Senin, 30 Maret 2015

Mengapa Utang Tidak Pernah Habis?


Rasanya sebagian besar orang pernah terlibat dengan urusan utang piutang. Kalau ada survei yang menghitung berapa banyak pembaca yang saat ini sedang memiliki pinjaman (pinjaman dari  perbankan, koperasi, lembaga pembiayaan atau pinjaman dari teman, tetangga dan keluarga), Saya yakin lebih banyak  yang memiliki pinjaman dibanding yang tidak memiliki pinjaman.

Sebenarnya pinjaman juga adalah salah satu bagian dari strategi pengelolaan arus kas keluarga, selama pinjaman tersebut dikelola secara bijak.

Namun adakalanya, utang berbalik menjadi jerat seperti labirin yang memaksa kita untuk masuk semakin dalam sehingga semakin sulit menemukan jalan keluarnya. Untuk utang produktif pada umumnya tidak akan menjadi masalah, karena pinjaman tersebut dapat membiayai dirinya sendiri. Lain halnya dengan pinjaman yang bersifat konsumtif. Robert T. Kyosaki menyebut pinjaman konsumtif sebagai “utang jahat” karena melibatikan diri dengan pinjaman konsumtif membuat kita merampas pendapatan kita di masa depan untuk memuaskan keinginan kita hari ini.

Ada beberapa kebiasaan yang membuat masalah utang tidak pernah beranjak jauh-jauh dari kita. Beberapa penyebabnya antara lain:

 Menambah Utang Baru
Utang lama masih tersisa banyak namun kita tergoda untuk membuat utang baru. Jika utang baru tersebut tidak menggerus pendapatan, mungkin tidak akan menjadi masalah berarti. Namun bagaimana jika dengan menambah pinjaman baru, total saldo pinjaman kita juga meningkat sehingga kita semakin kewalahan membayar tagihan-tagihannya. Jangan lupa saat membayar utang, kita harus membayar pokok plus bunga pinjaman. Jadi semakin besar saldo pinjaman, semakin besar pula kewajiban kita. Menutupi pinjaman lama dengan pinjaman baru atau gali lobang tutup lobang juga sama saja dampaknya.

Menunda pembayaran
Sebenarnya menunda kewajiban hanya memindahkan masalah hari ini ke hari esok. Padahal hari esok juga sudah memiliki masalah yang harus kita hadapi. Jadi sedapat mungkin bayarlah pinjaman tepat waktu. Apalagi beberapa lembaga keuangan memberikan pinalti untuk setiap keterlambatan pembayaran debiturnya yang jumlahnya semakin tinggi seiring semakin lamanya keterlambatan pembayaran si debitur. Pinalti ini cukup merugikan.

 Membayar Minimal
Jebakan lain dalam jerat utang adalah pembayaran angsuran minimal. Untuk pinjaman dengan sistem pembayaran flat dan anuitas mungkin kita tidak diberi banyak kebebasan untuk memilih besaran angsuran setiap periode pembayaran. Namun untuk sistem pembayaran efektif, kita dapat membayar lebih besar dari standar pembayaran angsuran minimal yang diwajibkan. Dengan membayar angsuran minimal kita hanya akan memperpanjang jangka waktu pelunasan utang.

 Kredit dengan Bunga 0%
Seringkali kita terpesona dengan promo seperti ini dan promo kredit berbunga lunak lainnya yang seringkali digunakan pada iklan kredit gadgetdan barang-barang mewah.  Jika tergoda, akhirnya kita pun jatuh ke dalam jerat utang konsumtif. Memang pada umumnya jangka waktu pembayaran untuk kredit seperti ini tidak lama, hanya 6 bulan sampai satu tahun. Tapi jika kita sering-sering terlibat dengan utang seperti ini, kita juga tidak kunjung keluar dari belitan utang.

 Utang pada orang dekat
Pinjaman pada keluarga, tetangga, atau teman dekat memang benar-benar tanpa bunga. Tapi tak jarang karena tidak diikat oleh akad kredit seperti pinjaman pada lembaga keuangan, kita jadi melalaikan pembayarannya. Ini juga yang menyebabkan beberapa orang jadi doyan pada jenis utang yang satu ini sehingga tanpa sadar mereka semakin jauh tenggelam dalam utang. Orang-orang terdekat kita juga mungkin tidak akan segera menagih kalau mereka juga tidak membutuhkan dana tersebut segera. Tapi selagi masih diberi judul “utang”, kita masih memiliki kewajiban yang harus kita penuhi.

Gaya hidup yang tidak sesuai
Jika pendapatan anda sebesar Rp 3.500.000, per bulan mestinya biaya gaya hidup anda tidak lebih dari Rp 3.500.000, per bulan. Jika biaya gaya hidup anda lebih dari itu berarti anda mesti mendatangkan sumber pendapatan tambahan. Jika tidak, kekurangan pendapatan tersebut ditutupi dari utang atau kredit. Gaya hidup seperti inilah yang menyebabkan beberapa orang terus menambah koleksi kartu kreditnya, dan terus jatuh semakin dalam dalam jerat utang.  

Masih ada penyebab-penyebab lain yang tidak bisa diramalkan seperti misalnya penurunan pendapatan yang terjadi tiba-tiba yang membuat kita harus bernegosiasi dengan kreditur dan merestrukturisasi jangka waktu pinjaman menjadi lebih lama. Namun pada umumnya sebagian besar penyebab kita tidak juga keluar dari jerat utang jahat adalah kebiasaan konsumtif kita dalam memenuhi keinginan: “Ambil sekarang, bayar kemudian.”


Jadi langkah pertama yang harus dilakukan untuk keluar dari labirin jerat utang adalah belajar mengelola pinjaman dengan merubah gaya hidup. Merubah gaya hidup pun bukan pekerjaan yang mudah, karena berkaitan dengan perubahan mindset. Dengan menggeser mindset ke arah yang lebih produktif mungkin saja kita tetap berada tidak jauh dari utang. Tapi paling tidak kita telah memperlakukan utang dengan lebih bijak, bukan sebagai sarana memuaskan keinginan belaka tapi menjadi bagian dari cara untuk memaksimalkan pengelolaan keuangan keluarga. Jauhi utang jahat dan bangunlah utang produktif. (PG)

__________________

ilustrasi gambar dari: www.familyaware.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar