Sabtu, 28 November 2015

Mengapa Masyarakat Masih Tertipu Investasi Bodong?



Beberapa hari lalu, kasus investasi bodong yang menyeret pesohor Sandy Tumiwa kembali mencuat ke permukaan. Awalnya, Sandy dan rekannya Astriana mengajak sejumlah orang menjadi investor untuk  menggelontorkan dana pada perusahaan dengan nama PT. CSM Bintang Indonesia yang bergerak pada usaha forex trading.

Para investor diiming-imingi keuntungan 40% per bulan dari nilai investasinya. Keuntungan ini akan bertambah jika para investor menggaet calon investor yang lain untuk ikut serta. Sepertinya cukup banyak masyarakat yang tertarik dan menjadi investor. Setelah berjalan beberapa lama, keuntungan yang dijanjikan pun tidak kunjung datang. Malah dana para investor pada akhirnya tidak bisa dikembalikan.

Dikabarkan dana dari investor yang menguap mencapai 7 miliar rupiah. Ini bukan jumlah yang sedikit. Sandy dan Astriana pun ditetapkan menjadi tersangka yang dijerat dengan pasal penipuan.  Saat ini kasusnya tengah ditangani Polda Metro Jaya.

Kita tidak akan mengupas kronologi kasus ini. Di balik kronologi kasusnya, ada fenomena menarik  yang bisa kita potret dan dijadikan bahan refleksi bersama.

Inilah salah satu dampak dari pertumbuhan masyarakat kelas menengah dan pertumbuhan ekonomi tanpa didukung oleh peningkatan kapasitas pemahaman serta pengelolaan keuangan. Masyarakat menjadi rentan terhadap penipuan berkedok keuangan.

Pertanyaan kritis misalnya, darimana sumber dana perusahaan untuk mendatangkan imbas hasil fantastis sebesar 40% per bulan atau 480% per tahun untuk investornya. Kita boleh menduga-duga bagaimana kira-kira kerja keras mesin uang perusahaan untuk memutar dana investor dan mengembalikannya hampir lima kali lipat dalam satu tahun fiskal.

Ini hampir mustahil, apalagi investasi forex memiliki unsur-unsur fluktuatif dan resiko. Kita bisa melirik instrumen-instrumen investasi lain sebagai bahan perbandingan. Misalnya saya memiliki ilustrasi dari asuransi x (salah satu asuransi top tanah air) untuk instrumen unit link. Setelah dihitung-hitung nilai tunainya, imbas hasil asuransi unit link tersebut dengan tingkat pendapatan (dan resiko) yang paling tinggi hanya mencapai 55% per tahun. Itu pun dengan catatan baru bisa diterima setelah membayar premi selama 5 tahun dan menahan dana investasi kita selama 30 tahun berturut-turut. 
Kemudian kita bisa lihat reksadana. Saya tidak memiliki investasi reksadana, namun dari hasil googling, imbas hasil reksadana saham yang progresif rata-rata berkisar 15-25% saja per tahun.
Makanya saya masih suka heran dengan orang yang mudah terhasut janji-janji investasi yang sebenarnya kurang masuk akal.

Mengapa masyarakat masih mudah tergiur dengan investasi bodong?

Ini pertanyaan besarnya. Menarik menyimak pemaparan seorang perencana keuangan yang dihadirkan program Trending Topic Metro TV  beberapa hari lalu (sayang sekali saya benar-benar tidak sempat mencatat nama beliau). Menurutnya hanya dua penyebab masyarakat jatuh pada masalah investasi bodong. Pertama, ketidakmengertian, kedua, keserakahan.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir dua alasan tersebut beda-beda tipis dan hampir selalu berkaitan satu sama lain. Kecenderungan untuk memperoleh “ikan besar” secara instan tanpa perlu banyak kerja membuat kita menjadi kurang bijak berhitung. Atau sebaliknya, kita mungkin bisa hitung-menghitung resiko, namun mungkin karena pikiran sudah terlanjur tersumpal dengan hayalan akan keuntungan berlipat ganda, kita jadi malas menghitung lebih lanjut.

Nah, untuk penyebab pertama sebenarnya ada begitu banyak sumber pembelajaran di sekitar kita. Berikut beberapa kiat sederhana yang bisa dilakukan untuk meminimalkan resiko investasi bodong  yang  ditawarkan kepada kita:

 Pelajari Karakteristik Produknya
Jangan mudah percaya pada janji-janji manis hasil investasi. Para penjual produk adalah mereka yang gagah, cantik serta pandai berkata-kata untuk membuyarkan konsentrasi anda dari masalah sebenarnya, keselamatan uang anda. Pelajari secara seksama produk yang akan anda beli. Jangan hanya imbas hasil-nya saja. Telisik juga resiko, rekam jejak perusahaan serta izin operasional atau izin dari otoritas yang berwenang. Misalnya untuk asuransi pastikan telah terdaftar pada OJK. Untuk perusahaan pialang perdagangan berjangka, telah terdaftar di Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditi). Kemudian untuk perusahaan broker Saham telah terdaftar pada Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) dan lain-lain. Bila perlu minta referensi dari beberapa kawan yang telah lebih dulu menggunakan produknya. 

Hati-hati dengan Iming-iming Imbas Hasil
High Risk High Return, ini peribahasa klasik di dunia investasi. Dengan demikian semakin tinggi imbas hasil yang dijanjikan biasa semakin besar pula resiko yang menyertainya. Makanya lembaga  keuangan memilik divisi atau orang-orang khusus yang bertugas mengelola dana investor serta mengawasi resiko yang terjadi. Kemudian lembaga investasi yang mengelola resiko pada umumnya tidak serta merta mematok angka tertentu sebagai imbas hasil investasi dari investornya. Mereka biasa menggunakan kisaran atau ilustrasi imbas hasil, seperti yang biasa diberikan agen asuransi kepada pemegang polisnya. Itu pun masih menambahkan catatan kaki tertentu. Misalnya, realisasi yang terjadi masih bisa lebih tinggi atau rendah tergantung dari situasi dan kondisi perekonomian nasional. Jadi hati-hati dengan mereka yang   terang-terangan menjanjikan, misalnya 40% per bulan seperti pada contoh kasus kita di atas. 

Batasi Dana pada Investasi yang Bersifat Fluktuatif
Contoh-contoh instrumen investasi yang bersifat fluktuatif misalnya reksadana, pasar modal, produk derivatif (forex, indeks saham, dll). Beberapa pihak menyebutnya spekulatif, namun para pelaku investasi pada bidang tersebut memilih kata yang lebih positif, fluktuatif. Tapi prinsipnya sebenarnya sama, nilai tunai investasi kita sangat tergantung pada kondisi perekonomian baik nasional maupun global. Jika perekonomian sedang ‘hijau’, imbas hasil investasi kita bisa menanjak namun hal sebaliknya bisa terjadi jika ekonomi sedang lesu. Kita mesti bijak, jika ada yang menawari produk investasi berbasis instrumen tersebut. Prinsip diferensiasi produk investasi memang penting, namun prinsip kehati-hatian juga penting. Jangan mengalokasikan dana terlalu banyak pada instrumen investasi seperti ini jika kita tidak siap dengan resikonya. Memang tidak ada teori pasti berapa rasio dana yang dapat kita alokasikan karena ini sangat tergantung pada kemampuan keuangan dan kesiapan mental seseorang menanggung resikonya. Namun untuk keamanan dana kita, sebaiknya rasionya tidak melebihi 10% dari pendapatan rutin, atau 5%-10% dari total aset kita. 

Waspadai Money Game
Penipuan-penipuan ala money game dengan macam-macam modus sudah sering terjadi, namun seringkali masyarakat masih jatuh pada lubang yang sama. Waspadai ciri-ciri modus money game berikut: Janji keuntungan tinggi, tidak ada produk yang dijual selain perputaran uang antar user (pengguna produk), sistem jaringan untuk menggenjot user mencari user lain dengan janji keuntungan berlipat, user awal masih bisa menerima imbas hasil namun yang belakangan hanya menerima pahit-nya saja.  Jika tawaran investasi yang datang sudah terindikasi sebagai money game, sebaiknya anda segera menjauh.


Demikian beberapa kiat sederhana yang bisa menjadi filter pertama saat ada tawaran investasi menarik tersaji di depan kita. Memang tidak semua investasi menarik itu bersifat bodong. Namun melihat fenomena yang terjadi dari waktu ke waktu di tengah masyarakat, sebaiknya kita tetap mawas diri sehingga lebih bijak mengambil keputusan sehubungan dengan keselamatan uang kita. Untuk membantu kita berpikir, ingat, ada keringat (dan juga mungkin air mata) pada setiap sen uang yang kita hasilkan. Jadi bijaksanalah mengelolanya. (PG)


_________________________

ilustrasi gambar: www.teropongbisnis.com

Jumat, 06 November 2015

Generasi Sandwich dan Masalah Keuangannya


Terinspirasi dari roti lapis yang menjadi asal mula penamaannya,Generasi Sandwich bisa diartikan sebagai generasi yang terapit di tengah-tengah dua generasi lainnya. Orang-orang yang tergolong ke dalam generasi sandwich memiliki rentang usia 30-40 tahun atau lebih. Pada usia ini, mereka pada umumnya telah memiliki tanggungan sendiri yaitu anak-anak, sekaligus sudah mesti “mengasuh” orang tua yang telah lanjut usia.
Jika berada pada tahapan hidup sandwich ini, kita mesti siap dengan sejumlah konsekuensi yang dapat mempengaruhi kondisi finansial kita terutama jika orang tua tidak memiliki persiapan hari tua yang memadai. Di satu sisi, kebutuhan biaya anak-anak mulai meninggi. Sementara di sisi lain, orang tua juga membutuhkan perhatian, mulai dari biaya hidup sampai biaya yang berhubungan dengan kesehatan mereka.
Jadi jika dipetakan, pos pembiayaan generasi sandwich  sebagai berikut:
Biaya Anak-anak
Pada tahapan ini anak-anak biasa sudah mulai beranjak remaja. Selain biaya pendidikan yang sudah lazim kita keluarkan, biaya hidup mereka terkait dengan lifestyle pun meningkat. Anak-anak mulai melek terhadap mode. Mereka juga membutuhkan biaya untuk mendukung tetek bengek seputar dunia mereka, ekskul, hobi, sosial media dan lain-lain.
Biaya Orang tua
Jika sudah berada pada usia di atas 60-an tahun, kesehatan kita akan semakin rentan. Perubahan cuaca sedikit saja bisa mengakibatkan gangguan berkepanjangan. Oleh karena itu, sebagian besar biaya yang dialokasikan untuk orang tua adalah biaya untuk mendukung kesehatan mereka. Apalagi  jika orang tua memiliki riwayat penyakit kronis, sepertinya misalnya jantung, stroke, diabetes dan lain-lain
Dua garis besar pos biaya ini diluar biaya hidup rutin yang mesti kita keluarkan, seperti transportasi, komunikasi, makan dan minum, dan lain-lain. Akibatnya, jika tidak pandai-pandai, para generasi sandwichakan kesulitan mengelola arus kas mereka.
Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan jika kita termasuk dalam generasi sandwich untuk mengefisienkan pengelolaan arus kas, terutama jika orang tua kita benar-benar membutuh bantuan dari anak-anaknya.
  1. Perlindungan Kesehatan. Ikutkan pula orang tua pada program asuransi atau perlindungan kesehatan lainnya. Saat ini cukup banyak pilihan yang ada disekitar kita. Dengan mengikuti perlindungan kesehatan, arus kas kita bisa lebih stabil jalannya. Jika terjadi masalah pada orang tua, kita juga telah membagi tanggungan dengan pihak ke tiga penyedia jasa perlindungan kesehatan tersebut.
  2. Emergency Fund. Kita perlu membentuk tabungan darurat sedini mungkin. Dana ini akan menjadi dana taktis apabila ada hal-hal darurat yang terjadi. Bisa menjadi dana pertolongan pertama jika orang tua mengalami masalah medis secara tiba-tiba. Bisa juga menjadi dana darurat pada saat gangguan keuangan lainnya terjadi, seperti misalnya usaha kita merugi, atau terkena PHK. Selain itu, dana darurat ini dapat dikonversi menjadi dana hari tua saat kita mengalaminya nanti. Cara membangun dana darurat dapat dilihat pada tulisan ini.
  3. Memboyong Orang Tua. Jika memang kita telah menanggung sebagian besar atau seluruh beban hidup orang tua, memboyong orang tua untuk tinggal bersama bisa jadi alternatif. Dengan tinggal bersama kita bisa memberi perhatian lebih pada orang tua dan biaya hidup bisa diefisienkan. Tentu ada konsekuensi-konsekuensi lain yang harus dipikirkan seperti privacy, kenyamanan suami/istri dan kenyamanan orang tua kita sendiri. Namun dengan komunikasi yang baik, konflik-konflik mungkin terjadi dapat diminimalkan
  4. Bahu Membahu.  Kita bisa menjalin komunikasi dengan saudara yang lain untuk bahu membahu meringankan biaya hidup orang tua. Mekanisme dan proporsinya disepakati bersama, bisa disesuaikan dengan tingkat income masing-masing.
  5. Bangun DHT (Dana Hari Tua). Kiat ini sebenarnya cocok untuk generasi sandwich-nya sendiri. Mumpung masih produktif, sedapat mungkin kita harus membangun Dana Hari Tua kita sendiri. Sejumlah perusahaan atau instansi pemerintah sudah menyediakan untuk karyawannya. Namun tidak ada salahnya kita ikut menyisihkan sebagian pendapatan untuk meningkatkan dana guna menunjang masa tua kita. Dengan memiliki DHT, pada masa depan nanti, kita pun tidak perlu membebani anak-anak kita, generasisandwich berikutnya.
Memang tidak mudah mengelola hidup terutama jika kita menjadi tulang punggung dari dua generasi, di atas dan di bawah kita. Namun dari sudut pandang lain, menjadi generasi sandwich memiliki kenikmatannya sendiri. Kita bisa merasakan indahnya kebersamaan dengan dua generasi tersebut sekaligus. Jadi kiat yang bisa dilakukan adalah mengelola arus kas dengan bijak, agar kita bisa menjadi berkat bagi orang tua dan anak-anak kita. (PG)

_______________________________
ilustrasi gambar dari: wondrlust.com

Jumat, 09 Oktober 2015

Kehadiran Rapat Anggota DPR Memprihatinkan


“Rapat melulu, kerjanya kapan??”
Ini selentingan bernada satir yang biasa kita ungkapkan saat gemas melihat birokrasi lamban yang selalu mentok pada urusan administrasi dan lobi. Seperti misalnya kisruh PSSI versus Kemenpora baru-baru ini. Memang tidak bisa dipungkiri, Indonesia adalah negara yang jago teori. Forum-forum adu otak di belakang meja begitu dinamis dan hidup, namun seringkali keok untuk urusan eksekusi di lapangan.
Tapi dari sudut pandang manajerial, sebenarnya rapat, konsolidasi, forum, atau kegiatan brainstorming lain apapun namanya, adalah sebuah tahapan strategis dalam organisasi. Apalagi jika mampu dikelola dengan baik dan mampu diterjemahkan menjadi langkah-langkah taktis untuk memudahkan implementasi nantinya.
Oleh karena itu pada sejumlah organisasi, rapat menjadi salah satu indikator kinerja. Sehingga dari awal tahun buku, penganggarannya juga sudah dimasukkan dalam proyeksi arus kas organisasi. Saat program kerja berjalan, manajemen harus memastikan rapat terlaksana sesuai perencanaan. Bukan sekedar mengejar frekuensi rapatnya tapi juga kualitas rapat tersebut. Bisa dilihat dari persentase kehadiran peserta rapat dan bobot pembicaraan yang dihasilkan. Bahkan bisa sampai pada melihat berapa banyak rekomendasi rapat yang terimplementasi, khususnya pada saat melakukan evaluasi.
Ini yang terjadi jika kita berbicara tentang rapat pada organisasi kebanyakan, yang punya jenjang-jenjang eksekutif di dalamnya.
Tentu perlakuan rapat pada lembaga legislatif seperti DPR kita sedikit berbeda. Sebagian besar rapat yang mereka lakoni adalah rapat merumuskan undang-undang untuk menjadi koridor pada penyelenggaraan pemerintahan dengan tujuan menyejahterakan dan menjaga stabilitas dalam masyarakat.
 Bagaimana tingkat kehadiran rapat pada lembaga legislatif kita?Kemarin tribunnews.com mengangkat berita menarik mengenai tingkat kehadiran anggota DPR pada rapat-rapat paripurna. Data tersebut dihimpun dan dirilis oleh ICW (Indonesian Corruption Watch).
Partai yang anggotanya paling aktif mengikuti rapat paripurna adalah partai Gerindra dan Nasdem. Walaupun berada pada posisi paling puncak,  angkanya masih sangat memprihatinkan. Tingkat kehadiran rapat anggota DPR dari kedua partai tersebut sebesar 62%. Tempat selanjutnya dihuni oleh PKS sebesar 61%. Lebih ke bawah lagi ada Partai Amanat Nasional (PAN) dengan tingkat kehadiran 59%, Partai Demokrat dan Partai Hanura dengan tingkat kehadiran 57%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 56%, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 55%, kemudian dua partai yang berada pada urutan paling bawah adalah Partai Golkar 51%, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 49%,
Saya mengamini Donal Fariz, peneliti ICW yang merespon negatif tingkat kehadiran rapat paripurna anggota DPR ini. Apalagi anggaran tunjangan untuk DPR tahun ini juga naik hampir Rp 1,6 triliun dibanding tahun 2014. Mestinya kenaikan tunjangan ini mampu juga mendongkrak kinerja mereka.
Data-data di atas baru menyoroti segi kuantitas. Bagaimana dengan output rapat alias content yang dihasilkan setelah setahun bekerja? Dari  target 38 undang-undang yang harus digarap, DPR ternyata hanya mampu mengesahkan tiga undang-undang yaitu UU MD3, UU Pilkada dan UU Pemerintah Daerah. Ironisnya, di  tengah kinerja yang tak bisa dibilang bagus tersebut, anggota dewan yang terhormat masih sibuk mengubek-ubek UU KPK yang disinyalir menjadi upaya terselubung untuk melemahkan KPK. Baru-baru ini ada wacana lagi untuk memasukkan RUU Pengampunan Nasional yang sangat menguntungkan koruptor serta pengemplang pajak ke dalam prolegnas 2015.
Sambil mengelus dada agar diberi kesabaran, kita juga mungkin perlu berefleksi. Kita sebagai warga negara juga sebenarnya ikut berkontribusi terhadap kinerja anggota DPR yang rendah ini karena kita-lah yang mengirim mereka ke senayan.  Jadi yang bisa kita lakukan adalah terus memantau kinerja wakil-wakil kita itu agar pada pemilu legislatif berikutnya kita punya lebih banyak referensi sebelum menjatuhkan pilihan. (PG)
____________________
Referensi dan ilustrasi gambar dari: tribunnews.com

Rabu, 16 September 2015

Persiapan Presentasi yang Biasa Dilupakan


Fail to prepare is preparing the failed. Orang-orang yang kerap bergelut dengan dunia presentasi sudah hafal benar jargon yang satu ini. Makanya para salesmarketer, motivator, guru, tutor, siapapun yang  hendak menyampaiakan sebuah presentasi selalu mempersiapkan materi yang akan dipresentasikan secara seksama. Entah itu presentasi untuk memperkenalkan sebuah produk, berbagi wawasan dan keterampilan, atau mempengaruhi cara berpikir orang lain, persiapan presentasi tidak boleh dianggap remeh.

Namun kadang ada saja hal-hal yang luput dari perhatian saat mempersiapkan presentasi. Mungkin karena terburu waktu, atau merasa segala sesuatunya sudah beres sehingga tidak melakukan pengecekan kembali. Yang luput dari perhatian memang biasa hal-hal kecil, namun seringkali ikut menentukan sukses tidaknya sebuah presentasi.
Berikut beberapa contoh hal kecil yang kerap diabaikan presenter saat mempersiapkan presentasi.
Latar Belakang Audiens
Mengetahui siapa-siapa saja orang yang akan mendengarkan presentasi kita penting untuk membantu mengemas sebuah presentasi. Memang seringkali “pengetahuan tentang audiens” didalami belakangan, atau bahkan tidak sama sekali. Apalagi jika presentasi tersebut bersifat rutin dengan berganti-ganti audiens, presentasi yang bersifat dadakan, atau presentasi di depan khalayak umum. Namun alangkah baiknya sedapat mungkin presenter mengetahui latar belakang audiens sebelum melakukan presentasinya.  Hal ini berguna untuk mengemas presentasi dan melakukan pendekatan yang sesuai dengan audiens. Misalnya menghindari istilah-istilah asing atau istilah yang terlalu teknis jika audiens kita tingkat pendidikannya menengah ke bawah. Atau sebaliknya, jangan sampai menimbulkan kesan terlalu menggurui, jika audiens memiliki tingkat pendidikan tinggi. Sedapat mungkin juga contoh-contoh yang digunakan dekat dengan keseharian audiens. Jangan sampai kita menggunakan pendekatan untuk orang  kantoran, padahal audiens kita sebagian besar adalah ibu rumah tangga, misalnya, serta contoh-contoh lainnya. Semakin cepat latar belakang audiens diketahui, semakin baik untuk presenter. Pengetahuan mengenai audiens ini bisa diperoleh dari panitia kegiatan, ini bisa dilakukan beberapa hari sebelum presentasi tersebut. Atau jika tidak memungkinkan, kita masih bisa mendapatkannya pada waktu-waktu terakhir sebelum presentasi dimulai seperti misalnya dari daftar hadir pada meja registrasi atau perkenalan singkat, jika audiens tidak banyak.

Closing Power
Seperti kesimpulan pada sebuah karya tulis, closing statement atau pernyataan penutup pada sebuah presentasi harus powerfull untuk memberikan kesan terakhir yang positif dan mendalam pada audiens kita. Seringkali presenter tidak menyiapkan pernyataan penutup yang baik sehingga presentasi menjadi terkesan datar-datar saja, atau bisa lebih parah, presenter kesulitan menutup presentasinya. Ini biasa terjadi jika presenter terlalu bersemangat menebar kata-kata sehingga tidak sadar durasi presentasinya hampir habis. Akibatnya presenter berputar-putar dan kesulitan mencari kata untuk menutup presentasinya.  Goalsebuah presentasi seringkali juga dipengaruhi oleh closing powerpresentasi tersebut. Misalnya pada sebuah presentasi penjualan, pernyataan penutup dapat diisi dengan pengulangan beberapa pointpenting pada presentasi seperti kekuatan produk yang ditawarkan dibanding kompetitor, atau alasan mengapa audiens harus membeli produk tersebut.
Data Pendukung
Data pendukung yang dimaksud bukan saja data yang berkaitan langsung dengan presentasi, tapi termasuk juga data yang sifatnya tidak berhubungan langsung namun masih relevan dengan materi presentasi tersebut. Seringkali presentasi yang sudah dipersiapkan dengan baik menjadi kurang efektif hanya karena satu dua informasi yang diinginkan audiens, tidak bisa segera dipenuhi oleh presenter. Misalnya saat memberikan presentasi mengenai produk-produk asuransi unit link, seorang agen asuransi tidak cukup membekali dirinya dengan ilustrasi perhitungan atau company profile. Bisa jadi audiens juga menginginkkan informasi mengenai ekuitas perusahaan asuransi tersebut pada negara-negara di luar Indonesia. Atau saat seorang pelatih NLP sedang membawakan materi mengenai mind reframing, dia juga harus tahu siapa saja tokoh atau pakar NLP yang relevan dengan materi tersebut. Ini berguna jika ada audiens yang mempertanyakan landasan ilmiah materinya. Semakin komprehensif data pendukung yang disiapkan semain baik untuk presentasi kita.

Oleh karena pentingnya tahap persiapan, seringkali waktu untuk persiapan materi berkali lipat lebih lama dari waktu untuk presentasi itu sendiri. Apalagi jika materi presentasi tersebut benar-benar baru dan harus kita ramu sendiri. Dengan persiapan yang memadai, presentasi bisa berjalan lebih efektif, audiens merasa memperoleh manfaat dari mendengarkan presentasi kita, akhirnya goal presentasi pun tercapai. Inilah yang diinginkan setiap presenter. (PG)

ilustrasi gambar dari: sfs.jondon.com

Selasa, 25 Agustus 2015

Menjadi Kreditur yang Baik


Jangan pikir status kreditur hanya diberikan pada lembaga-lembaga keuangan pemberi pinjaman. 
Saat anda memberi pinjaman pribadi kepada rekan, tetangga, atau sanak keluarga anda, secara praktis anda pun sudah menyandang status sebagai kreditur.   

Perbedaannya, jika krediturnya itu adalah lembaga atau organisasi mereka sudah membentengi keamanan pinjaman dengan debiturnya lewat seabrek dokumen berkekuatan hukum. Dokumen-dokumen ini yang kemudian hari digunakan untuk menjerat debitur-debitur bandel. Hal ini yang tidak ditemukan pada pemberi pinjaman yang sifatnya personal. Kreditur yang berbadan hukum juga menarik bunga dari pinjaman yang diberikan sebagai pendapatan mereka, sedangkan kreditur personal pada umumnya lebih bersifat kekeluargaan sehingga tidak mengenakan bunga pinjaman pada pinjamannya.

Jika anda merasa seringkali dimintai tolong oleh rekan-rekan anda untuk jadi pemberi pinjaman artinya mungkin anda memiliki karunia tersendiri sebagai penolong mereka di saat-saat kritis. Tapi jika anda merasa dengan seringkali menolong orang lain, seringkali pula anda dihadapkan pada permasalahan-permasalahan keuangan pribadi, artinya mungkin anda harus mulai membatasi diri.
Merasa iba dengan orang lain boleh-boleh saja. Apalagi jika kita diberi rezeki berlebih dari Tuhan.  Namun di satu sisi anda juga harus mengamankan aset anda dan mengurangi resiko terhadap pemberian pinjaman tersebut. Apalagi anda dan debitur anda tidak dilengkapi akad kredit hitam di atas putih, hanya bermodalkan kepercayaan saja.

Berikut beberapa hal yang dapat menjadi panduan anda saat mengambil keputusan memberi pinjaman tersebut:
1.       Pelajari karakter “calon debitur”. Anda mesti memastikan rekan anda yang akan anda pinjami uang tersebut punya itikad baik untuk mengembalikan pinjamannya. Jika dia sudah pernah memiliki sejarah pinjaman di tempat lain cari tahu prestasi pembayarannya. Jika dia selama ini sudah terkenal sebagai tukang pinjam kanan kiri dengan prestasi pembayaran yang kurang bagus, sebaiknya anda memikirkan berulang kali sebalum memberi pinjaman tersebut. 
2.       Tanyakan apa tujuan pinjaman tersebut. Memperkirakan berapa sebenarnya pinjaman yang dibutuhkan “calon debitur” anda, membantu anda mengambil keputusan mengenai kebenaran pinjamannya. Jika anda sudah mengindikasi adanya ketidakjujuran dengan menyembunyikan tujuan pinjaman yang sebenarnya, ada resiko dia juga tidak jujur dengan komitmennya mengembalikan pinjaman tersebut.   
3.       Tanyakan tenggat waktu pinjamannya. Walaupun anda tidak membuat surat perjanjian pinjaman, buat kesepakatan dengan tegas kapan rekan anda harus melunasi pinjamannya atau berapa kali dia mengangsur pinjaman tersebut. Beri alasan anda juga membutuhkan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan anda. Buat reminderuntuk memudahkan anda menagih di kemudian hari.
4.        Diketahui orang terdekat.  Jika rekan anda telah berkeluarga, usahakan pinjaman tersebut diketahui oleh suami atau istri rekan anda. Konfirmasikan hal ini kepada rekan anda. Dengan demikian tanggung jawab atas pinjaman tersebut menjadi tanggung jawab keluarga rekan anda walaupun de facto anda berurusan secara pribadi dengan rekan anda. Jika anda telah berkeluarga, tidak ada salahnya pasangan anda juga mengetahui perihal pinjaman tersebut.
5.       Transfer rekening. Karena anda dan rekan anda tidak memiliki perjanjian pinjaman dan bukti-bukti transaksi, sebaiknya anda tidak memberikan uang pinjaman tersebut secara tunai. Lebih baik minta nomor rekening pribadi rekan anda, dan transfer pinjaman tersebut dari rekening pribadi anda. Pencatatan bank ini untuk membantu anda jika besok-besok terjadi hal yang tidak diinginkan. Misalnya rekan anda memiliki itikad kurang baik seperti mangkir dan tidak merasa meminjam uang dari anda.
6.       Meminta Jaminan. Jika anda merasa pinjaman tersebut memiliki resiko besar tapi di sisi lain anda juga merasa berkewajiban membantu rekan anda tersebut, tidak ada salahnya anda berdua bersepakat mengenai jaminan. Misalnya minta rekan anda menitipkan BPKB kendaraannya, atau surat-surat berharga lainnya sampai pinjamannya selesai. Jangan lupa disertai dengan surat-surat pernyataan yang mendukung. Jaminan ini bukan semata dimaksudkan untuk meng-cover resiko jika rekan anda tidak mampu melunasi pinjamannya. Tapi sebagai ikatan komitmen agar rekan setia membayar kewajibannya kepada anda.
7.       Mengetahui posisi keuangan anda. Langkah ini tidak kalah penting, karena jika anda juga sedang membutuhkan sumber dana bagaimana mungkin anda mampu menolong rekan anda. Periksa lagi target atau rencana keuangan jangka pendek anda. Apakah ada kebutuhan keuangan yang harus segera dipenuhi dalam waktu dekat atau tidak ada. Jangan-jangan setelah memberi pinjaman kepada orang lain, anda malah kelimpungan mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan anda.    

Pada akhirnya keputusan memberi atau tidak memberi pinjaman tersebut kembali ke tangan anda. Perhitungankan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan transaksi pemberian pinjaman tersebut. Beberapa orang malah bersepakat dengan penerima pinjaman untuk mengenakan bunga kepada pinjaman ini. Tapi sepertinya kurang cocok diterapkan kalau pinjaman yang kita berikan ini bersifat kekeluargaan, untuk membantu rekan kita keluar dari permasalahan keuangannya.

Tapi itikad baik kita ini seringkali disalahgunakan oleh orang lain. Saya banyak mendengar curhat dari beberapa teman yang mengalami hal ini. Mereka seringkali kesulitan menagih kembali pinjaman yang sudah diberikan padahal mereka juga sedang membutuhkan uang tersebut. Masalah utama biasa bukan terletak pada penagihan atau debiturnya. Tapi lebih pada perasaan “tidak tegaan” karena solider dengan teman. Sehingga pada saat teman yang dipinjami uang mesti sudah menyelesaikan pinjamannya lalu mengemukakan sedikit argumen, teman si pemberi pinjaman jadi mundur karena tidak tega. Jadi jika anda termasuk orang yang suka “tidak tega”, sebaiknya batasi diri anda dalam hal memberi pinjaman.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk membatasi permintaan pinjaman dari rekan kita adalah menurunkan besar permintaannya. Misalnya rekan anda mengatakan butuh Rp 2.500.000,- untuk melunasi tagihan rumah kontrakannya, katakan saat ini anda hanya dapat membantu sebesar Rp 1.000.000,- Lalu lihat responnya. Jika dia lalu melewati anda dan mencari alternatif  dari tempat lain berarti anda telah luput. Jika dia mengatakan menerima dana tersebut dan mencari sisanya dari tempat lain, artinya anda berhasil meminimalisir resiko dari pinjaman tersebut.


Dengan memberi pinjaman secara bijak, anda dapat menolong rekan anda sekaligus mengamankan resiko keuangan pribadi anda. (PG)

_______________

ilustrasi gambar dari: www.konsultasisyariah.com

Selasa, 04 Agustus 2015

GSP Disetujui, Susi Target Ekspor Ikan Tembus USD 5 M


Salah satu kelebihan “orang lapangan” yang dipercayakan pada posisi struktural adalah konsep dan realisasi yang cenderung lebih konkrit. Saat para pemikir yang punya segudang ilmu sedang menimbang-nimbang cermat dan amat hati-hati, orang-orang lapangan ini telah beraksi satu dua langkah ke depan. Bukan karena sembrono, tapi mereka kefasihan terhadap “medan” telah menajamkan intuisi mereka.
Sebagai orang lama dalam bisnis perikanan, Menteri Susi Pudjiastuti paham benar seluk beluk bisnis dan industri perikanan. Ini kemudian menjadi modal besar dalam mengembangkan industri perikanan tanah air.
Kabar teranyar yang datang dari Kementerian KKP adalah penandatangan skema perpanjangan GSP (Generalized System of Preference) untuk produk industri perikanan oleh Barack Obama setelah mendapat persetujuan Senat Amerika Serikat. GSP ini sempat dihentikan oleh senat 2013 lalu.
GSP adalah kebijakan yang dimiliki negara-negara maju terhadap produk impor dari negara-negara tertentu. Untuk menjaga irama pasar, negara-negara anggota WTO (World Trade Organization) memberlakukan standar tarif impor yang sama antar negara yang satu dan yang lainnya. Namun dengan memberlakukan program GSP, negara anggota  WTO dapat menurunkan tarif impor dari negara-negara emerging marketseperti Indonesia. Tentu ada ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi importir misalnya sustainability, kualitas produk dan ketentuan lain. Bagi negara-negara penerima GSP, program ini berguna untuk menggenjot ekspor dan meningkatkan kinerja neraca perekonomiannya. Imbas manfaat bagi negara yang memberikan program GSP adalah kompetisi para importir meminimalisir kelangkaan barang impor dengan tetap mempertahankan kualitas produk yang prima.
Bagaimana cerita dibalik persetujuan GSP industri perikanan Indonesia? Menurut Susi, tidak butuh lobi luar biasa untuk bisa kembali mendapatkan fasilitas GSP ini. Malah tidak sampai mengutus delegasi khusus untuk negosiasi panjang kali lebar. "Tidak perlu dengan jalan-jalan, mereka sudah membebaskan. Hanya modal ngedumel dan ngomel-ngomel. Meski itu menyebabkan banyak dosa tapi gunanya banyak. Saya memastikan cerewet saya lebih banyak manfaatnya daripada tidak," ucap Susi (kompas.com).
Beberapa waktu terakhir ini, Susi memang getol mempromosikan industri perikanan tanah air. Prinsip-prinsip industri yang biasa diinginkan negara-negara maju  seperti sustainability dan treasibility yang menyangkut dampak lingkungan telah dipatuhi dengan baik. Akhirnya Senat Amerika pun kembali menyetujui GSP untuk produk perikanan Indonesia terhitung 29 Juli 2015 sampai 31 Desember 2017.
Ini merupakan “angin segar” bagi industri perikanan tanah air. Dengan perpanjangan GSP ini, sejumlah produk perikanan seperti kepiting beku, ikan sardin, daging kodok, ikan kaleng, lobster olahan dan rajungan dibebaskan dari tarif impor.
Konsistensi Susi memberantas ilegal fishing dan kepiawaian “diplomasi” bisnis dengan mitra-mitra strategis di luar negeri telah menjadi kunci sukses meningkatkan ekspor perikanan dari Indonesia.
Mestinya peluang ini tidak disia-siakan oleh pelaku pasar khususnya para eksportir. Selama ini Amerika Serikat memang merupakan negara tujuan utama ekspor perikanan asal Indonesia. Sejak tahun 2011 rata-rata pertumbuhan ekspor sektor perikanan ke Amerika Serikat sebesar 21% per tahun. Selama tahun 2014 total ekspor perikanan ke Amerika mencapai 1,84 miliar dollar. Dengan fasilitas GSP, Susi menargetkan tahun ini ekspor perikanan bisa menembus angka 5 milliar dollar.
Tak puas hanya sekedar menjajaki negeri Paman Sam, Susi mengatakan sebentar lagi akan mengompori dubes-dubes Eropa agar produk perikanan Indonesia yang masuk ke Eropa juga diberi fasilitas yang sama.
Maju terus ibu Menteri! (PG)
Referensi: 
ilustrasi gambar dari:
cnnindonesia.com

Senin, 20 Juli 2015

Teknik Anchoring untuk Menghadapi Post-Holiday Syndrome


Liburan hari raya akan segera berlalu. Sebentar lagi kita mesti kembali beraktivitas seperti biasanya. Mengerjakan proyek-proyek, berpacu dengan deadline, berburu klien potensial dan seabreg kegiatan lainnya. Bagi sebagian orang masa-masa pasca liburan ini adalah masa-masa kritis. Di satu sisi masih ingin menikmati liburan sepuasnya, di sisi lain ada tugas dan tanggungjawab yang telah menanti. Akibatnya muncul perasaan bad mood menjelang hari pertama bekerja kembali alias Post-Holiday Syndrome. Perasaan ini sebenarnya wajar-wajar saja, tapi bisa berbalik merugikan diri kita sendiri jika tidak segera menanganinya sehingga membawa dampak buruk bagi pekerjaan kita.
Permasalahan sebenarnya terletak pada mindset atau cara berpikir kita memandang sebuah masalah sehingga mempengaruhi state atau perasaan kita. Ada beberapa kiat sederhana yang bisa kita lakukan saat sindrom ini mulai menyerang. Dalam ilmu NLP (Neuro Language Programming) ada sebuah teknik yang cukup ampuh untuk mengelola pikiran kita. Teknik ini disebut teknik penjangkaran atau anchoring.
Prinsip kerjanya adalah pikiran kita cenderung mengulangi atau mengasosiasikan kembali pengalaman pada masa lalu jika pemicunya diaktifkan. Pemicu ini bermacam-macam, bisa bersifat auditory, visual, olfactory (bau-bauan) dan lain-lain. Misalnya pada masa kecil anda menyukai masakan tertentu yang dibuat oleh ibu anda. Pada saat dewasa di suatu tempat anda kembali mencicipi masakan tersebut. Pikiran anda pun kembali melayang pada pengalaman masa kecil anda, pada sosok ibu, bahkan mungkin anda bisa memvisualisasikan kembali piring makan yang biasa anda gunakan dan suasana ruang makan saat itu.
Contoh lain misalnya anda mengalami kecelakaan karena motor yang anda kendarai menabrak tiang listrik. Kebetulan pada masa lalu, anda pernah mengalami kecelakaan serupa, maka pikiran anda akan dengan mudah mengingat kembali serta merasakan emosi yang sama saat kecelakaan yang lalu terjadi. Seperti cedera yang terjadi, kepanikan orang-orang di sekitar anda, bahkan mungkin rasa sakit yang anda rasakan.
Nah, kita akan menggunakan teknik ini untuk membangkitkan kembali semangat anda yang mungkin luntur seiring hari libur panjang. Pemicu yang akan kita gunakan adalah motivasi positif dari dalam diri kita sendiri.
Mula-mula pikirkanlah pengalaman paling berkesan yang pernah anda alami selama meniti karir. Pengalaman itu bisa berupa pengalaman saat anda berhasil menyisihkan pelamar-pelamar kerja yang lain untuk menduduki posisi anda, saat mendapat promosi besar, saat anda berhasil menyelesaikan proyek besar atau berhasil membuat closing transaction dengan klien besar atau carilah pengalaman positif lain yang cukup kuat meninggalkan kesan dalam diri anda. Pengalaman di luar karir yang meninggalkan kesan kuat juga bisa anda masukkan, seperti misalnya kelahiran anak pertama, pengalaman mengucapkan janji perkawinan, membeli rumah pertama dan lain-lain.
Yang akan anda capture dari pengalaman ini adalah sensasi dan emosi positif yang anda rasakan saat menjalani pengalaman tersebut. Ingat kembali betapa bahagianya anda saat itu, ingat kembali segala sesuatu begitu mudah untuk dijalani dan beban berat anda terasa lepas begitu saja.
Panggil kembali rekaman semangat anda saat pengalaman-pengalaman itu terjadi. Bayangkan pengalaman serupa akan anda alami kembali atau gunakan pengalaman tersebut untuk memompa semangat anda kembali. Anda bisa memanggilnya berulang kali sampai post-holiday syndrome perlahan-lahan mulai teratasi.
Sehingga nantinya saat melihat kursi plus meja kerja, kita tidak melihat tumpukan pekerjaan yang membosankan melainkan kita melihat kesempatan untuk kembali membuktikan prestasi pada organisasi. Atau saat kembali berurusan dengan tetek bengek bisnis, kita melihatnya sebagai peluang untuk kembali meraup omset demi kebahagiaan orang-orang disekitar kita.
Saat telah berhasil menaklukkan post-holyday syndrome, kita tidak lagi melihat libur panjang secara possesif. Liburan pun menjadi sarana untuk kembali me-recharge semangat kita agar lebih produktif dan bermanfaat bagi orang lain. (PG)

_______________________

ilustrasi gambar dari: www.whitelifedesign.com
first published on kompasiana.com  

Jumat, 03 Juli 2015

Mana Gaya Manajemen Konflikmu?


Konflik adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam interaksi antara manusia satu dan lainnya. Perbedaan pola pikir, budaya, status sosial, dan aneka perbedaan lainnya menjadi pemicu konflik yang terjadi di tengah-tengah lingkungan kita. Jadi pada dasarnya konflik bukan hal yang negatif, sejauh orang-orang yang terlibat konflik mampu mengelolanya dengan baik. Malah pada beberapa organisasi, konflik dikelola sedemikian rupa untuk meningkatkan produktivitas organisasi tersebut.
Pada akhirnya seberapa efektif konflik dapat diselesaikan pihak-pihak yang terlibat, dipengaruhi oleh gaya masing-masing pihak mengelola konflik tersebut.  Ada yang mampu menghadapi konflik dengan sabar dan berusaha mencari jalan terbaik untuk setiap pihak, ada yang cenderung mengalah agar konflik tidak bertambah panjang, ada pula yang ngotot selalu mau menang apapun konsekuensinya.

Saya ingin berbagi sedikit materi pelatihan Manajemen Konflik yang saya ikuti belum lama ini. Johnson D.W, seorang psikolog, membagi manusia menjadi lima tipe berdasarkan gayanya mengelola konflik yang terjadi. Untuk memudahkan ilustrasi, setiap gaya disimbolkan dengan hewan tertentu. Kelima hewan itu adalah Kura-kura, Kancil, Rubah, Burung Hantu dan Hiu.
Mari kita lihat satu persatu.
  1. Gaya Kura-kura. Apa yang anda bayangkan? Ya, kura-kura adalah hewan yang akan menarik diri kedalam cangkangnya jika merasa tidak aman. Orang pada tipe ini cenderung menghindari konflik dengan menarik diri pada comfort zone-nya. Mereka sedapat mungkin berusaha menghindari masalah  atau menghindari orang-orang yang menurutnya akan memperpanjang masalah yang terjadi. Oleh karena itu mereka cenderung mengalihkan permasalahan pada orang lain. Jika mereka berada pada tuntutan untuk menyelesaikan konflik, mereka sering mengulur-ulur waktu.
  2. Gaya Kancil. Pada kebanyakan fabel, kancil digambarkan sebagai hewan yang punya banyak teman. Orang-orang pada tipe kancil adalah mereka yang berusaha menyelesaikan konflik tanpa banyak ribut dan konfrontasi. Mereka ingin disenangi atau diterima semua pihak. Orang-orang yang memiliki gaya kancil senang pada harmoni dan ketenangan, sehingga menurut mereka konflik bukan untuk dipecahkan tapi untuk didamaikan. Sedapat mungkin konflik harus berujung pada penyelesaian yang membuat lega semua pihak. Walau kadang-kadang mereka harus mempertaruhkan kepentingan dirinya sendiri.
  3. Gaya Rubah. Rubah digambarkan sebagai hewan yang suka berkompromi. Begitu pula dengan cara orang-orang bergaya rubah saat berhadapan dengan konflik. Mereka mengutamakan kompromi saat mengatasi konflik. Agar konflik dapat diselesaikan mereka merasa setiap pihak mesti sedikit mengorbankan kepentingannya untuk mencapai kata sepakat. Tidak boleh ada yang mendominasi di antara pihak-pihak yang berkonflik. Setia pihak harus sama-sama mengalah untuk kepentingan atau kebaikan bersama.
  4. Gaya Burung Hantu. Barangkali dari semua gaya, inilah gaya menyelesaikan konflik yang paling baik. Burung hantu biasa digambarkan sebagai hewan yang bijaksana. Orang-orang bergaya burung hantu selalu berusaha mencari cara terbaik dan kreatif untuk menyelesaikan konflik. Mereka memprioritaskan solusi menang-menang (win-win solution) pada setiap konflik. Mereka pandai mengelola situasi sehingga pihak-pihak yang berkonflik mengambil sudut pandang bahwa konflik itu adalah musuh bersama yang harus diselesaikan. Tipe burung hantu cocok untuk menjadi juru runding atau diplomat karena mereka selalu mampu menemukan jalan keluar terbaik yang selaras dengan tujuan setiap pihak.
  5. Gaya Hiu. Sesuai gambaran hewan yang jadi simbolnya, orang-orang bergaya hiu adalah orang-orang yang senang menggunakan kekuatan atau kekuasaannya untuk meredakan konflik. Mereka sangat menjunjung tinggi kepentingan atau tujuan pribadinya dibanding kepentingan atau tujuan pihak-pihak lain yang berkonflik dengannya. Mereka menganggap dalam setiap konflik harus ada yang menang dan kalah, dan sedapat mungkin mereka jadi pemenangnya. Bila perlu orang-orang bertipe hiu ini akan mengancam, berusaha menaklukan dan menyerang lawannya dengan cara-cara tertentu untuk mencapai tujuannya.
Nah, silahkan  menilai diri sendiri gaya mana yang sering anda gunakan saat menyelesaikan konflik dengan orang lain. Silhakan pula menilai gaya manajemen konflik yang biasa digunakan relasi, pimpinan atau bawahan di tempat kerja anda. Bisa jadi manajemen konflik anda condong pada satu gaya saja, bisa jadi juga kombinasi dari beberapa gaya.
Sebenarnya setiap gaya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga idealnya gaya manajemen konflik disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari konflik itu sendiri.
Untuk konflik yang terjadi antara dua pihak yang sama kuat misalnya, gaya Kancil atau Rubah cocok digunakan. Tapi kadang-kadang gaya Kancil tidak tepat digunakan pada saat seorang  pemimpin harus menunjukkan wibawa atau ketegasan pada bawahannya. Gaya Burung Hantu cocok untuk digunakan pada situasi konflik yang begitu kompleks dan butuh analisis mendalam untuk mengurai konflik. Kelemahannya, tidak cocok digunakan pada waktu yang sempit.
Sebaliknya jika penyelesaian konflik dihadapkan pada keterbatasan waktu, apalagi pihak-pihak yang berkonflik terlalu jauh kesenjangannya dalam hal pengetahuan, pengalaman atau posisinya, maka gaya Hiu adalah gaya manajemen konflik yang lebih cocok digunakan. Tapi jangan coba-coba pakai gaya Hiu jika pihak-pihak yang berkonflik setara kekuatan, pengalaman dan pengetahuannya. Konfliknya bakal semakin lama jadinya.
Untuk keperluan mengulur-ulur waktu, atau mengurusi konflik yang tidak terlalu penting, gaya Kura-kura bisa digunakan. Tapi jangan gunakan gaya ini untuk mengurai konflik yang kompleks dan berdampak serius bagi anda atau organisasi, gunakanlah gaya Burung Hantu.
Jadi, jika terjadi konflik hadapilah dengan tenang dan gunakan gaya yang cocok untuk menyelesaikan konflik tersebut. (PG)

ilustrasi gambar dari: arineromanoofficially.blogspot.com
First posted at Kompasiana: Mana Gaya Manajemen Konflik Anda?

Minggu, 28 Juni 2015

Memberi Perhatian Pada Rekening Keuangan


Membaca berita di portal kompas.com kemarin (28/6) tentang pencurian uang nasabah yang dilakukan oleh seorang karyawan bank, membuat merinding. Bagaimana tidak merinding kalau total uang nasabah yang berhasil digasak adalah Rp 29 M. Angka ini bahkan lebih tinggi dari Dana Aspirasi yang diterima anggota DPR per tahunnya.
Tidak dijelaskan secara detail bagaimana mekanisme pencurian uang nasabah yang dilakukan oleh karyawan bank tersebut. Pada umumnya sistem pembukuan dan manual prosedur yang digunakan perbankan benar-benar secure demi menjamin keamanan dana nasabah dari kemungkinan pencurian dari luar maupun manipulasi dari dalam.
Celah keamanan pada sistem mungkin saja ada, tapi kita sebagai nasabah dapat meminimalkan resiko terjadinya kecurian dengan mencermati riwayat transaksi demi transaksi pada rekening keuangan kita. Selain itu slip dan bukti-bukti transaksi lainnya harus didokumentasikan dengan baik sebagai bukti otentik jika sewaktu-waktu ada permasalahan dengan rekening kita.
Berikut rangkuman beberapa kiat sederhana yang dapat kita lakukan untuk memastikan seluruh transaksi keuangan yang telah kita lakukan berada pada pos yang semestinya.
Perhatikan Kolom Debet
Perhatikan kolom Debet pada buku rekening kita, karena pada kolom inilah dicatatkan transaksi penarikan uang. Jika pada buku rekening tidak dicantumkan kolom debet kredit, perhatikan saja transaksi-transaksi yang membuat saldo rekening berkurang. Apalagi jika transaksi penarikan itu terjadi secara tunai. Pastikan semua penarikan tersebut anda ketahui sebelumnya. Jangan lupa cocokkan juga dengan kode transaksi untuk mengkonfirmasi jenis penarikannya, apakah tarik tunai, via ATM, debet di merchant, dan sebagainya. Bila perlu mintalah rekening koran secara berkala untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Jika ada transaksi yang terasa janggal atau tidak pernah anda ketahui sebelumnya, tidak perlu malu meminta penjelasan dari pihak bank. Mereka akan dengan senang hati membantu anda.
Mengawasi Bunga Deposito
Berbeda dengan rekening tabungan biasa, kepemilikan tabungan deposito dibuktikan dengan bilyet yang diserahkan bank kepada nasabahnya. Untuk deposito yang hanya disimpan dalam jangka waktu pendek, misalnya sebulan, pemantauan tabungannya relatif mudah dilakukan. Namun jika menyimpan deposito dalam jangka waktu lama, misalnya setahun, anda harus secara telaten memastikan bunga depositonya sesuai dengan kesepakatan dengan bank. Perhatikan sebelah kredit dari rekening penampung bunga deposito anda. Jika terjadi penurunan suku bunga, segera konfirmasi dengan petugas bank, karena biasanya pihak bank akan memberi informasi jika ada fluktuasi suku bunga (deposito) yang terjadi.
Simpan Bukti-bukti Transaksi
Setiap kali usai melakukan transaksi, simpan baik-baik bukti transaksinya seperti slip, bilyet, rekening koran dan lain-lain. Bukti-bukti ini dapat menjadi kekuatan hukum anda jika di kemudian hari ada masalah pada sistem bank, termasuk masalah-masalah yang bersifathuman error yang berpotensi merugikan anda. Saya sendiri biasa menjepret bukti struk ATM setiap selesai melakukan transaksi transfer via ATM sebagai bentuk lain dokumentasi, karena tinta pada struk ATM itu seringkali semakin pudar seiring waktu. Pendek kata jangan abaikan semua bukti-bukti yang berhubungan dengan transaski keuangan kita.
Melakukan Sendiri
Sedapat mungkin lakukan sendiri semua transaksi keuangan yang menggunakan nama pribadi kita. Kadang-kadang karena percaya pada rekan, tetangga atau keluarga, kita suka menitip ATM untuk tarik tunai atau menitip setoran bank pada karyawan bank yang kebetulan masih keluarga atau masih teman. Titip menitip seperti inilah yang seringkali menimbulkan persoalan di kemudian hari, terutama jika transaksi penarikan tidak sesuai dengan intruksi dan kita tidak memiliki bukti hitam di atas putih untuk menguatkan posisi kita.
Membuat Pencatatan Manual
Kita juga bisa membuat pencatatan sederhana yang berisi transaksi-transaksi yang kita lakukan di buku rekening, baik penarikan maupun penyetoran. Setelah itu secara berkala, misalnya sebulan sekali atau tiga bulan sekali lakukan rekonsiliasi dengan buku rekening yang diterbitkan bank. Lalu bandingkan kedua pencatatan tersebut. Idealnya selain transaksi Adminstrasi bank, bunga tabungan dan pajak atas bunga tidak ada selisih diantara keduanya. Jika terjadi selisih, cari tahu transaksi mana yang tidak sama. Jika anda merasa kurang jelas kembali tanyakan dengan petugas bank.

Anda juga bisa memaksimalkan fasilitas internet banking yang disediakan bank untuk memantau riwayat transaksi dan hilir mudik dana di rekening kita. Pada fasilitas internet banking pada umumnya rincian transaksi tersedia dengan baik, seperti halnya rekening koran. Hanya saja, hindari mengakses internet banking  dari fasilitas umum seperti misalnya warnet, dan segera sign out atau logout dari akun internet banking anda begitu selesai.
Dengan memberi perhatian pada perkembangan keuangan, kita ikut menekan resiko terjadinya penyelewengan dana pada rekening kita. Tidak apa sedikit rempong, selama hasil kerja keras kita terlindungi dengan baik.  (PG)

__________________________
ilustrasi gambar dari: kompas.com
first posted at Kompasiana

Selasa, 23 Juni 2015

Pengusaha Versus Karyawan


Pada banyak seminar mengenai kewirausahaan, seminar bertemafinancial revolution atau kesempatan-kesempatan lain, kita sering melihat disajikan perbandingan antara Pengusaha dan Karyawan. Pengusaha digambarkan sebagai status karir yang ideal, dan menjadi patron untuk memacu para karyawan sebagai orang-orang yang masih menggantungkan hidupnya pada orang lain untuk segera “move on”, alias berpindah status.
Meminjam teori cashflow quadrant ala Kyosaki, karyawan yang berada pada kuadran E (employee) adalah pekerjaan yang beresiko tinggi karena produktivitasnya dibatasi oleh usia dan jam kerja. Oleh karena itu peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih minim. Selain itu, karyawan juga rentan terkena pemutusan hubungan kerja.
Sedangkan pengusaha yang berada pada kuadran B (Business Owner) memiliki peluang untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar, karena mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan perputaran uang dari aset-asetnya. Produktivitas tidak dibatasi oleh jam kerja. Usia pun tidak terlalu jadi penghalang untuk memperoleh income. Yang pasti pengusaha tidak bakal terkena PHK.

Tak bisa dipungkiri, perbandingan-perbandingan tersebut berhasil menonjolkan superioritas pengusaha dibanding karyawan.
Padahal jika mau dilihat dengan sudut pandang yang lebih lebar, sebenarnya kedua kategori profesi tersebut sama saja “kehormatan”-nya jika si pelakon benar-benar berdedikasi pada profesinya. Sekalipun hanya karyawan, namun jika memiliki manajemen keuangan yang baik, kita juga bisa memaksimalkan arus kas kita. Kuncinya, menekan biaya hidup, dan mengubah sebagian pendapatan jadi aset yang bisa menghasilkan pendapatan tambahan.
Sebaliknya, seorang pengusaha sebenarnya bergelut dengan banyak resiko. Realitanya, pengusaha pun memiliki seleksi alam-nya sendiri. Hanya sedikit pengusaha yang benar-benar bisa menembus rimba raya bisnis, dan berhasil mengembangkan usahanya. Ramainya persaingan usaha, kemampuan berinovasi, menjadi kata-kata kunci yang menguji eksistensi seorang pengusaha. Tidak siap mental, siapa-siap saja jatuh terpelanting.
Jadi sebenarnya Pengusaha maupun Karyawan memiliki peluang dan tantangannya masing-masing. Kita lihat lebih jauh lagi.
Karyawan
Memang hanya orang upahan saja. Namun jika benar-benar berdedikasi pada pekerjaan kemudian memiliki etos kerja yang baik, seorang karyawan bisa jadi memiliki jenjang karir yang baik, apalagi jika bisa sampai ke tingkat top manajemen. Pada pucuk tertinggi dalam struktur manajemen, karyawan sudah hampir memiliki status sama dengan pemiliki usahanya. Jika semula hanya memikirkan dan berkontribusi pada keberlangsungan perusahaan sebatas lingkup kerjanya saja, kini juga ikut bertanggungjawab terhadap keberlangsungan seluruh lini perusahaan. Memang resiko yang berhubungan dengan karir pasti ada, seperti demosi bahkan PHK. Namun jika memiliki kinerja yang baik, resiko tersebut bisa diminimalkan. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, menjadi karyawan bukan berarti tidak bisa meningkatkan pendapatan. Mengubah sebagian pendapatan menjadi aset yang digunakan untuk mendatangkan penghasilan tambahan dapat menjadi alternatif untuk memaksimalkan arus kas. Misalnya: membangun rumah kos-kosan, penyedia jasa mobil rental, dan lain-lain.

Pengusaha
Nilai lebih dari pengusaha adalah memiliki waktu yang lebih fleksibel dibanding karyawan. Apalagi jika usaha plus manajemennya sudah berjalan baik. Peluang untuk meningkatkan pendapatan juga lebih terbuka lebar dibanding karyawan. Orang-orang yang suka tantangan dan gemar mengejar rupiah, cocok berada pada posisi ini. Pada umumnya kesulitan terbesar bagi pengusaha adalah masa-masa saat bisnis baru startup. Pada masa-masa ini pengusaha “bermain” dengan propabilitas dan resiko. Waktu untuk beristirahat dan berleha-leha pun mesti dipangkas demi memastikan usahanya bisa berjalan. Namun jika masa-masa sulit ini bisa dilewati, pengusaha pun mendekati kejayaannya.

Kesimpulan
Pengusaha maupun karyawan sama mulianya. Karyawan membutuhkan pengusaha.  Sebaliknya, pengusaha pun membutuhkan karyawan. Berbicara resiko, keduanya memiliki resikonya masing-masing. Berbicara income atau pendapatan, keduanya pun memiliki peluang yang sama. Pendapatan pengusaha kelas teri bisa jadi jauh lebih rendah dari seorang karyawan yang punya jabatan tinggi. Berbicara tantangan, keduanya juga punya tantangannya sendiri-sendiri.
Mungkin pengusaha bisa bilang, “karyawan adalah bawahan saya, sehingga saya bebas memerintah mereka,” namun jangan lupa, pengusaha harus memikirkan kelanjutan bisnisnya sehingga otomatis harus ikut memikirkan kesejahteraan karyawannya. Jadi baik pengusaha maupun karyawan memiliki kesenangan dan kesusahannya masing-masing.
Jadi kesimpulannya, apapun pekerjaan kita saat ini, tekuni dan jalani dengan amanah. Setiap pekerjaan yang dijalankan sungguh-sungguh dan memberi kontribusi yang berarti bagi orang lain, akan diberi berkah dan rejeki yang sepadan dari Tuhan. (PG)

______________________
ilustrasi gambar dari: ursmoneymaker.com