Senin, 26 September 2016

Periksa Rasio Keuangan Sebelum Berinvestasi



Dalam manajemen keuangan kita mungkin sudah sering mendengar nasihat “Jangan menciptakan uang, tapi ciptakan aset.” Memang arus kas yang positif bukan berarti segalanya. Sekalipun kita selalu mampu membelanjakan uang lebih sedikit dari pendapatan, tanpa upaya untuk membangun aset, kita tetap berada pada bayang-bayang kesulitan pada masa depan.

Makanya banyak orang yang bekerja keras dan menjalani hidup dengan baik merasa tidak menikmati hasil kerja kerasnya. Setelah arus kasnya ditelisik, rupanya semua pendapatannya hanya habis untuk membayar tagihan-tagihan dan belanja rutin saja. Kalaupun ada pendapatan yang ditabung itu hanya   menyelamatkan “uang sisa” saja tanpa perencanaan yang baik.


Oleh karena itu setiap orang yang memiliki pendapatan juga harus membangun investasi. Pada waktunya nanti investasi akan sangat mendukung kondisi keuangan kita. Manfaat dari investasi antara lain:

  1. Menjaga agar harta kita tidak segera tergerus inflasi. Misalnya dengan angka inflasi tahunan sekitar 8% maka semestinya kita memiliki instrumen investasi yang memberikan imbas hasil di atas 8% per tahun. Jika tidak maka nilai harta kita juga akan cenderung berkurang.
  2. Menambah Pendapatan. Investasi dapat menjadi alternatif pendapatan tambahan. Misalnya kita membeli satu unit rumah lalu mengontrakkannya pada penyewa. Atau dengan berinvestasi pada saham, setiap akhir tahun kita akan menerima tambahan pendapatan berupa deviden.
  3. Capital Gain. Investasi juga dapat berguna untuk menambah nilai harta kita. Misalnya kita membeli satu unit rumah lalu beberapa tahun kemudian rumah tersebut dijual kembali dengan harga lebih tinggi, maka selisih harga inilah yang akan menjadi capital gain bagi kita.


Namun sebelum memulai investasi apalagi yang membutuhkan dana besar, sebaiknya kita memeriksa kembali bagaimana posisi keuangan saat ini. Seperti item-item lain pada pos pengeluaran, investasi juga akan menguras arus kas kita. Jadi harus ada skala prioritas, kemudian mengetahui berapa besar arus kas yang akan kita gunakan untuk berinvestasi dan tipe investasi seperti apa yang sesuai dengan kemampuan kita mengelola resiko. Untuk investasi properti misalnya, dana yang dibutuhkan relatif lebih besar dibanding memulai dengan investasi yang lebih ringan seperti membeli surat berharga atau komoditas seperti logam mulia.

Hal-hal tersebut harus sudah diperhitungkan sebelumnya untuk memastikan setelah mengalokasikan pendapatan, masih ada arus kas yang tersedia untuk biaya hidup seperti biasanya. Jangan sampai karena investasi kita justru mengorbankan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih penting.
Dwita Ariani, seorang Financial Planner dalam bukunya Your Money Your Attitude menulis paling tidak ada tiga rasio keuangan yang harus kita ketahui sebelum memulai berinvestasi:

Rasio Utang
Rasio utang adalah jumlah pendapatan yang kita gunakan untuk membayar pokok pinjaman plus bunganya dibanding jumlah pendapatan kita. Menurut Dwita Ariani rasio utang mestinya tidak lebih besar dari 30%. Ada juga referensi lain yang menuliskan 40%. Artinya pendapatan yang digunakan untuk membayar utang idelanya berada pada kisaran 30%-40%. Sisa pendapatan sebesar 60%-70% digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari. Jika rasio utang kita melebihi rasio tersebut, kemungkinan besar kita akan keteteran jika arus kas kita terbebani dengan tambahan pengeluaran lain termasuk menambah investasi baru.

Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah perbandingan antara aset-aset kita yang bisa segera dilikuidasi seperti misalnya deposito jangka pendek, tabungan darurat dan tabungan lainnya, dibanding dengan pengeluaran selama sebulan. Rasio ini untuk menghitung berapa lama kita mampu membiayai hidup kita jika pendapatan tiba-tiba terhenti. Jika rasio likuiditas 6 misalnya, artinya aset kita masih bisa membiayai hidup kita selama selama enam bulan jika kita tidak memiliki pendapatan sama sekali. Menurut Dwita, idealnya rasio likuiditas ini berada pada angka 12 ke atas. Mayoritas masyarakat kita masih berada pada rasio 3-4 saat ini.

Rasio Pengeluaran dibanding Pendapatan
Sesuai judulnya, rasio ini membandingkan jumlah pengeluaran (khususnya untuk belanja dan membayar kewajiban) dan pendapatan dalam sebulan. Maksimal rasionya berada pada level 90%. Idealnya di kisaran 70%-80%. Artinya kita masih memiliki 20%-30% pendapatan yang bisa digunakan untuk berinvestasi. Semakin kecil rasionya artinya banyak pendapatan yang bisa dialokasikan untuk berinvestasi.

Nah, jika ketiga rasio keuangan di atas sudah berada kisaran yang ideal, artinya kita sudah dapat mengalokasikan sebagian pendapatan untuk membangun investasi. Namun hati-hati jika ada rasio keuangan yang belum ideal. Misalnya rasio utang masih berada di atas 40%. Artinya kita masih harus memprioritaskan pendapatan untuk menyelesaikan utang-utang kita.

Atau misalnya rasio pengeluaran dibanding pendapatan masih mendekati 100%, artinya kita masih harus mengefisienkan pengeluaran terlebih dahulu atau meningkatkan pendapatan dengan penghasilan tambahan. Dengan demikian kita tidak terjebak pada kesulitan mengelola arus kas gara-gara membangun investasi.

Penting juga untuk selalu meningkatkan rasio likuiditas agar jika sewaktu-waktu terjadi masalah sehingga pendapatan kita terganggu, kita masih memiliki dana cadangan untuk melanjutkan kehidupan sebelum pendapatan stabil kembali.

Namun bukan berarti kita mesti menunggu rasio-rasio keuangan tersebut ideal dahulu baru mulai membangun aset. Jika belum memungkinkan untuk berinvestasi, kita tetap bisa menyisihkan pendapatan ke dalam tabungan-tabungan sesuai dengan tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang kita. (PG) 

---

ilustrasi gambar dari: referenceforbusiness.com 
pertama kali ditayangkan di blog kompasiana.com

Jumat, 09 September 2016

Mario vs Ario, Siapa yang Menang?


Siang kemarin (9/9) pada program Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Mario Teguh memberi klarifikasi mengenai berita kurang sedap yang menghantam dirinya beberapa hari terakhir ini. Berita tersebut mencuat setelah Ario Kiswinar mengakui Mario Teguh sebagai ayahnya dan dirinya telah ditelantarkan selama ini. Pengakuan itu diekspos dalam program Hitam Putih Trans7 Rabu (7/9) lalu.
Ada beberapa hal yang bertentangan, jika kita mencoba membandingkan pernyataan Mario Teguh dan pernyataan Ario. Tapi tulisan ini bukan untuk menelisik statement versi siapa yang paling benar. Itu pekerjaan yang sulit.


Klarifikasi Mario Teguh menjadi menarik karena motivator yang terkenal dengan Salam Super itu kemudian memberi tantangan kepada Ario untuk melakukan tes DNA. Ini menjadi seperti statement kunci yang diharapkan bisa membuktikan kebenaran dan membuka mata pemirsa sekalian.

Menurut pengakuan Mario Teguh sebenarnya permintaan melakukan tes DNA sudah dilakukan oleh Mario Teguh kepada Aryani (mantan istrinya) saat Ario masih kecil. Namun Aryani tidak pernah mengizinkannya. Rupanya saat itu, ayah dan ibu ini sudah mengalami perbedaan pendapat mengenai status Ario. Ini indikasi sebuah skandal rumah tangga mungkin saja telah terjadi.

Saya berandai-andai, jika saja saat itu tes DNA benar-benar dilakukan, mungkin masalah ini tidak akan muncul ke permukaan. Namun situasi dan kondisi keduanya 30 tahun lalu tentu berbeda dengan saat ini. Memang Aryani-lah pemegang kunci lemari kebenarannya, tetapi permintaan seperti itu tentu sangat emosional bagi seorang wanita, entah Aryani berada di pihak yang salah atau benar.
Kita belum tahu apakah tantangan Mario Teguh ini akan disambut oleh Ario atau tidak. Tetapi mari kita melihat masalah ini dari perspektif yang lain.

Jika diamati, untuk kasus-kasus seperti ini media memiliki peran yang sangat strategis. Media telah menjadi semacam jembatan sekaligus pemisah antara manusia yang satu dan manusia yang lain. Jika saja program acara Hitam Putih Trans7 tidak mengekspos curhatan Ario, kita mungkin tidak akan pernah tahu masa lalu seorang Mario Teguh. Mungkin juga Mario Teguh tidak akan memberi perhatian khusus kepada Ario seperti saat ini.

Memang peradaban telah berubah. Kaum yang tidak mau mengikuti perkembangan akan tergerus dengan sendirinya. Kita hidup pada zaman dimana nilai-nilai silahturahmi telah beralih rupa sedemikian rupa. Jika dulu silahturahmi diaktualisasikan dengan kunjungan dan sapaan fisik, saat ini karena manusia semakin sibuk dan teknologi komunikasi telah berkembang, silahturahmi dapat dilakukan lewat gadget dan media sosial.

Dahulu, telepon kita hanya dapat mengantarkan suara tanpa ekspresi, kini teknologi kita dapat menghadirkan ekspresi dan emosi hampir sama dengan aslinya. Padahal di dunia nyata kita sedang terpisah ribuan kilometer jauhnya.

Tapi di sisi lain, hubungan interpersonal dengan model seperti ini, dimana teknologi menjadi media komunikasinya juga bisa membawa dampak lain bagi kita. Kita telah jatuh pada gaya hidup dimana nilai-nilai silahturahmi direduksi sedemikian rupa menjadi tidak lebih besar dari ukuran gadget atau pesawat televisi kita.

Sudah jamak kita lihat, dua pihak yang sedang berpolemik sahut menyahut lewat media. Padahal mungkin saja masalah mereka lebih cepat diselesaikan jika kedua pihak bertemu, jauh dari sorotan kamera dan intervensi pembawa acara. Pembicaraan akan lebih cair jika kedua pihak mampu berbicara dari hati ke hati. Sekalipun tidak terjadi titik temu antara keduanya, itu hanya akan jadi milik mereka.

Berbeda dengan sahut menyahut lewat media, dimana ada banyak kepentingan yang terlibat di dalamnya. Media tentu punya misi tambahan untuk menggaet audiens sebanyak-banyaknya. Dan pada zaman ini, audiens hanya akan melirik jika media menghadirkan sesuatu yang berbeda, emosional dan sensasional.

Jadi menurut saya kalaupun nantinya Ario menyambut tantangan Mario Teguh untuk melakukan tes DNA, masalah tidak akan serta merta selesai. Memang di satu sisi, tes DNA akan membuktikan bagaimana status hubungan biologis Mario Teguh dan Ario. Tapi itu hanya kebenaran pada satu sisi saja. Kebenaran-kebenaran lain yang telah tertelungkup 30 tahun yang lalu, hanya akan diketahui oleh Mario Teguh dan Aryani saja, bahkan mungkin masih ada yang disembunyikan satu sama lain.

Statement Mario Teguh dan Ario tiga hari ini, hanya kembali membuktikan satu hal. Media telah memainkan peranannya dengan baik. Jadi jika hendak diibaratkan seperti pertarungan, Mario Tegus Vs Ario Kiswinar, kita sama-sama tahu pemenangnya adalah… media. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: tribunnews.com
tulisan ini pertama kali ditayangkan di blog kompasiana.com

Kamis, 08 September 2016

Tips Mengurangi Kebiasaan Menunda Pekerjaan


Banyak orang yang tergolong dalam kaum “suka menunda pekerjaan”. Saya juga kadang-kadang dihinggapi “penyakit” yang satu ini. Padahal kita sama-sama tahu, penundaan demi penundaan seringkali jadi awal dari kekacauan manajemen pekerjaan baik di lingkungan kerja, di rumah atau di lingkungan kita yang lain.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, penyebab “suka menunda” ini bermacam-macam.
Bisa jadi karena terlalu banyak berpikir sebelum bekerja. Akhirnya energi terkuras untuk berpikir dan tidak ada lagi yang tersisa untuk memulai pekerjaan, tertunda-lah pekerjaan kita. Kemudian manajemen waktu yang kurang baik, sehingga pada satu waktu kita memiliki banyak waktu luang dan pada lain waktu kita keteteran karena banyak tugas yang harus diselesaikan dalam waktu hampir bersamaan. Akibatnya kita harus memilih salah satu tugas dengan menunda tugas yang lain.

Penyebab lainnya adalah keengganan untuk memulai pekerjaan karena malas, tidak suka dengan pekerjaan yang akan dilakukan, takut gagal atau takut mengacaukan pekerjaan itu.

Nah, setelah mengenali penyebab penundaan tersebut, mari kita lihat bagaimana tips-tips mengurangi kebiasaan ini.

Memulai
Ya, cara paling pertama mengurangi kebiasaan menunda adalah dengan memulai kebiasaan baru, yaitu langsung memulai. Buatlah action atau tindak lanjut segera begitu mendapat tugas baru. Segeralah menghubungi seseorang jika anda merasa dia adalah klien potensial, segera membuat janji ketemu jika klien merespon, segera selesaikan berkas-berkas pekerjaan anda sebelum jadi tumpukan yang sulit anda sentuh, segera kunjungi kolega atau kerabat saat memiliki waktu, segera bangun dari tempat tidur begitu weker berbunyi. Pokoknya, hindari sebisa mungkin alasan untuk menunda pekerjaan.

Membuat Perencanaan
Seringkali keengganan memulai pekerjaan juga disebabkan cara pandang kita terhadap pekerjaan tersebut. Seringkali pekerjaan dipandang sebagai sebuah tugas mahaberat yang sulit dan membutuhkan waktu panjang. Padahal pada dasarnya semua pekerjaan memang akan terasa berat jika kita tidak memiliki perencanaan yang baik untuk mengelolanya. Bagilah tugas besar itu menjadi tugas-tugas yang lebih kecil dan buatlah deadline, kapan tugas-tugas kecil tersebut harus diselesaikan. Jika bekerja dalam tim, anda bisa memanfaatkan teman-teman yang lain untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Misalnya untuk membuat proyeksi arus kas setahun ke depan, anda bisa memulai dengan mengamati trendarus kas tahun berjalan, kemudian membuat rencana belanja, target penjualan, menghitung penyusutan aktiva dan seterusnya. Melihat trend arus kas tahun berjalan pun pun bisa dibagi-bagi lagi menjadi tugas yang lebih kecil, seperti mengamati pendapatan dan biaya setiap bulan, melihat kapan bulan-bulan terjadinya lonjakan pembelian dan seterusnya.

Selesaikan setiap tugas yang lebih kecil secara tepat waktu. Jika memungkinkan bagilah tugas tersebut atau beri delegasi kepada tim kerja anda dan lihatlah, tanpa sadar tugas besar tadi perlahan-lahan akan terselesaikan.

Membuat Reminder
Tips berikut ini sangat membantu kelancaran tips-tips sebelumnya. Saya pun selalu menggunakan tips ini. Buatlah reminder sebanyak mungkin untuk membantu anda (terutama yang memiliki komplikasi penyakit “suka menunda” dan “suka lupa”) mengatur tugas-tugas anda. Catatlah semua janji, rencana kerja baik yang rutin maupun tidak rutin, rencana keluarga dan semua rencana lain yang membutuhkan perhatian anda. Gunakan media yang akrab dengan anda. Handphone, komputer, kalender meja, sticky note, buku agenda kerja dan media apapun yang memungkinkah anda mengingat semua rencana pekerjaan dengan mudah.

Untuk tugas-tugas khusus pasanglah alarm, timer  atau reminder lainnya yang membantu anda tidak melewatkan tugas tersebut. Pasang paling tidak sehari sebelumnya agar masih ada waktu jika tugas tersebut membutuhkan persiapan khusus.

Sebagai contoh, untuk tugas-tugas kantor saya biasa membuat agenda kerja mingguan lalu agenda mingguan ini di-breakdown lagi dalam agenda kerja harian agar bisa dipantau setiap hari.
Untuk tugas tambahan atau tugas mendadak yang tidak bisa langsung dicatat pada buku agenda, saya menggunakan HP untuk mencatatnya plus melengkapi note tersebut dengan alarm khusus. Cara-cara ini membantu mengingat dan memilah mana tugas yang harus segera dikerjakan dan mana tugas yang bisa dikerjakan kemudian. Jadi sekalipun ada penundaan, rencana pekerjaan kita tidak akan menjadi kacau balau.

Kemudian jika ada tugas yang terlewat dan masih memungkinkan untuk mengejar deadline-nya, pasang kembali pada reminder berikutnya.

Kerjakan yang Sulit Dahulu
Nah, tips yang satu ini cocok untuk mereka yang suka menunda karena enggan atau malas bekerja. Pada kesempatan pertama, segera lakukan tugas-tugas yang paling anda jauhi atau yang paling sulit. Dengan demikian pekerjaan selanjutnya tidak akan terlalu memberatkan lagi. Misalnya: Besok anda harus berjumpa dengan klien anda yang paling cerewet dan menjengkelkan. Nah, pada pagi hari saat energi dan fokus anda masih prima, mestinya klien inilah yang pertama kali harus anda temui. Klien-klien lain bisa ditemui belakangan karena relatif lebih mudah ditangani. Demikian pula untuk tugas atau pekerjaan yang lain.

Jangan Memulai Sesuatu yang Tidak bisa Diselesaikan
Maksud dari tips ini adalah apabila anda memiliki kesempatan untuk memilih proyek atau pekerjaan, pastikan yang anda pilih itu sesuai dengan kapasitas dan kompetensi anda. Jangan sampai memaksakan diri mengambil pekerjaan yang tidak bisa anda selesaikan hanya karena gengsi atau tergoda insentif yang besar. Dengan bekerja sesuai kemampuan anda meminimalkan resiko menunda-nunda pekerjaan yang ujung-ujungnya dapat merugikan diri sendiri. (PG)

---

ilustrasi gambar dari: citylabs.com