Jumat, 30 Januari 2015

Mata Anda Bisa Jadi Lie Detector

gambar dari: www.123freevectors.com


Suatu siang di sebuah kafe, dua orang agen asuransi, Charlie dan Rosa sedang mempresentasikan produk perusahaan mereka kepada Andrew, seorang eksekutif muda.  Andrew  mengikuti presentasi dengan serius, sesekali mengangguk menanggapi penjelasan Charlie dan Rosa. Pada akhir presentasi, diteguk terakhir kopinya, Andrew terlihat berpikir, menjauhkan badannya dari meja sambil berpangku tangan. “Ok, menarik,” ujarnya. “Saya pertimbangkan dulu ya penawaran kalian. Saya hubungi kembali dua hari lagi,” katanya lagi sambil meraih kartu nama Charlie yang disodorkan kepadanya. Setelah itu Andrew pun berpamitan lalu meninggalkankan kafe itu.
“Menurut lu gimana?” tanya Rosa pada Charlie sambil menghabiskan sisa kopinya. “Prospeknya bagus nggak?”
“Hmm, gue berani taruhan goban deh. Dia nggak bakal telepon lagi,” sahut Charlie. “
__________________
Kebohongan adalah penipuan yang paling sering terjadi di sekitar kita. Kita pun mungkin seringkali melakukannya. Tujuannya beraneka ragam, bisa untuk  menutupi sesuatu, untuk mengarahkan keyakinan orang lain, untuk menyelamatkan diri atau menyelamatkan orang lain dan aneka alasan lain. Apapun alasannya, kebohongan tetap merupakan salah satu manipulasi atau penyangkalan kebenaran yang tidak bisa dibenarkan baik oleh norma hukum maupun norma agama.

Oleh karena itu berbagai metode pendeteksi kebohongan pun dikembangkan, termasuk penciptaan alat-alat pendeteksi kebohongan (lie detector) oleh para ilmuwan.  Prinsip kerja dari alat-alat ini adalah mendeteksi perubahan fisiologis seseorang yang berbohong seperti tekanan darah, denyut jantung, gelombang saraf, keadaan kulit, dan lain-lain. Anda yang suka menonton film-film spy hollywood mungkin pernah melihat alat-alat canggih tersebut. Memang pada hakikatnya manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang mulia dan baik adanya. Sehingga saat kita menyangkal kebenaran, pikiran bawah sadar kita memberikan perlawanan melalui gejala-gejala fisiologis tadi termasuk melalui bahasa tubuh kita. Namun tentu lain cerita pula apabila seseorang sudah terlatih untuk memanipulasi gejala fisiologis tadi saat berbohong seperti agen intelijen yang sering pula kita lihat pada film-film Spy Holywood.

Namun syukurlah orang-orang seperti ini jumlahnya sedikit, jadi percaya saja mereka tidak akan anda temui berseliweran di sekitar rumah anda. Kecuali anda memang seorang buronan interpol. Hal ini membuat kita boleh berasumsi bahwa sebagian besar orang-orang disekitar anda tidak dilatih untuk memanipulasi kondisi fisiologisnya maupun psikologisnya saat berbohong. Dengan demikian kita memiliki peluang untuk memperkirakan orang yang kita hadapi ini sedang berbohong atau tidak.

Sebagai makhluk sosial tidak bisa dipungkiri lagi setiap hari kita bertemu dengan orang lain, apakah orang yang sudah kita kenal atau belum kita kenal sama sekali. Mereka berinteraksi dengan kita dengan sejumlah alasan, termasuk membohongi kita dengan tujuan-tujuan tertentu. Namun dengan sedikit memahami perubahan fisiologis dan bahasa tubuh yang terjadi pada lawan bicara, kita dapat membuat asumsi awal mengenai kejujuran orang tersebut.  Untuk mencari tahu perubahan fisiologis mungkin agak sulit karena kita butuh instrumen tambahan. Namun melihat perubahan bahasa tubuh, dapat dilakukan dengan mudah sehingga secara praktis mata anda pun sebenarnya bisa jadi lie detector yang berguna.

Sekali lagi prinsip dasarnya adalah saat berbohong terjadi ketidakselarasan bahasa non-verbal dan bahasa verbal yang dikeluarkan. Hal ini terjadi karena orang yang berbohong biasa cenderung lebih berkonsentrasi pada ucapannya sehingga tidak bisa mengontrol bahasa tubuhnya sepenuhnya. Tanda-tanda yang umum misalnya peningkatan frekuensi kedipan mata. Hal ini diakibatkan saraf mata bekerja lebih cepat saat kita gugup karena menutupi ketidakjujuran kita. Masih berhubungan dengan mata, beberapa orang memalingkan matanya atau melihat ke arah lain saat berbohong. Mata adalah jendela jiwa, sehingga orang-orang tersebut takut kebohongannya akan diketahui oleh lawan bicara saat melakukan kontak mata.

Kadang-kadang tanpa sadar kita juga akan menutup mulut saat berbohong. Sama seperti gerakan menutup mulut ketika tertawa berlebihan.  Hal ini terjadi karena otak menyuruh kita menghentikan aktivitas yang kurang baik tersebut. Kadang-kadang gerakan ini juga dengan diikuti deheman atau batuk-batuk kecil. Dalam bentuk yang lebih halus, biasa gerakan menutup mulut ini berubah menjadi gerakan menyentuh atau menggaruk hidung. Hanya ini perlu dipastikan lagi, siapa tahu hidung lawan bicara kita sedang gatal. Gerakan tangan lain yang biasa dilakukan saat seseorang sedang berbohong adalah menggaruk leher sebelah kiri atau kanan.  Bukan karena gatal, tapi hal tersebut terjadi akibat respon saraf disekitar leher saat berbohong.

Selain beberapa respon tubuh tersebut, ada beberapa sinyal bahasa tubuh lain yang lebih kasatmata saat seseorang berbohong kepada lawan bicaranya. Antara lain:
  • -          Wajah nampak menjadi pucat,
  • -          Gerakan bola mata menjadi liar
  • -          Lebih sering memainkan tangan
  • -          Menutupi kebohongan dengan senyuman yang dibuat-buat
  • -          Beberapa bagian tubuh misalnya tangan dan bahu gemetar.


Setelah mengetahui sinyal tubuh orang yang berbohong ini, cobalah untuk membuat mata anda lebih peka saat berbincang dengan orang lain. Amati semua  perubahan bahasa tubuhnya, mulai dari ekspresi, intonasi, sampai hal-hal yang sudah disebutkan di atas. Buatlah analisa untuk mengetahui apakah bahasa tubuh orang yang berbicara di depan anda terjadi secara wajar atau dia sedang menyembunyikan kejujuran dari anda.

Mengetahui bahwa orang lain sedang berbohong memberikan manfaat bagi relasi anda dengannya. Anda tidak perlu membuat vonis secara eksplisit kepadanya saat mengetahui dia berbohong. Tetaplah menikmati percakapan tersebut. Aksi anda adalah bagaimana menindaklanjuti percakapan tersebut.

Seperti contoh pada ilustrasi di atas. Walaupun sepanjang presentasi produk Andrew mengangguk-angguk, namun bisa jadi Charlie mengetahui bahwa sebenarnya Charlie tidak tertarik dengan produk yang mereka tawarkan. Apalagi di akhir presentasi, dia menjauhkan badan sambil berpangku tangan. Arti bahasa tubuh menjauhkan badan adalah tak tertarik dengan pembicaraan yang terjadi dan berpangku tangan berarti mencoba menutup diri. Walaupun demikian Charlie dan Rosa tetap melanjutkan interaksi mereka sebagaimana mestinya. Mereka hanya menurunkan tingkat kemungkinan Andrew memberikan respon lanjutan.

Bagaimana dengan anda sendiri? Saat mengetahui orang yang berbincang dengan anda berbohong silahkan putuskan apa yang anda lakukan selanjutnya. Apakah itu atasan, bawahan, kolega, tetangga anda atau mungkin pasangan anda. Selidiki kira-kira apa alasannya menutupi kebenaran, jadi jangan sampai logika yang anda gunakan untuk analisa oleh emosi sesaat. Setelah itu putuskan apa anda membiarkan waktu yang akan membuka kebenaran, atau anda yang harus membuka kebenaran tersebut. Namun apapun keputusan anda, pastikan hal itu untuk memperbaiki kualitas relasi anda dan orang-orang disekitar anda. (PG)

(Referensi: Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh-Dianata Eka Putra) 

Senin, 26 Januari 2015

Sisi Lain Pernyataan Menteri Tedjo Edhi

gambar dari: nasional.kompas.com


"Jangan membakar massa, mengajak rakyat, membakar rakyat. Ayo kita ini, tidak boleh seperti itu, itu suatu sikap pernyataan yang kekanak-kanakan. Berdiri sendiri, kuat dia. Konstitusi yang akan dukung, bukan dukungan rakyat yang nggak jelas itu," 
_____
Ini kutipan pernyataan panas pak Menteri Tedjo Edhi yang saya kutip dari portal detik.com.

Biasanya dari sekian menteri dalam Kabinet Kerja, Menteri Susi yang sering menjadi primadona. Tapi hari-hari belakangan Menteri Susi pun kalah pamor oleh Menteri Tedjo Edhi akibat celetukannya tentang “rakyat nggak jelas” beberapa waktu lalu. Media dan berbagai media sosial tanah air pun ramai oleh tulisan mengenai celetukan Menkopolhukam tersebut.

Saya juga mau ikut-ikutan beropini. Hanya sedikit beda dengan tulisan mainstream yang sudah banyak bergulir.

Jika mengamati rentetan peristiwa demi peristiwa yang terjadi sebelum gerakan Save KPK berlangsung, statement pak Tedjo Edhi itu bisa jadi sebuah sikap yang make sense. Sebagai pejabat di bawah presiden yang paling bertanggungjawab terhadap stabilitas dalam negeri, pak Tedjo tentu punya tugas besar memastikan semua elemen bangsa mendapat perlindungan dari pemerintah.

Statement di atas terjadi beberapa saat setelah masyarakat dan aktivis antikorupsi berkumpul untuk menyuarakan dukungan terhadap KPK pasca penangkapan Bambang Widjojanto.

Peristiwa penangkapan BW ini memang jadi sebuah garis tegas dalam sketsa konfrontasi KPK versus Polri. Keduanya adalah institusi besar yang berperan strategis menjaga kewibawaan hukum di negeri ini. Oleh karena itu keduanya harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah maupun masyarakat. Memang jika mengamat-amati fenomena yang terjadi, nampaknya arus dukungan lebih banyak mengalir ke arah KPK. Pemerintah tentu harus punya sikap dan opsi pemerintah kali ini adalah berdiri di tengah.

Bola panas calon tunggal Kapolri biarlah jadi blunder Presiden Jokowi yang harus diurai pemecahannya lebih lanjut. Tapi Presiden tidak boleh lagi melakukan blunder susulan dengan keberpihakan kepada salah satu institusi dan mengabaikan institusi yang lain.

Sikap Presiden ini yang kemudian diterjemahkan oleh segenap jajarannya. Menteri Tedjo Edhi melihat bahwa angin dukungan terhadap KPK telah menyeret opini dan aksi sebagian masyarakat. Sebagai sarana berpendapat, ini sah-sah saja. Namun pak Tedjo tidak ingin masyarakat yang lebih luas menangkap kesan yang salah mengenai nasib atau kedaulatan KPK. Sehingga Tedjo “berusaha” menetralisir kebisingan dan carut marut politik dengan mengeluarkan statement di atas.

Jika ber-positif thinking dan menganalisa secara cermat kata demi kata yang keluar dari pernyataannya, sebenarnya maksud Menteri Tedjo Edhi itu baik adanya. KPK adalah lembaga yang dipayungi oleh konstitusi, jadi KPK tidak akan pernah bergeming sekalipun ada pihak-pihak yang mencoba merongrong KPK selama KPK tetap pada jalurnya membela kebenaran dan kedaulatan hukum.

Bisa jadi sebenarnya yang dimaksud dengan frase “nggak jelas” itu bukan ditujukan pada “rakyat”-nya, melainkan pada “dukungan”-nya. Jadi Pak Tedjo tidak menyorot rakyat yang nggakjelas, melainkan dukungan yang nggakjelas. Rakyat tetaplah sebuah entitas yang gamblang dan diakui eksistensinya, tapi cara memberi dukungan itu yang hendak digarisbawahi oleh pak Tedjo Edhi.
Ini bukan bermaksud membela Menteri Tedjo, tetapi hanya berusaha menganalisa statement beliau dari sudut pandang yang lain.

Tapi harus ditegaskan, sebagai Menkopolhukam, Tedjo Edhi memang tidak boleh terus menerus melakukan blunder dengan mengeluarkan pernyataan nyentrik yang mengundang polemik di mana-mana. Dia harus belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Beresiko besar memang meletakkan sosok yang gemar mengeluarkan statement panas di posisi Menkopolhukam. Saya pun merasa jika akan ada reshuffle kabinet, nama Tedjo Edhi bisa jadi masuk di daftar Menteri yang akan dilengserkan. (PG)

Minggu, 25 Januari 2015

Pamrih Itu Bibit Dosa

gambar dari: www.funxone.com
Bumi ini bakal jadi tempat paling indah sejagad raya kalau saja semua orang mau menabur kebaikan seperti matahari. Lihat matahari kita. Dia memancarkan cahaya dan panas tanpa pamrih ke seluruh penjuru semesta, tak peduli dengan memancarkan energi maha dahsyat itu dia sebenarnya sedang membakar dirinya sendiri sampai habis, sampai paripurna tugasnya.

Saya pribadi masih sulit mengingat kapan terakhir kali berbuat kebaikan tanpa mengharapkan “sesuatu” sebagai imbas hasilnya. “Sesuatu” itu tidak mesti kasat mata. Harapan, angan-angan dan kata-kata yang kita harapkan dari  orang yang menerima kebaikan juga berarti “sesuatu” bukan? 

Suatu hari kawan kantor meminta bantuan pinjaman duit kepada saya. Kebetulan saat itu saya juga lagi ada, jadi saya bersedia membantunya. Sebagai rekan seperjuangan kita mesti tolong menolong dong. Siapa tahu besok-besok saya yang mengalami masalah, kepada siapa lagi saya harus meminta tolong kalau bukan kepada kawan-kawan saya.  Itu pikiran spontan saya. Tapi setelah dipikir-pikir, apa sebenarnya motivasi saya menolong? Apakah karena merasa memang wajib membantu kawan yang kesusahan atau saya mengharapkan sesuatu di balik pertolongan itu?
Ternyata dalam skala tolong menolong yang kecil pun motivasi kita berbuat kebaikan seringkali terdistorsi dengan letupan-letupan keegoisan kita. Walaupun kita sedang mengarahkan energi untuk menolong orang lain, ujung-ujungnya kita malah balik memikirkan kepentingan diri sendiri.

Lalu bagaimana bisa jadi bibit dosa? Untuk menjawab itu saya narasikan sebuah kisah. Kisah ini berangkat dari realita yang ada, hanya bagian ending-nya saja saya beri sedikit sentuhan fiksi. Jadi harap membacanya dengan tenang, dearkompasianer.
Seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati,  sebut saja namanya Bram, mendapat tawaran dari seorang negarawan yang punya cita-cita luhur dan mulia untuk Indonesia tercinta. Negarawan tersebut bersama laskarnya membangun sebuah rumah bersama, sebuah partai baru yang langsung mendapat respon hangat dari masyarakat. Sebut saja nama partainya X. Pak Bram pun diajak untuk ikut serta membangun rumah bersama tersebut. Jiwa pak Bram terbakar oleh idealisme partai dan mulai bekerja keras tak kenal lelah membesarkan partai X. Sebagai  partai muda, tentu infrastruktur partai masih banyak yang harus dibenahi dan dikembangkan. Pak Bram pun mengorbankan tidak saja pemikiran dan waktu tapi juga tenaga dan materi untuk partainya.
Setelah sekian lama berjalan, partai X semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Kaderisasi berjalan baik dan Pak Bram pun didaulat menjadi ketua DPD. Tapi kaderisasi menjadi belati bermata dua untuk pak Bram. Setelah kemimpinan partai berjalan satu periode, tumbuh banyak potensi pemimpin baru dari dalam partai. Mereka adalah orang-orang muda, energik, berpikiran terbuka dan lebih suka menghadapi tantangan. Pak Bram sebenarnya masih ingin mengecap indahnya kepemimpinan karena dia merasa masih banyak cita-cita partai yang belum tercapai maksimal. Apalagi gaung partai X semakin terdengar di seantero nusantara. Tapi nampaknya angin sudah berubah haluan. Orang-orang partai lebih memilih generasi baru ketimbang pak Bram untuk memimpin periode berikutnya.
Saat yang lain larut dalam keriaan pesta pelantikan, pak Bram malah berduka. Dia merasa orang-orang itu telah mengkhianatinya.  Dia merasa tidak ada lagi yang menghargai keringat dan pengorbanannya membesarkan partai. Lalu seperti kilat yang membelah langit, seketika itu juga idealismenya berubah 180 derajat. Dia tiba-tiba merasakan amarah yang menyala-nyala di dalam dirinya. Amarah itu harus disalurkan, jika tidak dia bisa terkena penyakit stroke mendadak. Dia pun menyorot tajam kepada anak muda yang kini tengah gembira merayakan kemenangannya menjadi ketua DPD yang baru. Yah, anak muda itulah sasaran tembaknya. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya. Pak Bram orang yang berpengaruh, berkuasa dan kaya. Jadi dia bisa berbuat apapun yang dia inginkan untuk membalas kekalahannya.

Nah, pada awal kisah, kelihatannya Pak Bram adalah contoh sempurna orang yang memperjuangkan kebaikan dan idealisme tanpa pamrih. Padahal batas antara pamrih dan tidak pamrih itu setipis kulit bawang. Batas itu hanya akan teruji begitu keadaan berbalik. Dari kaya jadi miskin, kalah jadi menang, di atas jadi di bawah, budak jadi orang merdeka, pemimpin menjadi pengikut dan pemberi bantuan jadi orang yang butuh bantuan. Saat pak Bram merasa tersisihkan, wataknya berubah seketika. Dari seorang pemimpin yang dihormati ternyata bisa jadi seorang pendendam yang gelap mata. Artinya pak Bram sebenarnya berbuat kebaikan dengan mengharapkan “sesuatu”, bukan murni untuk membangun dan mengembangkan rumah bersama. Kalau tidak ada pamrih, mestinya dia lebih legowomemberi kesempatan kepada orang muda untuk meneruskan perjuangannya. Dia harusnya ikut bergembira menyambut pemimpin baru partai.

Bibit-bibit dosa akibat pamrih akan bertumbuh begitu harapan si pemberi kebaikan tidak terpenuhi dalam diri si penerima kebaikan. Manifestasinya bisa macam-macam. Ada orang yang suka menyumpahi orang lain atau berdoa agar orang lain secepatnya disambar kereta api. Padahal baru berpikir negatif saja sudah dosa, apalagi kalau benar-benar mengeksekusi pikiran-pikiran tersebut.

Inilah yang terjadi pada orang yang berbuat kebaikan dengan pamrih. Pemuda yang menolong seorang gadis agar cintanya terbalas, pengusaha yang berbuat baik kepada kepala daerah agar proyeknya diluluskan, public figur yang menyambangi panti asuhan biar diliput media dan seabrek contoh lain. Tapi bukan berarti perbuatan-perbuatan baik mereka itu salah. Perbuatan baiknya sudah benar, motivasinya yang keliru.

Perbuatan baik yang dilandasi motivasi tulus untuk menolong dapat dilihat pada seorang ibu yang penuh cinta membesarkan anak-anaknya, tuan rumah yang memberi tumpangan gratis kepada orang asing yang kemalaman atau seorang pemuda yang membantu bapak tuna netra menyeberang jalan.  Perbuatan baik mereka tidak dilandasi kepentingan macam-macam.

Dengan memiliki motivasi demikian, orang-orang bisa berbuat baik bisa lebih nothing to lose. Jika besok-besok perbuatan baik mereka tidak terbalas, ya tidak ada masalah. Biarlah nanti amal kebaikan itu dibalas oleh Tuhan yang empunya kehidupan ini. Eh, itu juga namanya ngarep ya? Berarti pamrih juga. Tapi kalau pamrih sama Tuhan rasanya bisa jadi pengecualian dalam hal ini.

Akhirnya kita akan semakin menemukan makna kebersamaan jika semua orang berbuat baik tanpa pamrih kepada sesamanya. Walaupun memang rasanya sulit diamalkan, tidak ada salahnya mulai mencoba dengan hal-hal kecil kepada orang-orang terdekat kita.

Mari jadikan dunia tempat yang lebih indah dengan menabur kebaikan. (PG)

Kamis, 22 Januari 2015

Bambang Widjojanto Jadi Trending Topic World Wide

Wow, Bambang Widjojanto mendadak menjadi trending topic worldwide di media sosial Twitter. Nama Wakil Ketua KPK tersebut langsung bertengger di tangga topik trending dunia setelah sejumlah besasr media nasional dan pengguna twitter lainnya ramai-ramai mengicaukan namanya.
Memang peristiwa-peristiwa hangat yang terjadi di tanah air kerap menjadi topik trending dunia karena masyarakat Indonesia termasuk salah satu pengguna media sosial terbesar. Melejitnya nama Bambang Widjojanto terjadi setelah berhembus kabar kalau pagi tadi Bambang dijemput petugas Bareskrim Polri setelah mengantar anaknya ke sekolah. Nama Bambang disebut-sebut terkait kasus pemberian keterangan palsu depan sidang Mahkamah Konstitusi untuk sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah tahun 2010 lalu. Menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol. Ronny Sompie, kasus yang sudah terjadi beberapa tahun silam itu baru ditindaklanjuti kepolisian karena baru mendapat laporan pada tanggal 15 januari 2015 lalu.
 Kasus yang langsung bikin geger ini sepertinya cukup kental nuansa politiknya.
 Pada saat dijemput petugas Bareskrim, Bambang baru saja selesai mengantar anaknya ke sekolah. Penangkapan di tengah jalan ini membuat Bambang terkesan sebagai buruan kelas wahid, padahal mestinya tindakan ini bisa dilakukan dengan lebih etis dengan cara mengirimkan surat panggilan atau menjemput Bambang di kediaman pribadinya. Kemudian, momentum penangkapan Bambang terjadi setelah beberapa waktu lalu KPK menembak insitusi Polri dengan menetapkan Komjen Budi Gunawan, calon tunggal Kapolri sebagai tersangka kasus rekening gendut. Memang ini baru sebatas prasangka. Tentu kebenarannya baru akan terkuak setelah satu demi satu proses hukum dilalui. Sambil menunggu perkembangan lebih lanjut kita berharap kedua institusi yang sama-sama mulia ini tetap mengedepankan profesionalisme masing-masing. Jangan sampai mereka ikut disusupi kepentingan-kepentingan tertentu yang membuat masyarakat semakin resah. Kita berharap yang terbaik bagi Republik tercinta ini. Sampai tulisan ini diturunkan Bambang Widjojanto juga Cicak vs Buaya masih nangkring di trending topic worldwide. Ini sepertinya masih akan terus berlangsung, karena ratusan kicauan tentang kedua topik tersebut masih terus bermunculan. (PG)

Rasa Sakit Itu Perlu

gambar dari: www.brutallyhonest.org
Saat sakit kepala menyerang, kita segera mengutuk penyakit tersebut dan berdoa agar rasa sakitnya segera berhenti. Begitu pula saat perut kita terasa pedih melilit. Kita ingin agar rasa sakit itu segera pergi jauh-jauh. Kalau bisa, jangan pernah ada deh yang namanya rasa sakit.

Padahal rasa sakit itu perlu. Kalau tubuh kita tidak dilengkapi Tuhan dengan mekanisme untuk merasakan “sakit” bayangkan apa yang akan terjadi dengan tubuh kita? Saat syaraf-syaraf di kepala kita menegang untuk memberi sinyal bahwa kita butuh relaksasi, kita tidak menyadarinya karena kita tidak merasa sakit. Ada infeksi di usus yang butuh perhatian segera, tapi karena kita tidak bisa merasakan sakit, maka kita tetap beraktivitas seperti biasa. Atau contoh yang lebih ekstrim, syaraf-syaraf di sekitar jantung tidak bereaksi saat jantung berdetak kencang karena bermasalah, kita tidak menyadarinya sampai jantung kita benar-benar berhenti. Mengerikan bukan?

Rasa sakit merupakan reaksi alami untuk memberitahu ada yang tidak beres di tubuh kita yang butuh penanganan segera. Memang rasanya itu pedih, tidak enak dan tidak nyaman. Pokoknya rasa yang tidak kita inginkan. Namun itulah mekanisme tubuh agar kita segera memperhatikan darimana asal rasa sakit itu lalu memberi penanganan yang diperlukan. Apakah butuh obat segera, penanganan dokter atau terapi lain untuk menyembuhkan penyebab sakit tersebut.

Di luar rasa sakit tubuh, ada juga rasa sakit yang lebih besar impact-nya terhadap hidup kita. Rasa sakit ini seringkali kita namakan “sakit hati”. Rasa sakit itu terjadi saat kita diremehkan oleh orang lain, prestasi kita tidak dihargai oleh atasan di kantor, saat pasangan hidup kita STT (selingkuh tipis-tipis atau tebal-tebal?), saat rekan bisnis kita menipu dan merugikan kita, saat tulisan kita tidak di-HL oleh Admin J dan contoh-contoh lain. Seperti ilustrasi sebelumnya, rasa sakit inipun kita perlukan. Pasti ada yang salah kalau kita tidak sakit hati saat istri selingkuh atau saat kita dirugikan.

Namun untuk rasa sakit hati ini, tentu saja tindak lanjutnya berbeda-beda tergantung dari penyebab sakit hati tersebut. Bisa jadi kita harus mengingkatkan kapasitas pribadi misalnya saat kita diremehkan atau pekerjaan kita tidak dihargai. Bisa jadi kita mesti memupuk rasa legowo dan intospeksi diri terutama saat kita mengalami musibah seperti tertipu rekan bisnis. Bisa jadi pula kita mesti memperbaiki karakter kita saat misalnya istri mulai menunjukan gelagat tidak setia. Setiap permasalahan hidup harus kita hadapi dengan caranya masing-masing.

Kesimpulannya, rasa sakit itu perlu untuk memberitahu kita bahwa ada “sesuatu” dalam kehidupan ini yang membutuhkan perhatian dan perbaikan dari diri kita. Kalau anugerah membuat kita bersyukur, rasa sakit membuat kita semakin memaknai anugerah tersebut. Kedua-duanya adalah cara Tuhan mendewasakan kita.

Senin, 19 Januari 2015

Kebiasaan Buruk di Depan Audiens

gambar dari: blog.judyrodman.com
Seringkali kita diberi kepercayaan untuk tampil dan berbicara di depan khalayak. Tujuannya beraneka ragam.  Untuk mempresentasikan fitur sebuah produk , membentuk opini publik, menjadi narasumber, fasilitator atau mentor, dan tujuan lainnya. Sebelum tampil tentu kita harus mempersiapkan materi yang akan kita bicarakan sebaik-baiknya.  Mungkin termasuk merencanakan syle presentasi/pidato kita sesuai dengan topik pertemuan dan situasi audiens.
Seluruh persiapan berjalan lancar, dan sampailah kita pada waktunya. Materi yang kita bawakan kelihatannya cukup menarik dan audiens kita cukup antusias menyimaknya. Namun tiba-tiba audiens kita mulai terganggu dengan beberapa gerakan spontan kita. Hasilnya mereka mungkin menyukai topik yang kita bicarakan namun tidak terlalu menyukai performance kita. Padahal kita berpikir segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.
Berangkat dari beberapa pembelajaran yang saya ikuti dan best practise selama ini, Berikut ada beberapa habit saat berbicara di depan umum yang dapat membuat penampilan seorang pembicara kurang maksimal di mata audiens.

1.       Body Language
Body language atau bahasa tubuh memegang peranan yang cukup penting dalam hal ini. Coba ingat-ingat seberapa sering anda melakukan hal ini:
1.       Menyilangkan tangan di depan dada, di punggung dan memasukkan tangan ke dalam saku jas atau celana. Kesan dari audiens adalah pembicara menutup diri, atau sedang gugup padalah kita mungkin tidak seperti itu.
2.       Berkacak pinggang. Ini menimbulkan kesan kita menggurui orang-orang di depan kita.
3.       Menunjuk audiens dengan jari telunjuk. Anda pun pasti merasa tidak nyaman diperlakukan demikian. Sebaiknya menunjuk dengan mengarahkan lima jari agar terlihat lebih sopan.
4.       Memperhatikan satu arah terus menerus. Sebaiknya bagi perhatian anda secara merata kepada seluruh audiens  atau anda akan dinilai memiliki perhatian khusus kepada orang  tertentu.
5.       Bertopang dagu, atau bertopang pada meja. Kesan dari audiens adalah kita kurang serius dengan mereka.
6.       Memainkan benda-benda kecil. Kadang tanpa sadar kita memutar-mutar pulpen atau penggaris dengan jemari kita. Hal ini dapat mengganggu konsentrasi audiens.
        
2.       Intonasi/Suara
Hal-hal mengenai Intonasi/suara  yang mengganggu pidato kita antara lain:
1.       Suara terlalu kecil. Namun hal ini dapat diatasi dengan menggunakan sounds system yang memadai. Kebalikannya, jangan sampai suara kita juga terlalu keras. Sesuaikan suara kita yang dihasilkan oleh sound system dengan jumlah peserta dan dimensi ruangan presentasi.
2.       Artikulasi kurang jelas.
3.       Nada bicara yang monoton. Aturlah agar intonasi kita memiliki dinamika yang sesuai.
4.       Berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat.
5.       Terlalu sering mengatakan “Ee....”, “Mm...”. Hampir sama dengan itu, terlalu sering mengucapkan kata-kata tertentu. Misalnya “Oke,”, “Good”, “Ya...” Jangan sampai ada audiens yang menghitung di kertasnya berapa kali anda mengucapkan kata tersebut selama presentasi.

Kadang kita tidak langsung berdiri berbicara di depan audiens tetapi juga mengambil posisi di depan mereka sebagai bagian dari tim yang membawakan materi. Misalnya pada sebuah seminar, talkshow atau kegiatan sejenis. Memang kita tidak langsung mendapat porsi perhatian utama dari audiens tapi jangan lupa kita juga ada dalam wilayah perhatian mereka, sehingga hindari kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dapat mengalihkan perhatian audiens. Misalnya: Menyisir rambut (menggunakan tangan) berkali-kali, mengelus janggut, kumis atau cambang, ngupil atau mengorek-ngorek telinga,  atau malah asyik mengobrol dengan tim yang lain sehingga ekspresi kita saat mengobrol lebih ekspresif dibanding pembicara di depan.

Menjadi pembicara memang tidak mudah. Sebagai pembicara kita dituntut untuk menyampaikan pesan melalui presentasi kita. Namun kadang, konsentrasi mempersiapkan materi presentasi membuat kita melupakan hal-hal kecil seperti yang sudah diuraikan di atas. Sebenarnya cara paling mudah untuk mengetahui apakah ada kebiasaan yang mengganggu audiens atau tidak adalah meminta feedback dari audiens anda. Caranya bisa dengan melakukan evaluasi dari audiens di akhir penampilan. Anda dapat mendesain sendiri format kuisioner untuk evaluasi tersebut. 

Sisihkanlah waktu presentasi anda atau minta sedikit tambahan waktu dari panitia untuk evaluasi ini. Setelah itu simaklah hasil evaluasi dari audiens dan lihatlah hal-hal apa yang mereka sukai atau tidak sukai dari penampilan anda.  

Apabila sudah menjadi kebiasaan, beberapa perilaku mungkin sukar untuk diubah. Tapi untuk menunjang performance dan kebaikan kita sendiri, tidak ada salahnya mulai merubah diri. Tekad dan jam terbang akan sangat membantu. Sehingga lain waktu saat berbicara di depan khalayak, materi yang kita sampaikan diterima dengan baik, dan performance kita ditanggapi dengan baik pula oleh audiens kita.

Jumat, 16 Januari 2015

Menggunakan Reminder untuk Mengelola Multitasking

gambar dari: goalku.com

Saya termasuk orang yang RKP alias memiliki Rentang Konsentrasi Pendek. Akibatnya saya kurang maksimal mengerjakan beberapa tugas sekaligus (multitasking). Padahal volume kerja mengharuskan saya pandai-pandai menyelesaikan beberapa tugas dalam waktu yang hampir bersamaan.

Sore ini akan ada rapat tim diklat. Sementara berjibaku menyelesaikan bahan rapat yang tidak rampung-rampung,  divisi keuangan sudah meminta realisasi biaya untuk segera dilaporkan kepada manajer. Sementara mencari-cari file realisasi biayanya, datang lagi laporan masalah dari kantor cabang yang butuh penanganan segera. Huft... kalau tak pandai-pandai mengelola semua kerjaan itu dan tak kuat jantung bisa-bisa koit mendadak. Hehe.

Menghindari Multitasking

Pada awal meniti karir dahulu, multitasking memang selalu jadi momok. Kalau bisa dihindari sedapat mungkin. Caranya dengan mengeluarkan jurus “1.000 keluhan maut”, atau melempar job kepada rekan kerja lain disertai 1.001 alasan sampai atasan dengan sangat terpaksa mencari orang lain untuk dimintai tolong membereskan job tersebut.

Itu dulu. Tapi seiring dengan usia dan kedewasaan kerja, maka prinsip tersebut perlahan berubah. Saya perlahan menyadari, saat mendapat tambahan job berarti kita diberi kepercayaan oleh pimpinan karena dinilai memiliki kapasitas untuk itu. Sehingga kepercayaan tersebut tidak boleh disia-siakan begitu saja. Walaupun konsekuensinya pekerjaan kita bertambah tapi dengan pengelolaan waktu dan sumber daya yang tepat pekerjaan tersebut pada akhirnya dapat dituntaskan. Memang kadang tidak 100% benar hasilnya, tapi dengan menerima “tantangan” dan mau belajar bekerja lebih baik kita semakin memiliki credit value dari perusahaan c.q pimpinan kita.     

Jadi permasalahan hari ini adalah bagaimana menghindari multitaskingsecara positif. Dalam arti kita harus mencari strategi mengurangi kerja multitasking tersebut tanpa mengurangi kinerja kita. Salah satu kiat menghindari multitaskingyang kadang merepotkan adalah memanfaatkan reminder(pengingat) semaksimal mungkin. Reminderberguna untuk menjadi memori cadangan kita saat serangan pekerjaan mulai berdatangan bak peluru yang dilontarkan mesin gattling di medan perang. Saat itu kita harus pandai memilah pekerjaan, mana yang urgent, mana yang kurang urgent, mana yang deadline-nya paling dekat, mana yang jadi kerjaan utama, mana pekerjaan tambahan, dan seterusnya. Setelah memilah-milahnya jangan lupa menuliskan deadlineatau tenggat waktu dari setiap pekerjaan tersebut. Dengan mengelompokkan pekerjaan plus deadline-nya seperti itu, kita lebih punya gambar besar mengenai tugas kita dan mudah mengatur mana pekerjaan yang menjadi prioritas untuk diselesaikan dan mana yang dapat diselesaikan belakangan.

Mengacu pada ilustrasi saya di atas tadi, jika rapat tim diklat merupakan agenda rutin mestinya bahan rapat nya bisa diselesaikan jauh hari sebelumnya. Kemudian permintaan data biaya dari divisi keuangan juga bisa diselesaikan lebih awal setelah terjadi pembebanan biaya. Sehingga bila ada sesuatu yang urgent terjadi seperti masalah yang datang dari kantor cabang, masalah tersebut bisa langsung menjadi prioritas kita.
Tapi sekali lagi, pengaturan pekerjaan seperti itu baru bisa berjalan efektif jika kita memiliki reminder demi reminder yang diikuti dengan baik.

Memiliki Reminder

Perangkat untuk membuat reminder pun mudah sekali kita dapatkan. Cara paling mudah adalah menggunakan buku agenda untuk mencatat setiap job, rekomendasi kerja, hasil rapat atau apapun yang akan menjadi tugas kita. Tapi kelemahannya dari agenda adalah agenda itu makhluk pasif. Kita yang harus sigap membuka lembar demi lembar agenda itu setiap hari untuk memastikan tidak ada yang kelewatan.

Agar agendanya bisa bernyanyi saat deadlinenya tiba, kita menggunakan reminder yang terintegrasi dengan gadget. Kita hanya perlu mengatur waktu reminder-nya memberi peringatan, usahakan dua tiga hari sebelum deadline pekerjaan (disesuaikan dengan kesulitan kerja). Kemudian mencatat rincian tugas yang harus dikerjakan lalu tambahkan dengan tanggal deadline pekerjaan. That’s it! Semudah mengatur reminder untuk hari ulang tahun orang yang kita cintai, atau mengatur jadwal ketemu seseorang. Setelah itu kita hanya perlu menunggu sambil melanjutkan pekerjaan yang sedang dilakoni saat itu. Hanya saja pastikan alarm atau tool reminder pada gadget bekerja dengan baik. Jangan sampai karena gadgetyang bermasalah, desain kerjaan kita ikut berantakan semuanya.

Saat gadget berbunyi nyaring memberi peringatan dua atau tiga hari kemudian, kita bisa langsung melihat pekerjaan apa yang akan deadline lalu mengatur strategi kerja untuk menuntaskannya. Saat beban pekerjaan mulai berkurang kita juga bisa langsung melihat beban kerja yang ada dalam daftar reminder dan langsung menuntaskannya tanpa perlu menunggu reminder-nya berbunyi lagi.

Komitmen pada Reminder

Hanya ada pantangan yang tidak boleh dilanggar dalam pengaturan kerja model begini. Jangan menunda-nunda. Langsung eksekusi pekerjaannya. Karena dengan menunda hari ini kita akan semakin dipusingkan dengan multitaskingyang akan terjadi besok hari, padahal itu yang ingin kita hindari bukan?

Mengelola tugas demi tugas agar semuanya dapat dituntaskan dengan baik adalah salah satu seni dalam etos kerja. Manfaatkan segala strategi untuk menyederhanakan pekerjaan, tanpa mengurangi kinerja kita. Selamat berkarya (PG) 

Kamis, 15 Januari 2015

Perbedaan Itu Indah


gambar dari: blog.djarumbeasiswaplus.org

Perbedaan itu indah. Bayangkan kalau semua orang bahasanya sama, makanan favoritnya sama, buku bacaannya sama, film favoritnya sama, prinsip hidupnya sama. Wah, dunia bisa jadi tempat paling membosankan sejagad raya.
Untunglah Sang Pencipta sudah mendesain kita sedemikian rupa agar antara yang satu dan yang lain dilengkapi dengan segudang perbedaan. Bukan saja perbedaan tampilan fisik tapi juga perbedaan non-fisik seperti perbedaan pemikiran dan perbedaan karakter. Perbedaan-perbedaan inilah yang membuat kita saling memperkaya satu sama lain.

Di tempat kerja, saya dikelilingi oleh rekan kerja yang beraneka ragam karakter dan cara berpikirnya. Ada yang meledak-ledak kayak knalpot motor, ada yang adem ayem, ada yang hobinya melucu, ada yang sensitif gampang tersinggung, ada yang kritisnya minta ampun dan ada yang cuek kayak bebek lagi galau. Tapi perbedaan itulah yang membuat tim kerja kami jadi penuh dinamika.

Gempuran deadline yang seringkali bikin hampir stress, membuat kami harus mampu menjaga irama kerja tim. Dengan saling melengkapi satu sama lain, kami  pada akhirnya mampu menyelesaikan satu per satu beban kerja tim.

Perbedaan karakter dan pendapat ini paling sering terungkap pada saat meeting. Jika ada masalah yang sedang dihadapi salah satu rekan kerja atau salah satu divisi maka yang lain akan melontarkan ide-ide untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Karena kami berbeda, tentu saja sudut pandang dan pendekatan yang dikemukakan akan beranekaragam. Teman yang meledak-ledak cenderung memberi ide yang blak-blakan dan maunya mengeksekusi segala sesuatu yang ada di depan mata. Teman yang kritis logis suka menimbang-nimbang masalahnya dari berbagai sisi, persis seperti emak-emak yang menawar mangga di pasar. Rekan lain yang sukanya damai-damai saja lebih cenderung untuk mencari solusi yang bisa mengakomodir kenyamanan semua pihak. Masing-masing pihak pun mempertahankan pendapat dengan mengemukakan argumen berpikirnya mulai dari kajian teknis praktis sampai kajian filosofisnya. Bahkan kadang masalah pinjam meminjam staf pun dibahas sampai menggunakan ayat-ayat kitab suci segala.

Pada akhirnya akan muncul banyak alternatif solusi masalah. Malah tambah bingung? Wajar. Tapi paling tidak dengan banyaknya pemikiran dan perbedaan pendapat kita jadi memiliki sudut pandang yang lebih lebar terhadap masalah tersebut. Pengambilan keputusan pun dibuat dengan mempertimbangkan alternatif yang lebih sesuai.

Bayangkan jika pada saat meminta solusi, jawaban dari setiap orang dalam tim samaaa semua. Semua mau main save, atau semua mau dieksekusi tanpa tedeng aling-aling. Bisa jadi pengambilan keputusan akan berjalan timpang atau solusi terhadap masalah jadi tidak akurat.

Oleh karena itu perbedaan pendapat adalah rahmat dalam komunitas saya. Tidak ada perbedaan pendapat, malah bisa jadi masalah.
Hanya yang perlu diperhatikan adalah cara mengemukakan sanggahan, atau cara menyikapi perbedaan tersebut. Tidak perlu menggunakan cara-cara memaksa, mematikan karakter yang lain apalagi sampai kontak fisik. Toh kita memiliki orientasi yang sama, bagaimana mencari solusi terhadap masalah rekan kerja kita. Kadang-kadang jika attitude itu dilupakan, ada rekan kerja yang sampai uring-uringan dan tidak saling menyapa berjam-jam karenanya. Tapi begitu sudah saling klop lagi, waduh yang lain jadi dicuekin. Well, begitulah cara hidup berkomunitas mengasah kita.


Sekali lagi, perbedaan itu indah. (PG)       


Rabu, 14 Januari 2015

Kiat-kiat Mengelola Kredit

gambar dari: gigaom.com


Pemanfaatan kredit adalah bagian dari  manajemen keuangan keluarga. Sebagaimana layaknya investasi atau tabungan, kredit adalah produk keuangan yang berguna untuk mengefektifkan pengelolaan arus kas keluarga.

Jika tabungan berguna untuk menjaga agar aset kita tidak digerogoti inflasi dan mengangkat daya beli kita di masa yang akan datang, pinjaman berguna untuk mengatasi masalah daya beli kita saat ini. Sebagai contoh: Rudi, seorang supervisor penjualan memiliki pendapatan Rp 6.500,000,- per bulan.  Rudi ingin memiliki sebuah mobil Xenia seharga Rp 125.000.000,- Jika Rudi ingin membeli mobil itu secara tunai, maka dia harus menabung dahulu pendapatannya selama kurang lebih 19 bulan. Itu pun dengan asumsi seluruh pendapatannya ditabung, padahal Rudi pasti juga mesti mengalokasikan pendapatannya untuk pos-pos kebutuhan yang lain.

Masalah ini dapat diselesaikan dengan pemanfaatan kredit. Jadi Rudi cukup mencari kreditur yang relevan dan mengajukan permohonan kredit. Apabila kreditur menyetujui pinjamannya, dia pun dapat memiliki mobil tersebut dengan hanya membayar Down Payment seperlunya dan sisa harga mobil tersebut dibayar sebagai kewajiban bulanan sesuai perjanjian dengan kreditur.

Dengan demikian pemanfaatan produk kredit  dapat mengatasi keterbatasan daya beli kita saat ini. Tapi jangan lupa kredit akan mengurangi daya beli kita di masa yang akan datang karena kita harus menyisihkan sebagian pendapatan untuk membayar angsuran plus bunga kreditnya. Sehingga sebelum mengambil kredit, kita mestinya sudah menghitung potensi keuangan kita agar dapat dipastikan pendapatan setiap bulannya cukup untuk membayar kewajiban kredit ini dan memenuhi kebutuhan keuangan kita yang lain.

Oleh karena itu, kredit ini seperti pisau bermata dua untuk orang-orang yang kurang bijak mengelola keuangannya. Di satu sisi, kredit kelihatannya sangat membantu, namun di sisi yang lain bila tidak cermat menghitung potensi keuangan maka yang terjadi adalah kita akan kewalahan dengan tagihan-tagihan kredit yang datang. Godaan kredit paling besar datang dari penggunaan kartu kredit. Jika tidak digunakan secara bijak, kartu kredit dapat membawa anda ke dalam masalah keuangan yang pelik. Saat presentasikan kartu kredit kita akan diladeni oleh marketing berwajah manis dan ramah, namun saat kita jatuh dalam kegagalan pembayaran, gantian debt collector garang dan suka mengganggu  yang akan meladeni kita.

Jadi berhati-hatilah mengelola kredit anda. Berikut tips manajemen kredit pribadi yang mudah-mudahan dapat berguna bagi anda:
1.       Sebelum mengambil pinjaman pada kreditur, tanyakan karakteristik produk pinjaman tersebut. Bagaimana sistem penghitungan bunga pinjamannya (flat, efektif, dll), adakah kemungkinan pembayaran diperbesar atau dipercepat, jika terjadi pinalti bagaimana perhitungan pinaltinya, dan hal-hal lain yang anda rasa perlu ditanyakan. Jika memungkinkan mintalah kreditur memberikan printoutilustrasi pembayaran dari pembayaran pertama sampai pembayaran selesai.
2.       Jika karakteristik produk kreditnya memungkinkan atau menggunakan sistem bunga menurun, bayarlah angsuran pokok lebih besar dari standar pembayaran untuk mempercepat pembayaran angsuran dan mereduksi bunga pinjaman bulanannya.  
3.       Setelah pendapatan bulanan diterima, sisihkan terlebih dahulu untuk membayar kewajiban atau tagihan anda sebelum menyisihkan untuk pos keuangan yang lain. Jangan terbalik.
4.       Sedapat mungkin hindari menunda pembayaran agar tidak terjadi pinalti atau denda. Ini merugikan anda dan menguntungkan kreditur.
5.       Sebaiknya anda hanya menggunakan satu kartu kredit agar anda dapat fokus menyelesaikan tagihan-tagihan anda. Jika sudah terlanjur memiliki lebih dari satu kartu kredit, anda dapat mengkonsolidasikan semua tagihan kartu kredit yang lain kedalam satu kartu kredit. Atau strategi lainnya, anda memberi prioritas untuk menyelesaikan kewajiban pada kartu kredit yang memiliki tagihan paling besar.

Dalam modul pendidikan Financial Literacy yang dikembangkan Credit Union kami, tidak semua permasalahan keuangan diselesaikan dengan kredit. Karena kredit itu menguras pendapatan kita di masa yang akan datang, maka sebaiknya kredit tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif seperti misalnya: Pembelian barang elektronik, pengadaan inventaris rumah, apalagi belanja pakaian, dll. Untuk hal-hal seperti ini, mestinya sumber dananya dari tabungan.

Kredit sebaiknya digunakan untuk kebutuhan produktif dan peningkatan aset. Untuk kebutuhan produktif misalnya kredit untuk modal usaha. Saat berusaha,  modal tersebut diputar untuk mendatangkan keuntungan usaha. Keuntungan usaha  tersebut yang digunakan untuk membiayai tagihan kreditnya. Jadi dengan kata lain, kredit kita yang membiayai dirinya sendiri. Kembali pada contoh Rudi di atas, jika mobil Xenia yang diperolehnya secara kredit tadi juga digunakan untuk usaha misalnya rental mobil, maka keuntungan dari usaha tersebut dapat membantu membayar tagihan bulanannya. Kredit untuk peningkatan aset misalnya misalnya kredit tanah dan rumah (KPR). Dengan KPR, di neraca keuangan pribadi, di sebelah passiva, liabilitas berupa kredit tanah dan rumah itu dikompensasikan dengan pertambahan aset di sebelah aktiva. Keuntungannya, nilai ekonomi tanah dan rumah umumnya selalu meningkat.

Namun yang paling penting bagaimanapun paradigma anda mengenai kredit ini, Jadilah debitur yang baik. Selain kemampuan membayar dan agunan, karakter debitur juga akan menjadi pertimbangan dalam analisis kredit. Jika anda sudah memiliki trademark sebagai tukang ngemplang, kreditur akan memasukkan anda ke dalam daftar hitamnya dan anda akan menemukan kesulitan jika akan mengajukan permohon kredit di lain waktu. Apalagi bila kreditur itu memiliki berbagi daftar hitam dengan kreditur atau lembaga keuangan yang lain. Sebaliknya, jika anda memiliki prestasi pembayaran yang baik, kreditur tidak akan segan-segan menerima anda di lain waktu, malah biasa anda yang akan diuber-uber dan diminta untuk mengajukan kredit lagi. (PG)

Eye Contact Untuk Menunjang Presentasi

Masih ingat saat kita mendapat tugas menjelaskan materi pelajaran di depan kelas pada masa-masa SD atau SMP dulu? Untuk anak-anak yang gampang gugup dan kurang percaya diri menatap isi ruangan, bapak atau ibu guru kita biasa memberi tips agar jangan melihat persis di mata teman-teman kita (yang diasumsikan menjadi penyebab kegugupan itu). Melihatnya kira-kira sejengkal di atas kening mereka. Bisa jadi masih ada yang mempraktekkanya sampai sekarang. Tidak salah memang strategi seperti itu, apalagi untuk anak-anak pemula. Namun bila memungkinkan kebiasaan itu dihilangkan karena melihat langsung ke mata audiens kita atau “eye contact”  memberikan lebih banyak manfaat kepada presentator. Jika kita sudah terbiasa dengan strategi pertama tadi, mungkin awalnya sulit namun jika terus dicoba pasti akan terbiasa.
Gambar dari: www.greenroomspeaker.com


Eye contact adalah bagian dari komunikasi non-verbal seorang presentator dan audiensnya. Berdasarkan riset Prof. Albert Mehrabian seorang pakar psikologi, ternyata lawan bicara kita lebih memperhatikan bahasa tubuh kita dibanding perkataan kita. Katakanlah kemampuan meraih seluruh perhatian lawan bicara kita adalah 100%. Maka bahasa tubuh meraih perhatian 55% disusul dengan intonasi suara kita sebanyak 38% dan rupanya kata-kata yang kita ucapkan hanya 7% saja. Dengan kata lain,  komunikasi non-verbal termasuk bahasa tubuh memegang peranan yang cukup penting untuk meraih respek dari pendengar dibanding kemampuan mengolah kata-kata belaka.

Eye contact menjadi bagian yang penting dari komunikasi non-verbal karena mata merupakan jendela jiwa setiap orang. Ekspresi, suasana batin, dan moodseseorang amat mudah terbaca lewat sorot matanya. Saat membangun interaksi dengan orang lain lewat eye contact, seseorang mampu menganalisa situasi yang terjadi dengan lawan bicaranya sehingga dapat memilih ekspresi atau kata yang tepat dalam percakapan.

Dalam sebuah presentasi, eye contact memungkinkan seorang presentator memantau respon audiens terhadap materi yang dibawakannya. Dengan mengetahui apakah peserta antusias atau tidak tertarik pada materi tersebut, presentator dapat mengelola presentasinya dengan lebih efektif. Presentator dapat mengetahui apakah dia harus berhenti dan memberikan umpan balik, apakah dia harus mengganti metode presentasi, atau memberikan ice breaking. Eye contactdengan audiens juga membantu mmembangun respek dari audiens. Adakalanya presentasi kita diabaikan oleh audiens oleh karena mereka juga merasa diabaikan oleh presentator. Dengan demikian membagi perhatian secara merata kepada seluruh peserta juga penting. Memang kadang  pada beberapa presentasi, misalnya presentasi bisnis, dari sejumlah peserta hanya ada beberapa orang kunci pengambil keputusan. Namun presentator yang bijak, tidak hanya menitikberatkan perhatiannya pada orang-orang tersebut saja karena para pengambil keputusan pun berkonsultasi dengan orang-orang pada level dibawahnya yang mungkin saja tidak tertarik dengan presentasi kita karena mereka merasa diabaikan.   

Bila dilatih secara maksimal, eye contact juga membantu membangun dinamika presentasi lewat ekspresi-ekspresi yang dipancarkan kepada audiens. Sering kali dengan materi yang panjang, presentasi kita jadi terasa datar sehingga kurang berbekas pada ingatan audiens. Strategi yang dapat ditempuh presentator mengantisipasi hal tersebut adalah memberikan penekanan pada bagian-bagian yang penting lewat perubahan ekspresi. Oleh karena itulah saat mengikuti presentasi yang dibawakan beberapa presentator handal, mereka sering kali membuat emosi kita naik turun mengikuti dinamika presentasi mereka. Saat itulah mereka telah berhasil mengungkapkan ekspresinya dan membangun chemistry dengan audiens lewat eye contact dan bahasa tubuh lainnya. Hampir bisa dipastikan, pesan yang ingin disampaikan fasilitator dapat mengendap dalam benak audiens. Dengan demikian sebuah presentasi sebagai media komunikasi dan pembawa pesan telah berhasil mencapai tujuannya.

Satu-satunya jalan untuk melatih eye contact adalah praktik atau simulasi. Saat bercakap-cakap, tataplah langsung mata lawan bicara anda. Perhatikan perubahan ekspresi, perubahan ukuran pupil matanya bila memungkinkan sambil mendengar kata-katanya. Kemudian tanggapilah dengan cara yang sama, gunakan sorot mata anda secara alami dan biarkan percakapan anda berjalan sebagaimana mestinya. Cara lain yang boleh anda coba apabila kebetulan anda memiliki anjing peliharaan, adalah saat bercanda atau memberikan instruksi pada anjing anda, tataplah matanya. Kedengaran aneh memang, tetapi anjing adalah salah satu hewan yang mampu membaca bahasa tubuh manusia, karena itulah seekor anjing tahu apa orang asing yang berdiri di depannya tipe orang yang bisa ditakut-takuti atau tidak. 


Apabila dalam peristiwa sehari-hari kita sudah terbiasa memaksimalkan eye contact dengan orang-orang di sekitar kita, maka memaksimalkan eye contact saat memberikan presentasi di depan sejumlah orang tidak akan menjadi masalah besar lagi. Memperbanyak jam terbang presentasi juga dapat membantu kita. Pada akhirnya, sasaran akhir sebuah presentasi adalah menanamkan pesan kita pada benak segenap audiens. Penggunaan eye contact, adalah salah satu strategi yang bila digunakan secara tepat dapat membantu mengefektifkan presentasi tersebut. Selamat mencoba.  (PG)

Mengajar Orang Dewasa, Susah-susah Gampang





Mengajar sebagai sebuah aktivitas transfer mentransfer ilmu memiliki tantangannya sendiri. Para pengajar pasti sangat paham hal ini. Oleh karena itu ada ilmu khusus bahkan jenjang pendidikan khusus yang harus dipelajari oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang ajar mengajar.
Saya sama sekali tidak memiliki basic pendidikan khusus tersebut tapi tuntutan job mengharuskan  saya ikut memikirkan strategi pendidikan dan pelatihan di Credit Union kami. Mulai dari modul dan  jenis-jenis diklat yang dibutuhkan oleh anggota Credit Union, sampai evaluasi efektifitas diklat terhadap perkembangan Credit Union kami.

Resistensi


Salah satu penyebab masalah yang biasa muncul di lapangan adalah peserta diklat yang didominasi oleh orang dewasa dan tua. Jurus-jurus mengajar secara paedagogis tidak berlaku disini. Apalagi bila fasilitator atau orang yang berdiri di depan kelas adalah orang yang usianya jauh lebih muda, bisa terpaut beberapa tahun, sepuluh sampai dua puluh tahun. Tentu muncul “mental block” yang disebabkan mereka menganggap orang yang lebih muda masih minim pengalaman dan wawasan.
Kalau materi yang dibawakan berbentuk sosialisasi kebijakan, atau hal-hal yang sifatnya teknis praktis pada umumnya tidak terjadi banyak resistensi dari peserta.  Toh materinya sudah sakleg seperti itu. Namun masalah seringkali muncul saat materi yang dipresentasikan adalah materi yang berupa konsep, perubahan mindset, penyamaan persepsi atau materi-materi sejenis. Kalangan orang tua apalagi yang sudah cukup sepuh merasa mereka tidak perlu lagi diajari hal-hal semacam itu karena mereka sudah cukup kenyang makan asam garam kehidupan ini. Indikator resistensi mereka yang langsung kelihatan misalnya enggan menyimak penjelasan, suka protes tanpa dasar yang jelas, enggan mengikuti instruksi fasilitator atau suka memotong ucapan fasilitator saat sesi berlangsung. 

Misalnya saat fasilitator membawa materi menetapkan tujuan keuangan dengan merancang target-target kehidupan, satu dua peserta terlihat enggan mengikuti instruksi untuk menuliskan target kehidupan mereka pada kertas kerja yang dibagikan. Alasannya tidak perlu lagi menuliskan target kehidupan karena usia sudah lanjut. Padahal, selama masih hidup kita pasti selalu punya perencanaan untuk hari esok bukan? Atau contoh lain, fasilitator membawa materi konsep menabung yang baik yaitu pendapatan dikurangi tabungan, sisanya barulah digunakan untuk belanja atau kebutuhan lain. Belum seluruh konsep dipaparkan, sudah ada yang protes.  “Zaman sekarang susah kalau mau menabung model begitu. Harga barang pada naik, sementara pendapatan begitu-begitu saja,” kilah beberapa orang itu.

Jangan bayangkan tim fasilitator kami secanggih orang-orang yang memang terlahir sebagai motivator seperti Tung Desem Waringin, Mario Teguh atau Merry Riana. Sebagian besar pelatihan kami, khususnya untuk anggota hanya difasilitasi oleh aktivis atau manajemen potensial yang direkrut secara khusus. Tugas utama mereka adalah berbagi dan menduplikasi materi-materi yang lebih dulu disodorkan kepada mereka. Tentu ada pelatihan-pelatihan khusus untuk selalu mengasah kompetensi fasilitator-fasilitator ini. Tapi berhadapan dengan situasi-situasi khusus seperti yang sudah dicontohkan di atas, memerlukan tidak hanya skillpresentasi tapi juga jam terbang yang memadai. Apalagi budaya ketimuran kita menyangkut penghargaan terhadap orang tua masih cukup mengakar kuat. Sehingga jika tidak mampu diatasi secara tepat, situasi resistensi ini dapat membuyarkan konsentrasi fasilitator.

Strategi Andragogi

Menjawab hal tersebut, modul diklat harus dibuat untuk membantu fasilitator memberikan pendekatan yang sesuai untuk orang dewasa dan tua. Jurus-jurus andragogi harus lebih banyak digunakan agar pesan dari setiap materi sampai ke pikiran peserta lalu menukik masuk ke hati mereka tanpa resistensi yang berlebihan.

Oleh karena itu pada materi-materi tertentu metode ceramah ditinggalkan. Fasilitator mesti lebih memberi ruang kepada peserta untuk berdiskusi, mengeluarkan isi kepala mereka dengan lugas, lalu mereka saling menanggapi satu sama lain dan memberi kesimpulan. Fasilitator jadi polisi lalu lintasnya. Memberi rambu-rambu yang harus diikuti seperti peraturan selama sesi berlangsung dan pertanyaan-pertanyaan diskusi yang terkait dengan materi. Pertanyaan-pertanyaan ini harus di-settingsedemikian rupa agar alur berpikir peserta lebih runtut sehingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan yang diinginkan. Kemungkinan peserta untuk menjadi resisten berkurang, karena setiap peserta diberi ruang untuk berpendapat dalam atmosfir diskusi yang sudah dikondisikan. Pada akhir sesi fasilitator cukup menegaskan kesimpulan tersebut dan menghubungkannya dengan tujuan materi.

Metode diskusinya bisa langsung dilakukan secara pleno, atau dibuat berjenjang, diawali dengan diskusi dalam kelompok-kelompok kecil lalu hasil diskusi tersebut dilaporkan oleh wakil kelompok untuk ditanggapi seluruh kelas.
Strategi andragogi inilah yang kemudian terbukti manjur diterapkan. Apalagi cara belajar orang dewasa sudah jauh berubah dibanding cara belajar semasa sekolahan dulu. Orang dewasa lebih suka menghubungkan materi-materi diklat yang diterima dengan pengalamannya. Orang dewasa juga lebih suka menerima materi yang dekat dengan dunianya.

Dengan memposisikan mereka sebagai subjek bukan semata objek penerima materi, mereka akan lebih membuka diri terhadap masukan dan lebih tergugah menerima materi yang disampaikan. Kembali pada contoh diatas, ketimbang langsung memberi ceramah mengenai konsep menabung yang ideal. Fasilitator dapat mengajak peserta diklat melakukan diskusi kecil. Pertanyaannya misalnya seperti ini: Mana konsep menabung yang ideal menurut anda: 1) Pendapatan à Belanja à Menabung, atau 2) Pendapatan à Menabung à Belanja? Apa alasannya? Lalu dapat ditambahkan pertanyaan seperti ini Bagaimana kiat-kiat mewujudkan cara menabung yang ideal tersebut?

Nah, dengan mengajukan pertanyaan tersebut, fasilitator membuat pikiran peserta diklat bergerak aktif memikirkan jawabannya. Untuk pertanyaan pertama sebenarnya memang kelihatan jelas yang mana jawabannya. Tapi cara ini lebih memanusiakan dibanding langsung mencekoki otak peserta dengan jawabannya. Pertanyaan kedua mengarahkan peserta untuk memutar kembali film kehidupannya, siapa tahu ada pengalaman-pengalaman yang bisa digunakan sebagai jawaban. Bisa juga peserta jadi berpikir kiat apa saja kira-kira yang bisa dilakukan untuk mewujudkan strategi menabung tersebut. Dengan demikian penolakan terhadap konsep hampir pasti tidak ada lagi. Sekalipun fasilitator usianya mungkin jauh lebih muda. Pada bagian kesimpulan, fasilitator tinggal menegaskan dan menambahkan bila perlu. That’s it.


 Tapi bagaimanapun juga dunia ajar mengajar itu begitu kompleks. Pelaku-pelaku yang berkecimpung dalam dunia itu dimatangkan bukan saja dengan materi dan konsep, tapi juga dengan pengalaman demi pengalaman. Sesuatu yang kelihatan ideal di buku manual, mungkin jadi tidak ideal begitu praktik mengajar dilakoni. Begitu pula sebaliknya. Tidak sedikit strategi-strategi pengajaran yang tepat ditemukan saat berada di lapangan. Strategi ini kemudian dikembangkan lagi melalui kajian-kajian dan penelitian yang juga melibatkan orang-orang di belakang meja, lalu diuji kembali di lapangan dan seterusnya. Demikian siklus manajemen pengetahuan. (PG)   

Kapal Tangkapan Sepanjang Lapangan Sepakbola

Kapal MV. HAI FA. Gambar dari: financial.detik.com

Gambar di atas adalah penampakan Kapal MV. HAI FA, hasil tangkapan Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut. Kapal berbobot 4.306 Gross Ton ini memiliki panjang 99 meter. Sebagai perbandingan, panjang lapangan sepakbola standar berukuran 100 meter. Ini menjadikannya kapal tangkapan terbesar sepanjang sejarah RI. Diduga kapal tremper (pengangkut) ini digunakan untuk menampung hasil ilegal fishing dari kapal-kapal penangkap yang lebih kecil sebelum menjualnya ke luar wilayah RI.

Saat dijumpai awak media di Gedung Mina Bahari I Jakarta, Menteri Susi Pudjiastuti mengatakan kepemilikan kapal ini rancu karena kapal raksasa ini sudah tiga berganti bendera. Pada tahun 2004 menggunakan bendera Tiongkok, pada tahun 2006 berbendera Panama dan pada saat ditangkap di pelabuhan Wanam, Merauke Desember 2014 lalu menggunakan bendera Indonesia.

Ibu Susi mengatakan penggunaan bendera wilayah negara yang dilewati memang sudah jadi modus kapal-kapal pencuri ikan untuk mengelabui petugas keamanan laut setempat. “Kapal dari luar Indonesia tetapi berbendera Indonesia. Biasanya di dalam ada 1 orang bangsa Indonesia yang bisa bicara bahasa Indonesia. Mereka dipakai sebagai tukang cuci piring, kapten dan radioman yang selalu standby” papar Ibu Susi kepada media sebagaimana dikutip portal detik.com.

Walau berbendera Indonesia, de facto ABK kapal MV. HAI FA yang berjumlah 23 orang seluruhnya berkewarganegaraan Tiongkok sehingga kapal tersebut dinyatakan tidak laik operasi.
Saat diminta keterangannya mengenai potensi kerugian yang ditimbulkan dari operasional kapal tersebut, Susi mengatakan saat ditangkap kapal MV. HAI FA mengangkut 900 Ton udang dan ikan serta 66 ton ikan hiu martil dan hiu koboi. Jika dihitung kasar saja 1 Kg ikan dihargai US$ 1, maka potensi kerugiannya mencapai 10 miliar rupiah. Selama tahun 2014 saja, MV. HAI FA telah tujuh kali mengangkut ikan dari Indonesia. Berarti selama tahun 2014 potensi kerugian yang diderita RI sebesar 70 miliar rupiah. Itu untuk satu kapal tremper saja. Selama ini bisa ada ratusan kapaltremper illegal yang hilir mudik di perairan Indonesia.

Jadi tidak salah kalau Ibu Susi mengatakan selama ini triliunan kekayaan laut Indonesia hilang dibawa asing. Juga tidak heran Ibu Susi berusaha mati-matian menjegal maling-maling ikan di teritori laut kita.

Sampai saat ini kementerian KKP masih mengusut kepemilikan rancu dari kapal MV. HAI FA ini. Kabar terakhir Kementerian KKP telah meminta bantuan TNI AL untuk mengawal Kapal MV. HAI FA sampai ke dermaga Lantamal IX Ambon untuk menunggu proses berikutnya. (PG)


also posted at kompasiana.com