![]() |
| gambar dari: jbrcommunity.org |
Lihatlah sebuah lilin yang menyala di tengah kegelapan. Sekalipun kegelapan jauh lebih besar dari pendar cahayanya, kegelapan itu tidak bisa menguasainya. Cahayanya, sekalipun kecil tetap menjadi sumber penerangan di sekitar lilin. Cahaya yang kecil itu, bisa menimbulkan perbedaan nyata antara terang dan gelap.
Dengan memancarkan cahaya, sebenarnya dia sedang mengorbankan dirinya sendiri karena cahaya tersebut perlahan membakar seluruh tubuhnya. Mulai dari ujung, tengah, sampai seluruh batang lilin tersebut lebur hingga cahayanya pun padam. Pada saat padam kegelapan kembali berkuasa.
Maka sebelum seluruh lilin lebur, mesti ada lilin lain yang digunakan untuk meneruskan cahayanya. Lilin tersebut berguna menggantikannya menerangi ruangan gelap tadi, saat lilin pertama padam. Begitu pula jika lilin kedua habis lebur, maka lilin ketiga harus menggantikannya.
Akan lebih baik lagi jika cahaya tersebut tidak hanya dimiliki satu lilin. Sekiranya dalam ruangan tersebut ada lebih banyak lilin yang dinyalakan, maka cahaya tersebut akan menjadi jauh lebih kuat dari gelap. Semakin dibagikan, cahaya tersebut semakin berbalik menguasai kegelapan.
Setiap dari kita pun bisa diibaratkan seperti sebuah lilin kehidupan. Disekitar kita pasti selalu ada “kegelapan”. Implementasinya macam-macam. Penipuan, hiburan tak sehat, Korupsi, dan lain-lain yang semuanya berakar dari sifat egoisme dan egosentris kita. Tapi melawan kegelapan dengan kegelapan bukan cara yang bijak, karena dengan demikian kegelapan akan semakin berkuasa.
Melawan kegelapan harus dengan terang. Melawan kejahatan dengan kebaikan. Dengan bebuat baik sekecil apapun, kita telah menjadi cahaya bagi orang lain. Sekecil apapun, kebaikan tersebut pasti berguna seperti satu pendar cahaya ditengah kegelapan. Sekelam apapun hidup kita, satu kebaikan dapat membawa perbedaan yang besar.
Kebaikan yang tulus adalah lawan dari egoisme karena dengan kebaikan tersebut, kita sedang mengorbankan diri kita seperti lilin yang membiarkan dirinya lebur dimakan cahayanya.
Jika setiap orang di luar sana mau berbuat kebaikan yang sama, maka semakin banyak “lilin” yang dinyalakan. Dengan demikian “kegelapan” pun perlahan-lahan akan sirna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar