakit ditandai dengan rewel dan demam. Namun imunisasi yang berisi biang penyakit justru akan membantu si anak  membentuk sistem kekebalan tubuh yang baik, agar pada masa mendatang anak akan kebal terhadap penyakit sebenarnya yang jauh lebih berbahaya. 

Mestinya peristiwa demi peristiwa yang melemahkan daya KPK akhir-akhir ini digunakan sebagai pelajaran berharga bagi pemerintah untuk mengambil tindakan di masa mendatang. Nantinya proses rekrutmen pimpinan KPK termasuk penyidik-penyidik yang bekerja di dalamnya harus benar-benar mendapat perhatian. Lembaga KPK adalah simbol upaya menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan kebenaran. Oleh karena itu orang-orang yang terlibat di dalamnya harus benar-benar bersih. Dengan sosok yang “clean”, KPK tidak akan mudah menjadi sasaran tembak oknum-oknum tertentu yang tidak senang dengan gerakan pemberantasan korupsi. Sebaliknya KPK dapat dengan mudah menembak siapapun orang yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan negeri ini. 

Hanya memang masalah berikutnya adalah mencari sosok clean and clear di negeri ini sepertinya akan jauh lebih sulit dibanding mencari jarum di antara tumpukan jerami. (PG)

Minggu, 15 Februari 2015

Manajemen Amplop

gambar dari: actonprint.com.au


Kadang-kadang pasang surut ekonomi rumah tangga itu ibarat sebuah nyanyian. Saat gajian atau tanggal muda, lagu yang dinyanyikan menggunakan nada dasar Do=C Mayor jadi lagunya enak didengar, menyiratkan harapan dan semangat. Tapi begitu gaji mulai menipis dan penanggalan bulan semakin senja, lagu yang dinyanyikan jadi menggunakan nada dasar Do=A Minor. Lagunya cocok jadi soundtrack film-film horor, menyayat hati dan penuh elegi. (Halah....!!!)

Tidak jarang nyanyian tanggal tua ini jadi pemicu masalah-masalah dalam rumah tangga. Hal-hal yang tadinya sepele bisa jadi rumit. Perasaan orang serumah jadi super sensitif. Duit juga jadi sesuatu yang sensitif untuk dibicarakan.

Padahal cukup banyak informasi mengenai strategi manajemen keuangan keluarga terutama mengatur kestabilan cashflow (arus kas) yang bertebaran di sekitar kita. Salah satu strategi yang sudah cukup umum digunakan adalah manajemen amplop. Secara garis besar sebenarnya metodenya sama saja dengan  membuat anggaran belanja. Hanya saja kali ini kita mengemas strategi manajemen amplop ini dengan menekankan pada kestabilan cashflow.

Sebagai langkah awal, setelah menerima gaji atau pendapatan, kita mesti menyisihkan terlebih dahulu pendapatan untuk pos-pos pembiayaan yang penting seperti pembayaran kewajiban, biaya pendidikan, pos tabungan/investasi atau pos-pos lain yang wajib hukumnya dipenuhi.
Setelah semua pos-pos keuangan yang penting sudah diamankan, praktis sekarang dana yang tersisa adalah dana untuk kebutuhan rutin sehari-hari seperti keperluan dapur, transportasi, kebutuhan MCK, dan lain-lain. Dana inilah yang akan didistribusikan secara proporsional untuk menjamin kelancaran likuiditas setiap hari sampai waktu gajian berikutnya datang. 

Cara pendistribusiannya praktis saja. Cukup sediakan amplop-amplop berukuran sedang dan tebal sebanyak 31 buah (jumlah hari dalam sebulan paling banyak 31 hari). Beri nomor urut di setiap amplop-amplop tersebut. Nantinya nomor urut ini menunjukan tanggal pada hari berjalan. Kemudian bagi dana yang tersisa tadi ke dalam amplop-amplop tersebut. Tentu saja sesuaikan jumlah amplopnya dengan jumlah tanggal pada bulan yang akan dijalani. Persentase distribusinya terserah anda. Bisa dibagi secara merata atau pada hari-hari tertentu diberi porsi lebih tinggi dari hari lainnya. Misalnya pada hari libur, weekend atau pada hari-hari tertentu yang menurut anda akan terjadi lonjakan biaya. Uang dalam amplop inilah yang akan menjadi standar belanja setiap harinya. Jika anda telah sampai pada tahapan ini, berarti anda telah menyelesaikan 50% dari strategi manajemen amplop. 50%-nya lagi adalah action dan penyelerasan.

Prinsip yang dibutuhkan adalah komitmen untuk tidak membelanjakan uang lebih dari uang yang ada dalam amplop untuk hari tersebut. Ini bisa jadi ujian untuk menahan keinginan dan naluri materialis dalam diri kita. Apalagi untuk mereka yang terbiasa dengan gaya hidup belanja tanpa perencanaan. Sehingga sering kali komitmen juga harus disertai dengan tekad yang kuat. 

Jika memang ada pengeluaran mendesak (harus segera dipenuhi, dan menyangkut harkat hidup keluarga ) sehingga uang yang anda butuhkan melebihi jumlah uang dalam amplop pada hari itu, anda dapat mengambil kekurangan dananya dari amplop-amplop yang lain. Sebaliknya, jika pada hari itu anda surplus (pada akhir hari masih ada kelebihan uang pada amplop), segera distribusikan kelebihan uangnya pada amplop-amplop yang lain. Atau sekalian langsung diisi pada amplop paling terakhir. Ini gunanya agar kelebihan dana tersebut tidak langsung menggoda anda. 

Usahakan ada surplus setiap hari dengan berhemat dan tidak berbelanja di luar perencanaan. Saat  akhir bulan tiba, dan masih ada dana yang tersisa anggaplah itu bonus untuk anda atas kerja keras dan kedisiplinan mengelola keuangan bulan tersebut. Gunakan untuk bersenang-senang bersama keluarga, melengkapi inventaris rumah tangga atau boleh juga dialokasikan kembali untuk membantu cashflow bulan berikutnya. Apapun kini pilihan anda, terserah. Your money, your rule isn’t it?   

Jika strategi manajemen amplop ini berjalan dengan baik, kita dapat memaksimalkan kestabilan cashflow khususnya menyangkut pengeluaran setiap harinya. Sehingga akhirnya, nyanyian kita tidak perlu berganti-ganti nada dasar seiring bertambah tuanya penanggalan di kalender.

Kamis, 12 Februari 2015

Berbagi Cahaya

gambar dari: jbrcommunity.org

Lihatlah sebuah lilin yang menyala di tengah kegelapan. Sekalipun kegelapan jauh lebih besar dari pendar cahayanya, kegelapan itu tidak bisa menguasainya. Cahayanya, sekalipun kecil tetap menjadi sumber penerangan di sekitar lilin. Cahaya yang kecil itu, bisa menimbulkan perbedaan nyata antara terang dan gelap.
Dengan memancarkan cahaya, sebenarnya dia sedang mengorbankan dirinya sendiri karena cahaya tersebut perlahan membakar seluruh tubuhnya. Mulai dari ujung, tengah, sampai seluruh batang lilin tersebut lebur hingga cahayanya pun padam. Pada saat padam kegelapan kembali berkuasa.

Maka sebelum seluruh lilin lebur, mesti ada lilin lain yang digunakan untuk meneruskan cahayanya. Lilin tersebut berguna menggantikannya menerangi ruangan gelap tadi, saat lilin pertama padam. Begitu pula jika lilin kedua habis lebur, maka lilin ketiga harus menggantikannya.


Akan lebih baik lagi jika cahaya tersebut tidak hanya dimiliki satu lilin. Sekiranya dalam ruangan tersebut ada lebih banyak lilin yang dinyalakan, maka cahaya tersebut akan menjadi jauh lebih kuat dari gelap. Semakin dibagikan, cahaya tersebut semakin berbalik menguasai kegelapan.

Setiap dari kita pun bisa diibaratkan seperti sebuah lilin kehidupan. Disekitar kita pasti selalu ada “kegelapan”. Implementasinya macam-macam. Penipuan, hiburan tak sehat, Korupsi, dan lain-lain yang semuanya berakar dari sifat egoisme dan egosentris kita. Tapi melawan kegelapan dengan kegelapan bukan cara yang bijak, karena dengan demikian kegelapan akan semakin berkuasa.

Melawan kegelapan harus dengan terang. Melawan kejahatan dengan kebaikan. Dengan bebuat baik sekecil apapun, kita telah menjadi cahaya bagi orang lain. Sekecil apapun, kebaikan tersebut pasti berguna seperti satu pendar cahaya ditengah kegelapan. Sekelam apapun hidup kita, satu kebaikan dapat membawa perbedaan yang besar.

Kebaikan yang tulus adalah lawan dari egoisme karena dengan kebaikan tersebut, kita sedang mengorbankan diri kita seperti lilin yang membiarkan dirinya lebur dimakan cahayanya.

Jika setiap orang di luar sana mau berbuat kebaikan yang sama, maka semakin banyak “lilin” yang dinyalakan. Dengan demikian “kegelapan” pun perlahan-lahan akan sirna.

Senin, 09 Februari 2015

Merancang THR Sendiri

gambar dari: ciricara.com

Menjelang hari raya keagamaan, THR adalah tunjangan yang paling ditunggu-tunggu kaum pekerja.  Idealnya THR diberikan sebesar satu kali gaji pokok yang diterima setiap bulan. Namun pada beberapa perusahaan kecil yang permodalannya belum terlalu memadai, besaran THR disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Ada yang memberikan 80% dari gaji pokok, 65%, 50% sampai yang memberikan THR seadanya juga ada. Asal tidak kena tegur disnaker saja. Karyawan yang masa kerjanya belum sampai periode tertentu sesuai kebijakan perusahaan juga biasanya belum diberikan THR secara penuh. Permasalahannya, seringkali jumlah THR tersebut belum mencukupi pembiayaan hari raya plus pernak-pernik pembiayaan yang menyertainya.

Kabar baiknya, buat kawan-kawan yang THR nya belum memadai, kita dapat merancang THR kita sendiri. Caranya lewat penyisihan pendapatan secara rutin.

Pertama-tama, kita mesti sudah mengetahui berapa sebenarnya THR yang ideal untuk kita. Pengalaman setiap tahun dapat dijadikan sebagai acuan untuk membuat gambaran biayanya. Komponen pembiayaan yang biasa terjadi misalnya: anggaran konsumsi (makan-minum), transportasi (lokal atau keluar kota), uang saku untuk anak, keponakan, dan sebagainya. Setiap orang pasti memiliki anggaran yang berbeda-beda.


Setelah menghitung gambaran biayanya, bandingkan dengan jumlah THR yang akan diterima. Lalu hitung berapa selisih anggarannya. Selisih inilah yang akan dirancang sumber dananya dari pendapatan kita. Kemudian untuk menentukan seberapa besar penyisihan yang harus dilakukan setiap bulan, bagilah selisih anggaran kemudian dibagi berapa lama rencana kita menyisihkan pendapatan tersebut.
Misalnya: Odi seorang karyawan pada perusahaan tekstil dengan upah Rp 1.850.000,- per bulan. Menjelang hari Idul Fitri, Odi menerima THR sebesar Rp 1.550.000,-. Perhitungan biaya untuk merayakan lebaran di kampung halaman plus membeli pakaian baru dan oleh-oleh untuk keluarga sekitar Rp 2.000.000,- artinya Odi masih membutuhkan tambahan anggaran sebesar Rp 450.000,- Nah, anggaran sebesar Rp 450.000 inilah yang mesti dirancang penyisihannya.

Tugas berikutnya adalah menentukan berapa lama Odi harus menyisihkan pendapatannya. Jika masa menabung yang tersedia masih setahun penuh, Odi dapat menyisihkan pendapatannya sebesar Rp 450.000,- di bagi 12 bulan atau sekitar Rp 37.500,- per bulan. Katakanlah Odi akan merancang tabungan hanya selama sembilan bulan sebelum hari raya. Artinya kekurangan anggaran sebesar Rp 450.000 ini dibagi 9 bulan atau sebesar Rp 50.000,- per bulan.

Ilustrasi di atas adalah milik si Odi. Angka-angkanya pasti akan berbeda untuk setiap orang tergantung dari situasi dan kondisinya. Strategi berikutnya yang sangat membutuhkan komitmen kita adalah memastikan setiap bulan kita mengalokasikan dana tersebut. Pos dananya bisa diatur sendiri. Dapat digabung dengan tabungan jangka pendek yang lain, atau dibuatkan satu pos sendiri. Jika anda membuat satu pos sendiri, sebaiknya mencari pos tabungan yang biaya administrasi dan pajaknya tidak lebih tinggi dari bunga tabungan per bulannya agar tabungan anda tidak tergerus.

Keuntungan dari strategi penyisihan seperti ini adalah arus kas kita tidak akan terlalu terganggu dibanding  menggunakan strategi “tiba masa tiba akal”. Artinya kita tidak membuat persiapan sedikit pun sehingga terkejut saat mengetahui THR ternyata tidak cukup untuk membiayai seluruh keperluan hari raya kita. Kalau keadaannya sudah demikian, kita pasti akan kelimpungan mencari sumber dananya. Salah-salah kita mesti ngutang di saudara, bos atau tetangga lebih dulu. Padahal kita bukannya kurang mampu, hanya kurang lihai mengelola arus kas setiap bulan. Lagipula meminjam untuk tujuan konsumtif sebenarnya kurang sehat imbasnya pada pengelolaan keuangan. (Baca artikel saya bijak mengelola kredit)  


Jika menabung sudah merupakan bagian dari kebiasaan hidup anda, maka tidak akan sulit menjalankan langkah-langkah di atas. Anda hanya perlu mengatur pos tabungannya saja. Sehingga bila tiba saatnya nanti, anda dapat merayakan hari raya dengan khidmat tanpa perlu dipusingkan dengan pembiayaan yang terjadi.  

Jumat, 06 Februari 2015

Filsafat Uang


Semua orang senang berbicara mengenai uang. Karena sepertinya uang punya “magnet” sendiri untuk diperbincangkan. Siapa tidak kenal uang? Anak balita pun sekarang tahu kalau benda sakti itu punya kuasa mendatangkan benda-benda favoritnya seperti mainan atau permen. Seorang tetangga buta huruf di kampung saya pun pandai menghitung rupiah demi rupiah yang mampir ke dompetnya.  Pendek kata semua orang kenal dana hafal kesaktian makhluk yang satu itu.
Kali ini kita akan coba menyingkap “keseksian” uang kita. Kita lihat bagaimana sifat-sifat uang sebenarnya begitu kita  menempatkan uang sebagai sebuah objek, seperti kita mengamati objek-objek lainnya di sekitar kita.  Corat-coret di bawah ini adalah sedikit modifikasi dari materi pendidikan anggota Credit Union kami. Saya pikir bagus juga dibagikan kepada pembaca sekalian. Siapa tahu bisa menginspirasi kita sekalian.

1.       Uang itu Seperti Air. Sejak SD kita sudah belajar mengenai sifat-sifat air pada mata pelajaran IPA. Dari beberapa sifat air tersebut, ternyata ada beberapa sifat yang menyerupai sifat uang kita. Seperti misalnya: Air itu likuid dan mudah mengalir. Perhatikan bagaimana uang kita. Apakah dia betah berlama-lama di dalam dompet atau tempat tertentu ataukah dia mudah sekali “mengalir”? Pada umumnya uang kita cepat sekali berpindah tempat. Hari ini ada di dalam saku tas, eh besok hari sudah berpindah ke laci kasir supermarket. Pagi hari ada dalam dompet, sore hari kemudian sudah berpindah ke dompet rekan bisnis kita. Berikut, air itu pada temperatur tertentu mudah menguap, atau sebaliknya mudah membeku. Kemampuan air berubah wujud ini juga mirip sekali dengan  uang kita. Sebentar-sebentar uang kita  “menguap” berganti wujud menjadi pakaian, fastfood, perangkat elektronik, tiket nonton bioskop, dan lain-lain. Atau bisa juga berubah wujud jadi aktiva tetap yang sewaktu-waktu bisa dicairkan kembali menjadi uang, seperti kendaraan atau properti. Jadi dengan mengetahui sifat-sifat yang seperti  air tersebut, kita dapat lebih bijak memperlakukan uang kita.
2.       Uang itu Suka Berkumpul. Tahu tidak, ternyata uang itu suka berkumpul atau bergerombol, persis emak-emak kompleks yang sedang bergosip ria. Bila ada satu emak lagi yang kebetulan lewat, biasa ikut bergabung juga pada keramaian tersebut. Nah, uang kita juga seringkali bergerak menuju kepada kumpulan besar uang lainnya. Misalnya: awal bulan, uang-uang pada berkumpul di laci kasir bank atau laci kasir supermarket. Pertengahan bulan, uang-uang berkumpul di brankas tukang kredit, akhir bulan uang-uang berkumpul di laci bendahara perusahaan. Kalau kita perhatikan secara seksama pergerakan uang kita biasanya bermuara pada satu gerombolan besar uang lainnya, milik taipan atau kapitalis besar. Jadi biar kita juga banyak duit, belajarlah mengumpulkan uang kita, biar dia memanggil kawan-kawannya yang lain untuk ikut bergabung.
3.       Uang itu Suka Bersembunyi. Persis buronan polisi, uang kita suka di tempat-tempat tersembunyi. Dia selalu ingin berada di tempat yang gelap, terisolir, dan tidak mudah ditemukan. Tidak percaya? Coba cek uang anda, baik yang anda bawa sekarang maupun yang tinggal di rumah. 
4.       Uang Itu Hamba yang Baik, tapi Tuan yang Jahat. Sifat ini sepertinya yang paling wajib hukumnya kita ketahui. Kalau kita memperlakukan uang itu seperti hamba, maka dia menjadi hamba paling baik yang pernah kita kenal. Mengapa? Karena uang itu sangat mampu diandalkan dalam segala situasi dan kondisi. Dia selalu setia melakukan segala perintah kita, termasuk membantu kita di saat-saat kita sedang kesusahan. Uang itu hamba yang tidak pernah mengkhianati kita sebagai tuannya. Tapi hati-hati begitu keadaan sebaliknya yang terjadi. Jika kita memperlakukan uang sebagai tuan dan kita hambanya, maka dia adalah tuan paling jahat yang pernah ada. Bisa saingan sama tokoh-tokoh antagonis di sinetron-sinetron kita itu. Mengapa? Karena uang itu tidak pernah membiarkan kita beristirahat sejenak. Dia akan membuat kita melakukan apapun yang diperintahkannya. Sekalipun itu bertentangan dengan norma, peraturan bahkan suara hati kita sendiri. Uang pun perlahan-lahan akan merampas “hidup” kita sendiri. Kita akan kehilangan waktu, cinta dan hal-hal indah yang semestinya terjadi dalam hidup kita, apabila kita semakin memuja dan mengabdi pada uang tersebut. Jadi kata kuncinya adalah: Jadikan uang kita sebagai hamba, jangan sebaliknya.

Begitulah sifat-sifat uang yang dapat kita jadikan bahan refleksi, bagaimana perlakuan kita selama ini kepadanya. Banyak orang menyalahkan uang atas segala kejahatan yang terjadi di sekitarnya. Tidak sedikit pula orang yang bersyukur karena merasa uang sudah berbuat banyak kebaikan dalam hidupnya.

Mari belajar menghargai setiap sen keringat kita, tapi tidak menjadikannya pusat kehidupan kita. Uang itu tidaklah jahat atau baik, karena uang hanyalah uang. (PG)

Rabu, 04 Februari 2015

Menggoda Calon Pembeli dengan Pricing Stategy

gambar dari: journalmenu.com

Harga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sukses tidaknya pemasaran sebuah produk. Oleh karena itu kita mengenal istilah pricing strategyatau strategi harga dalam pemasaran. Pengemasan dan pengelolaan harga produk yang jitu dapat menggugah minat seseorang untuk membeli produk yang ditawarkan.
Contoh paling mudah, Saat ingin membeli arloji baru di sebuah pusat perbelanjaan, anda dihadapkan pada dua buah toko yang sama-sama menjajakan arloji. Toko yang satu menawarkan koleksi arlojinya di balik etalase tanpa label harga. Sementara toko yang satu lagi menambahkan display harga dan mengelompokkan koleksi arlojinya sesuai gradasi pemberian harga. Anda pasti akan cenderung menghampiri toko yang memiliki display harga karena anda akan lebih mudah membandingkan budget belanja dengan selera anda, ketimbang memilih toko yang satu lagi.
Secara praktis, pricing strategy dapat dijelaskan sebagai cara pemasar bermain-main dengan angka (baca: harga produk) untuk menarik minat beli calon pembelinya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi pricing strategy antara lain kelas ekonomi sasaran penjualan, gaya hidup masyarakat, produk yang ditawarkan, dll.
Berikut beberapa pricing strategy yang sering diterapkan para pemasar di sekitar kita.

1.     Menambahkan gratisan
Kata “gratis” bisa menjadi kata sakti untuk menarik pembeli. Pernahkah anda melihat pemilik toko mencantumkan promo di balik etalase tokonya seperti ini, “Beli dua gratis satu!” atau iklan sejenis itu. Strategi seperti ini cukup mumpuni diterapkan apalagi masyarakat kita memang doyan dengan gratisan. Sebagai contoh, ketimbang memasang label harga Rp 8.000, per botol seorang pedagang minuman memilih menaikkan harganya menjadi Rp 12.000 per botol, namun pembeli mendapat gratis satu botol setiap pembelian dua buah botol. Harga jual untuk tiga buah botol minuman seharga Rp 8.000,- per botol sama dengan harga jual dua botol minuman seharga Rp 12.000,- per botol. Keuntungan yang diperoleh pedagang adalah dengan pembelian paketan misalnya beli dua atau kelipatannya sekaligus, minumannya lebih cepat terjual. Kalaupun ada pembeli yang membeli satuan, margin keuntungannya lebih tinggi dibanding harga normal.

Diskon
       Selain gratisan, kata diskon juga cukup menarik perhatian calon pembeli. Semestinya diskon atau pemotongan harga terjadi pada momen-momen tertentu saja. Misalnya saat cuci gudang, atau ada promo penawaran produk baru. Apabila ada toko yang menawarkan diskon terus menerus walaupun musim sudah berganti beberapa kali, berarti kemungkinan pemilik toko menerapkan strategi harga barangnya sudah dinaikkan terlebih dahulu lalu dibuat diskon supaya harga kelihatan lebih menarik. Namun cara ini tetap efektif dilakukan.

3.      Menegaskan harga
Strategi ini cocok digunakan masyarakat yang lebih memilih produk low end. Memang sebagian masyarakat kita masih cenderung melihat nominal harga terlebih dahulu sebelum mengecek kualitas produknya. Contohnya: “Nasi Campur Komplit, cuma Rp 15.000!”.  Atau bila produk yang ditawarkan terdiri dari beberapa varian harga, iklannya seperti ini “Sedia aneka helm mulai dari Rp 40.000,- !!“ Walaupun helm yang berharga Rp 40.000 adalah helm berkualitas paling jelek di tempat itu, tapi orang-orang yang kebetulan melintas mungkin akan singgah sejenak karena angka Rp 40.000 tadi. Dengan semakin banyaknya calon pembeli yang mampir, semakin tinggi pula peluang terjadinya transaksi.
Beberapa department store malah berani menegaskan harga secara atraktif bila memang dagangannya untuk item tertentu lebih murah dibanding harga pada kompetitornya.

4.       Mempercantik harga
Kalau pada strategi sebelumnya harga produk diberi ‘penegasan’, pada strategi ini harga dipermak sedemikian rupa agar harga lebih eye catching di mata calon pembeli. Contoh, ketimbang memasang label harga Rp 10.000,- per item, seorang pedagang mungkin lebih memilih mencantumkan harga Rp 9.999, per item. Kesan awal yang ditangkap calon pembeli adalah harga lebih murah. Contoh lain, ketimbang melihat promo “Lemari es dua pintu, hanya Rp 1.750.000,”  seorang pembeli mungkin lebih tertarik dengan promo “Lemari es dua pintu, hanya Rp 1,75 juta”  harga kelihatan lebih menarik atau lebih simple bukan?

Pada umumnya pembeli akan mencari alternatif harga yang lebih murah. Sehingga seorang pemasar sebelum menetapkan pricing strategy untuk produknya tetap harus melihat perkembangan harga pada kompetitornya.
Namun ada pula beberapa produk yang lebih menarik minat pembeli apabila harganya dinaikkan (price skimming). Dengan harga yang semakin tinggi justru produk tersebut semakin seksi. Price skimming ini berlaku untuk produk yang langka dan berkelas seperti misalnya batu mulia.

Kesimpulannya, saat berbelanja tetaplah gunakan nalar anda. Jangan sampai anda membawa pulang belanjaan yang tidak anda butuhkan hanya karena harga yang dicantumkan pemilik sayang untuk dilewatkan begitu saja.